Logo

Dosen UNEJ Masuk Daftar 2 Persen Ilmuwan Berpengaruh Dunia, Kembangkan Limbah Pertanian Jadi Material Teknologi

Reporter:,Editor:

Senin, 19 October 2026 03:16 UTC

Dosen UNEJ Masuk Daftar 2 Persen Ilmuwan Berpengaruh Dunia, Kembangkan Limbah Pertanian Jadi Material Teknologi

Mochamad Asrofi, dosen Fakultas Teknik Universitas Jember (UNEJ), saat ditemui di kampusnya, Senin, 19 Oktober 2026. Foto: Dok Humas Unej

JATIMNET.COM, Jember – Limbah pertanian berpotensi menjadi bahan baku material teknologi bernilai tambah. Peluang ini dikembangkan Mochamad Asrofi, dosen Fakultas Teknik Universitas Jember (UNEJ), melalui penelitian biokomposit yang pemanfaatannya mencakup kemasan ramah lingkungan hingga filamen untuk teknologi pencetakan tiga dimensi (3D printing).

Konsistensinya menekuni penelitian sejak 2017 turut mengantarkan Asrofi masuk dalam daftar World’s Top 2% Scientists atau dua persen ilmuwan paling berpengaruh di dunia versi Stanford University bersama Elsevier BV selama empat tahun berturut-turut, yakni 2023 hingga 2026.

Bagi Asrofi, pencapaian tersebut bukanlah tujuan akhir. Ia justru menjadikannya sebagai motivasi untuk terus mengembangkan penelitian yang memberikan kontribusi bagi ilmu pengetahuan sekaligus menghasilkan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat.

“Pencapaian ini tentunya bukan didapat secara instan, tetapi melalui proses yang panjang. Sebelumnya, saya sudah memulai riset sejak tahun 2017. Jadi, ada proses yang cukup panjang untuk mencapai hal tersebut, tentunya dengan usaha yang tidak sedikit, termasuk kerajinan, kegigihan, dan yang paling penting tekun dalam bidang tertentu,” ungkapnya saat diwawancarai secara tertulis, Senin, 19 Oktober 2026.

 

Kembangkan Biokomposit Berbasis Limbah Pertanian

Sejak 2020, Asrofi secara konsisten mengembangkan peta jalan penelitian atau roadmap di bidang biokomposit berbasis limbah pertanian. Penelitian ini berangkat dari pemikiran bahwa biomassa dan hasil samping pertanian dapat diolah menjadi material bernilai tambah melalui rekayasa material.

Pengembangan tersebut tidak berhenti pada kemasan ramah lingkungan. Asrofi juga meneliti pemanfaatan biokomposit sebagai filamen untuk teknologi 3D printing, yakni bahan baku yang digunakan printer tiga dimensi untuk membentuk objek berdasarkan desain digital.

Dalam pengembangannya, ia memadukan polimer dengan bahan penguat dari sumber daya hayati. Namun, proses tersebut membutuhkan perhitungan komposisi, pemahaman terhadap interaksi antarbahannya, serta pengujian untuk memastikan karakteristik material sesuai dengan kebutuhan.

“Tidak cukup hanya mencampurkan polimer dengan bahan alam. Kami perlu mengoptimalkan komposisi, memahami interaksi antar bahan, memastikan proses pembuatannya stabil, dan menguji karakteristik produk hasil cetak. Jadi, pengembangannya harus didasarkan pada data dan pengujian yang dapat dipertanggungjawabkan,” ujarnya.

Selain untuk kemasan dan filamen pencetakan tiga dimensi, Asrofi memperluas penelitiannya pada eksplorasi material berbasis biomassa untuk aplikasi separator baterai. Berbagai pengembangan tersebut membuka peluang pemanfaatan hasil samping pertanian sebagai bahan baku material untuk kebutuhan teknologi.

Meski demikian, setiap aplikasi membutuhkan karakteristik material yang berbeda. Karena itu, pengembangan lebih lanjut tetap memerlukan pengujian untuk memastikan kesesuaian material dengan kebutuhan penggunaannya.

“Sebagai dosen Teknik Mesin dengan latar belakang doktoral di bidang Teknologi Industri Pertanian, saya melihat peluang untuk menghubungkan rekayasa material dengan potensi sumber daya pertanian. Harapannya, bahan yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal dapat dikembangkan menjadi material dengan nilai tambah yang lebih tinggi,” ungkapnya.

 

Dorong Riset yang Berdampak bagi Masyarakat

Asrofi memandang penelitian tidak cukup hanya menghasilkan publikasi ilmiah. Peneliti juga perlu memikirkan peluang penerapan hasil penelitian agar pengetahuan yang dihasilkan dapat menjawab kebutuhan masyarakat dan industri.

Karena itu, ia terus mengembangkan riset melalui publikasi ilmiah, kolaborasi, dan pengembangan produk. Menurutnya, ketiga hal tersebut dapat berjalan beriringan untuk memperkuat kontribusi penelitian terhadap perkembangan teknologi.

“Publikasi ilmiah dan pengembangan produk seharusnya dapat berjalan beriringan. Kita perlu menghasilkan penelitian yang berkualitas, tetapi juga harus terus memikirkan bagaimana pengetahuan tersebut dapat dikembangkan menjadi inovasi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan industri,” pungkasnya.

Melalui penelitian biokomposit berbasis limbah pertanian, Asrofi berharap bahan yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal dapat dikembangkan menjadi material dengan nilai ekonomi lebih tinggi. Ia juga ingin riset tersebut membuka peluang inovasi yang relevan dengan kebutuhan teknologi dan industri.