Logo

Karhutla Tanjung Puting Meluas, 60 Ribu Personel Dikerahkan

Kebakaran Tanjung Puting mencapai 513,89 hektare, sementara pemerintah memperkuat operasi darat dan menambah sarana pemadaman.
Reporter:,Editor:

Selasa, 13 October 2026 23:00 UTC

Karhutla Tanjung Puting Meluas, 60 Ribu Personel Dikerahkan

Kebakaran hutan di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah. Foto: instagram.com/indo_psikologi

JATIMNET.COM, Jakarta - Kebakaran hutan dan lahan di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah, menjadi titik perhatian baru dalam penanganan karhutla nasional.

Pemerintah mencatat kebakaran baru di kawasan konservasi itu mencapai sekitar 513,89 hektare, sementara lebih dari 60 ribu personel gabungan dikerahkan untuk menangani kebakaran di enam provinsi terdampak.

Perkembangan tersebut dibahas dalam rapat terbatas yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto secara hybrid dari Istana Merdeka, Jakarta, Senin, 12 Oktober 2026.

Enam provinsi yang menjadi fokus penanganan ialah Kalimantan Tengah, Sumatra Selatan, Riau, Kalimantan Barat, Jambi, dan Kalimantan Selatan, dengan sekitar 639 hektare lahan masih berada dalam proses pemadaman.

Tanjung Puting mendapat perhatian khusus karena api muncul di dalam kawasan taman nasional. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto melaporkan kebakaran baru seluas 513,89 hektare, sedangkan operasi udara menghadapi kendala akibat jarak pandang yang rendah karena asap tebal.

“Taman Nasional Tanjung Puting menjadi perhatian karena itu taman nasional,” ujar Presiden Prabowo Subianto dalam rapat penanganan karhutla secara hybrid dari Istana Merdeka, Jakarta, Senin, 12 Oktober 2026. 

Kondisi lapangan membuat operasi pemadaman tidak sepenuhnya dapat mengandalkan helikopter. Kementerian Kehutanan menyebut helikopter pemadam telah disiapkan, tetapi kabut asap membatasi jarak pandang dan menyulitkan penerbangan menuju lokasi kebakaran.

Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kementerian Kehutanan Ristianto Pribadi mengatakan tantangan di lapangan tidak hanya berasal dari asap. Luas wilayah, akses menuju titik api, dan karakter lahan turut menentukan kecepatan pemadaman.

“Kami memahami beratnya kondisi yang dihadapi tim di lapangan, terutama karena luasnya wilayah terdampak, sulitnya akses menuju titik api, serta karakteristik lahan gambut yang menyebabkan kebakaran sulit dipadamkan,” kata Ristianto Pribadi dalam keterangan Kementerian Kehutanan.

Di tingkat nasional, operasi darat melibatkan lebih dari 60.177 personel gabungan. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyatakan tingkat keberhasilan pemadaman rata-rata berada di atas 80 persen dari luas lahan yang baru terbakar setiap hari.

Angka 80 persen tersebut bukan berarti 80 persen seluruh karhutla nasional telah selesai dipadamkan. Pemerintah secara spesifik menggunakannya untuk menggambarkan keberhasilan pemadaman terhadap luas kebakaran baru yang muncul setiap hari, sementara ratusan hektare lahan masih dalam penanganan.

“Operasi udara melalui water bombing di sejumlah wilayah juga terus dilakukan untuk mempercepat pemadaman,” ujar Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya dalam keterangan tertulis seusai rapat penanganan karhutla di Jakarta, Senin, 12 Oktober 2026. 

Pemerintah menyebut kondisi di Riau, Kalimantan Barat, Jambi, dan Kalimantan Selatan menunjukkan perkembangan lebih baik. Fokus utama kemudian diarahkan ke Kalimantan Tengah dan Sumatra Selatan, bersamaan dengan optimalisasi operasi modifikasi cuaca untuk memanfaatkan pertumbuhan awan hujan.

Namun, penanganan di Tanjung Puting membutuhkan pendekatan berbeda. Pangdam XXII/Tambun Bungai Mayjen TNI Zainul Arifin melaporkan lokasi kebakaran tersebar di kawasan rawa dan sebagian tidak dapat dijangkau kendaraan, sehingga petugas membutuhkan pompa air berukuran kecil dalam jumlah besar.

“Berapa kau butuh pompa air? 50? Saya kirim 200,” kata Presiden Prabowo menanggapi laporan Pangdam XXII/Tambun Bungai dalam rapat karhutla dari Istana Merdeka, Jakarta.

Selain 200 pompa air, pemerintah menyetujui pembuatan 200 titik bor untuk menyediakan sumber air bagi tim pemadam. Menurut laporan lapangan, air dapat diperoleh melalui pengeboran sedalam sekitar 10 sampai 15 meter di beberapa kawasan rawa.

“Saya kirim Rp2 miliar, 200 titik,” ujar Prabowo dalam rapat yang sama di Istana Merdeka, Jakarta saat menyetujui dukungan anggaran pengeboran sumber air.

Presiden juga meminta masyarakat setempat dilibatkan dalam pembuatan titik-titik bor tersebut. Keterlibatan warga penting karena pemadaman di area dengan akses terbatas membutuhkan pengetahuan mengenai jalur, sumber air, serta karakter kawasan yang tidak selalu dapat dijangkau alat berat.

Karhutla di Tanjung Puting penting bukan hanya karena luas area yang terbakar. Taman nasional tersebut merupakan kawasan konservasi, sehingga kebakaran berisiko memengaruhi tutupan hutan, habitat satwa, kualitas udara, dan kehidupan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan.

Asap juga dapat membawa dampak langsung bagi warga jika konsentrasinya meningkat, mulai dari berkurangnya jarak pandang hingga gangguan aktivitas dan kesehatan. Karena itu, kecepatan pemadaman menjadi penting sebelum kebakaran meluas dan menghasilkan asap yang lebih tebal.

Presiden turut meminta penguatan jumlah dan kapasitas polisi hutan sebagai langkah pencegahan jangka panjang. Ia bahkan menyinggung rencana kebutuhan hingga 70 ribu polisi hutan untuk menjaga kawasan hutan Indonesia, disertai dukungan pelatihan dari Polri.

“Karena itu tolong sampaikan ke MenPANRB, kalau memang saya minta 70 ribu polisi hutan karena ada maksud untuk menjaga hutan-hutan kita,” kata Prabowo dalam rapat penanganan karhutla di Istana Merdeka, Jakarta.

Penguatan personel penjaga hutan menjadi bagian penting karena pemadaman hanya menangani api yang sudah muncul. Pencegahan membutuhkan patroli, deteksi dini, pengawasan aktivitas di dalam dan sekitar kawasan, serta ketersediaan infrastruktur air sebelum musim kering mencapai puncaknya.

Pemerintah memperkirakan peluang hujan mulai lebih merata pada pertengahan hingga akhir Oktober 2026. Operasi modifikasi cuaca tetap dioptimalkan, tetapi keberhasilan penanganan di lapangan masih sangat bergantung pada kemampuan tim menjangkau titik api dan memastikan lahan benar-benar padam.

Dengan 513,89 hektare kebakaran baru di Tanjung Puting dan sekitar 639 hektare lahan yang masih ditangani di enam provinsi, pekerjaan pemadaman belum selesai. Pengerahan lebih dari 60 ribu personel, penambahan pompa, serta pembangunan titik bor kini menjadi ujian seberapa cepat api dapat dikendalikan sekaligus seberapa kuat sistem pencegahan disiapkan sebelum kebakaran berikutnya muncul.