Logo

ECOTON Uji Kualitas Air Sungai Gogor Jombang, Temukan 20 Partikel Mikroplastik

Reporter:,Editor:

Minggu, 18 October 2026 23:32 UTC

ECOTON Uji Kualitas Air Sungai Gogor Jombang, Temukan 20 Partikel Mikroplastik

Salah satu pelajar menunjukkan hasil uji kualitas air Sungai Gogor di Wonosalam, Jombang pada Minggu, 18 Oktober 2026. Foto: ECOTON

JATIMNET.COM, Jombang – Lembaga kajian lingkungan ECOTON mengajak sekitar 50 pelajar SMAN 1 Mojoagung memantau kualitas air Sungai Gogor di Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang, Minggu, 18 Oktober 2026. Dalam kegiatan tersebut, peserta mempraktikkan pengambilan sampel air, mengamati mikroplastik, hingga menguji kandungan fosfat sungai pada musim kemarau.

ECOTON menggelar edukasi lingkungan ini dengan mengoperasikan mobil Laboratorium Mikroplastik MIMO (Mission for Zero Plastic Leakage). Kegiatan tersebut juga melibatkan Polisi Air Wonosalam dan pelajar yang tergabung dalam SCOUTNEMA SMAN 1 Mojoagung.

Sungai Gogor menjadi lokasi pemantauan karena berada di kawasan hulu Sungai Brantas. Melalui praktik langsung, ECOTON mengenalkan cara mengidentifikasi kondisi ekosistem perairan sekaligus mendorong generasi muda mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.

Kepala Laboratorium ECOTON, Rafika, menjelaskan bahwa peserta dibagi menjadi tiga kelompok untuk melakukan pengamatan dengan metode berbeda. Kelompok pertama mempraktikkan biomonitoring makrozoobentos menggunakan metode biotilik, kelompok kedua mengamati mikroplastik, sedangkan kelompok ketiga menguji kandungan fosfat dalam air sungai.

"Setiap kelompok mempraktikkan pengambilan sampel air dan melakukan pengamatan sesuai bidangnya sebelum mempresentasikan hasil temuan di hadapan peserta lainnya," katanya.

 

Pelajar Temukan 20 Partikel Mikroplastik

Kelompok pertama menggunakan metode biotilik untuk mengidentifikasi makrozoobentos, yakni hewan tidak bertulang belakang yang hidup di perairan. Dari pengamatan tersebut, peserta menemukan 17 individu biota yang dilaporkan berasal dari famili Gammaridae, Atyidae, Veliidae, Simuliidae, Tabanidae, dan Mesoveliidae.

"Temuan tersebut menjadi bahan evaluasi awal mengenai kondisi ekosistem sungai yaitu tercemar," paparnya.

Sementara itu, kelompok kedua memeriksa sampel air Sungai Gogor untuk mengidentifikasi partikel mikroplastik. Hasil pengamatan awal menunjukkan adanya 20 partikel yang terdiri atas 12 fiber atau serat, tujuh film atau lembaran tipis, dan satu fragmen.

Fiber dapat berasal dari serat kain, sedangkan film antara lain dapat berasal dari plastik tipis seperti kantong plastik. Adapun fragmen merupakan potongan plastik yang dapat berasal dari berbagai produk berbahan plastik keras.

"Selain itu, kelompok juga mengamati dua objek yang diidentifikasi sebagai fitoplankton. Pengamatan mikroskopis menjadi langkah awal untuk mengenali bentuk partikel," bebernya.

Rafika menjelaskan, pengamatan menggunakan mikroskop membantu peserta mengenali karakteristik objek yang ditemukan dalam sampel air. Namun, hasil tersebut merupakan pengamatan awal yang masih perlu ditindaklanjuti untuk memahami keberadaan dan sebaran mikroplastik di sungai.

 

Kadar Fosfat Terukur 0,8 Ppm

Kelompok ketiga menguji kandungan fosfat dalam sampel air Sungai Gogor. Pengukuran menunjukkan kadar fosfat sebesar 0,8 ppm, lebih tinggi daripada angka acuan 0,2 ppm yang digunakan peserta berdasarkan baku mutu dalam Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021.

"Dari hasil tersebut menunjukkan perlunya perhatian terhadap potensi masukan nutrien ke sungai," ujar Rafika.

Menurut Rafika, salah satu sumber yang perlu ditelusuri ialah limbah domestik, termasuk air buangan rumah tangga yang masuk ke sungai tanpa pengolahan memadai. Selain itu, berkurangnya debit air selama musim kemarau dapat memengaruhi konsentrasi zat terlarut di perairan.

"Kondisi debit air yang berkurang selama musim kemarau juga dapat memengaruhi konsentrasi zat terlarut di perairan," tukasnya.

Meski demikian, hasil pengukuran dalam kegiatan edukasi tersebut menjadi indikasi awal yang perlu ditindaklanjuti melalui pemeriksaan lebih lanjut. Penentuan tingkat pencemaran dan sumber pencemar membutuhkan pengujian serta analisis yang memadai.

 

Pelajar Diajak Kurangi Plastik Sekali Pakai

Salah satu peserta, Rizki Putri, mengatakan praktik pengambilan sampel dan pengamatan menggunakan mikroskop memberinya pemahaman tentang keberadaan mikroplastik di lingkungan perairan.

"Kami berharap kesadaran mengurangi plastik sekali pakai dapat dimulai dari lingkungan sekolah, misalnya dengan membawa botol minum dan wadah makanan yang bisa digunakan berulang kali," terangnya.

Rizki berharap kehadiran perdana mobil laboratorium MIMO ECOTON di Wonosalam menjadi langkah awal untuk memperkuat pemantauan sungai yang melibatkan masyarakat dan generasi muda. Menurut dia, kegiatan tersebut tidak hanya mengajarkan pelajar mengukur dan mengamati kualitas air.

"Tetapi juga memahami hubungan antara kebiasaan sehari-hari, pengelolaan limbah, dan kesehatan ekosistem sungai," ungkapnya.

Peserta lainnya, Zema Aqilla, menilai Sungai Gogor memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan ekosistem perairan karena berada di kawasan hulu Brantas. Oleh sebab itu, ia mengajak masyarakat ikut menjaga sungai melalui perubahan kebiasaan sehari-hari.

"Karena itu, upaya menjaga sungai perlu dilakukan bersama, mulai dari mengurangi plastik sekali pakai," tegasnya.

Zema juga mengajak masyarakat tidak membuang sampah maupun limbah ke badan air serta mendorong pengelolaan limbah rumah tangga yang lebih baik.

"Kami harap para peserta dapat membawa pengetahuan yang diperoleh ke lingkungan sekolah, keluarga, dan masyarakat, serta menjadi bagian dari generasi muda yang aktif melindungi sungai," pungkasnya.