Senin, 19 October 2026 05:23 UTC

Mochamad Asrofi, dosen Fakultas Teknik Universitas Jember (UNEJ), saat ditemui di kampusnya, Senin, 19 Oktober 2026. Foto: Dok Humas Unej
JATIMNET.COM, Jember – Dosen Universitas Jember (UNEJ), Dr. Ir. Mochamad Asrofi, S.T., IPM., ASEAN Eng., membagikan strategi membangun karier sebagai peneliti sejak bangku kuliah. Pengalaman tersebut ia bagikan seiring namanya masuk dalam daftar World’s Top 2% Scientists periode 2023–2026, yang memuat ilmuwan berpengaruh dunia.
Asrofi menekankan bahwa perjalanan menjadi peneliti tidak berlangsung secara instan. Mahasiswa perlu memiliki arah penelitian yang jelas, tekun mengembangkan kompetensi, serta aktif terlibat dalam kegiatan riset sejak dini.
Menurutnya, mahasiswa dapat memulai langkah tersebut dengan mengenali bidang yang diminati, menyusun peta jalan atau roadmap penelitian, dan menjalin komunikasi dengan dosen yang memiliki keahlian sesuai bidang tersebut.
“Bagi saya, yang terpenting adalah memiliki arah penelitian yang jelas dan mengembangkannya secara berkelanjutan. Sejak 2020, saya berfokus pada biokomposit berbasis limbah pertanian. Seiring perkembangan penelitian, aplikasinya semakin luas, mulai dari kemasan ramah lingkungan hingga filamen untuk teknologi 3D printing,” ujarnya.
Asrofi menjelaskan, konsistensi dalam mengembangkan satu bidang penelitian dapat membantu mahasiswa membangun kompetensi secara bertahap. Fokus tersebut juga memungkinkan peneliti mengembangkan hasil riset sebelumnya menjadi penelitian lanjutan yang memiliki manfaat lebih luas.
Ia menyarankan mahasiswa tidak hanya mempelajari teori di ruang kuliah, tetapi juga mencari kesempatan untuk terlibat langsung dalam kegiatan penelitian. Salah satu caranya dengan berdiskusi bersama dosen yang relevan atau bergabung sebagai asisten peneliti.
Pengalaman tersebut dapat membantu mahasiswa memahami proses penelitian, mulai dari merumuskan masalah, menentukan metode, melakukan pengujian, hingga menyusun hasil penelitian menjadi publikasi ilmiah.
Asrofi mengakui, dirinya juga tidak langsung mengenal dunia publikasi ilmiah sejak awal menempuh pendidikan tinggi. Ia baru mengenal bidang tersebut ketika menjalani studi doktoral.
“Saat masih S1, saya bahkan belum mengenal dunia publikasi ilmiah. Saya baru mengenalnya saat S3. Artinya semua bisa dipelajari asal sungguh-sungguh dan rajin. Ditunjang dengan roadmap, fokus, serta doa orang tua, insyaallah mahasiswa bisa mencapai tujuannya,” tuturnya.
Ia menyelesaikan pendidikan sarjana pada 2015. Setelah itu, Asrofi bekerja sembari mempersiapkan studi lanjutan hingga memperoleh beasiswa doktoral pada 2016.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu pelajaran bahwa pengembangan karier akademik membutuhkan persiapan, ketekunan, dan kemauan untuk terus belajar. Mahasiswa tidak harus menguasai seluruh aspek penelitian sejak awal, tetapi perlu membangun kemampuan secara bertahap.
Integritas dan Ketekunan dalam Penelitian
Selain kemampuan akademik, Asrofi menilai integritas menjadi bekal penting bagi seorang peneliti. Kejujuran dalam mengumpulkan data, ketelitian dalam pengujian, serta tanggung jawab dalam menyampaikan hasil penelitian harus dijaga sepanjang proses riset.
Ia mencontohkan pengembangan biokomposit berbasis limbah pertanian yang selama ini ditekuninya. Penelitian tersebut tidak cukup dilakukan dengan mencampurkan polimer dan bahan alam, tetapi membutuhkan pengujian dan evaluasi untuk memastikan kualitas material yang dihasilkan.
Filamen biokomposit berbasis polimer dan serat alam yang dikembangkan Dr. Mochamad Asrofi untuk teknologi 3D printing pada skala laboratorium. Foto: Humas Unej
“Tidak cukup hanya mencampurkan polimer dengan bahan alam. Kami perlu mengoptimalkan komposisi, memahami interaksi antar bahan, memastikan proses pembuatannya stabil, dan menguji karakteristik produk hasil cetak. Jadi, pengembangannya harus didasarkan pada data dan pengujian yang dapat dipertanggungjawabkan,” jelasnya.
Bagi Asrofi, publikasi ilmiah juga seharusnya tidak berhenti sebagai luaran akademik. Peneliti perlu memikirkan peluang pemanfaatan hasil riset agar dapat menjawab kebutuhan masyarakat maupun industri.
“Publikasi ilmiah dan pengembangan produk seharusnya dapat berjalan beriringan. Kita perlu menghasilkan penelitian yang berkualitas, tetapi juga harus terus memikirkan bagaimana pengetahuan tersebut dapat dikembangkan menjadi inovasi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan industri,” katanya.
Sebagai dosen Teknik Mesin dengan latar belakang doktoral di bidang Teknologi Industri Pertanian, Asrofi melihat peluang untuk menghubungkan rekayasa material dengan potensi sumber daya pertanian. Ia berharap bahan yang belum dimanfaatkan secara optimal dapat dikembangkan menjadi material bernilai tambah.
Ia pun mendorong mahasiswa agar tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan dalam penelitian. Menurutnya, ketekunan, fokus, integritas, dan perencanaan yang matang merupakan bagian penting dalam membangun karier sebagai peneliti.
Dengan memulai sejak kuliah, mahasiswa memiliki kesempatan untuk mengenali bidang keahlian, memperluas pengalaman riset, dan mempersiapkan diri menghadapi jenjang akademik berikutnya.
