JATIMNET.COM, Surabaya – Gelora Pancasila yang terletak di Jalan Indragiri bakal “disulap” menjadi museum olah raga oleh Pemkot Surabaya. Pemanfaatan gedung cagar budaya sebagai museum ini ditargetkan bisa diresmikan November 2019.

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini mengungkapkan, di museum ini nanti akan dipamerkan keberhasilan atlet berprestasi asal Surabaya seperti Alan Budi Kusuma, Minarti Timur, Lilis Handayani dan Rudi Hartono.

Gedung Gelora Pancasila ini sempat masuk dalam belasan aset Pemkot Surabaya yang hilang karena sempat berpindah ke pihak swasta. Pemerintah pun bertahun-tahun berusaha merebutnya kembali.

Dirangkum dari berbagai sumber, pembangunan gedung Gelora Pancasila didasarkan surat Gubernur M Wiyono selaku KOGOR (KONI pada zaman itu) Daerah Jatim Nomor: 105/KOGOR/DT/B/64, tanggal 27 November 1964.

BACA JUGA: Ruangan Kosong di Gelora Pancasila Akan Diubah Jadi Museum

Gedung itu dibangun di atas tanah eigendom verponding atas nama De Stads Gemeente de Soerabaja (Di tanah atas nama Pemerintah Kota Surabaya).

Dua tahun setelah surat gubernur keluar, Gelora Pancasila selesai dibangun. Saat itu, gedung ini punya fasilitas yang cukup lengkap seperti kolam renang untuk cabang olah raga polo air. Namun, kini keberadaannya telah ditutup untuk umum.

Selain itu, ada fasilitas lainnya seperti kamar bagi altlet dari luar daerah Surabaya, ruang kesehatan, ruang ganti, ruang reporter, musala, ruang mekanik, dan kamar mandi.

GOR berkapasitas 5.000 orang ini sempat berganti nama dari Gelora Pantjasila menjadi Gelora Suhartati. Nama itu diambil dari seorang atlet terjun payung asal Surabaya, yang meninggal pada saat berlaga di Lapangan Halim Perdana kusuma,Jakarta. Namun, akhirnya nama Gelora Pantjasila dipilih kembali dengan tujuan nilai sejarah.

BACA JUGA: Bus Tumpuk Hingga Trem, Transportasi Tempo Dulu di Surabaya

Di tahun 1968 pengelolaan gedung diserahkan gubernur ke Yayasan Gelora Pancasila (YGP). Pengurusnya kebanyakan pejabat dan mantan pejabat pemerintah Provinsi Jawa Timur.  Tidak diketahui bagaimana caranya, tahun 1989 tiba-tiba beralih ke pihak swasta, yaitu PT Setia Kawan Abadi (PT. SKA). Sejak saat itu, konflik hukum antara Pemkot Surabaya dengan pihak swasta dimulai.

Pemkot Surabaya berusaha mendapatkan kembali Gelora Pancasila yang merupakan gedung cagar budaya itu. Hasilnya keluarlah Hak Pakai nomor: 39/Kelurahan Darmo. Ini berdasarkan surat BPN Jatim Nomor: 070/HP/35/1993, tanggal 10 Pebruari 1993.

Tapi Pemkot hanya menang di atas kertas karena secara fisik masih dikuasai oleh PT SKA. Di masa Wali Kota Tri Rismaharini menjabat sebagai Wali Kota Surabaya, pemkot terus memperjuangkan agar Gelora Pancasila kembali ke Pemkot Surabaya. Sayangnya upaya hukum selalu kandas di pengadilan.

Jalan terang untuk mengembalikan lahan seluas 7.500 meter per segi mulai terlihat di tahun 2016. Risma melaporkan hilangnya 11 aset, termasuk Gelora Pancasila, kepada 20 instansi. Pada akhirnya, aset yang berada di Jalan Indragiri ini kembali ke Pemkot Surabaya di tahun 2018 lalu.  

BACA JUGA: Risma Menyerah Soal Angkutan Massal Trem

Sebelum kembali ke pangkuan Pemkot Surabay, GOR Pancasila kerap dipakai untuk kegiatan komersial. Sejumlah partai sering menggelar kegiatan konsolidasi kadernya di sini. Pun ketika calon Wali Kota Surabaya Rasiyo-Lucy Kurniasari berangkat dari GOR Pancasila mendaftar ke KPU Surabaya.

Selain digunakan untuk kegiatan politik, GOR Pancasila tetap digunakan untuk kegiatan olah raga. Di tahun 2016, digelar Piala Wali Kota Surabaya yang menghadirkan 25 tim voli dan menghadirkan bintang PON Maya Kurnia Indri, Asih Titi dan Avi Hisa serta Ayip Rizal. Pada 2017, juga digelar Kejuaraan Daerah (Kejurda) Karate Inkai antar Ranting seluruh Jawa Timur di tempat ini.

Selain itu, GOR Pancasila juga pernah dipakai untuk perusahaan menggelar kegiatan buka puasa. Organisasi hukum juga pernah memecahkan rekor memberikan pendampingan hukum terbanyak di tempat ini.  

BACA JUGA: “Walang Kadung”, Armada Unik Baru PMK Surabaya

GOR Pancasila selama ini juga identik dengan kios barang antik. Tak perlu heran karena kios ini berada di selatan GOR tepatnya Jalan Bodri.

Kawasan ini memang sudah lama terkenal sebagai lokasi utama untuk berburu barang antik, bagi warga Surabaya bahkan dari luar kota hingga manca negara. Namun saat ini kios barang antik sudah direlokasi ke Pasar Bratang.  

Gedung tua ini memang menjadi saksi bisu para atlet di Jawa Timur, khususnya Surabaya dalam menempa diri. Pun demikian dengan aktivitas di luar olah raga, mulai politik hingga barang antik.