Filosofi dalam Tradisi Berburu Daging Ramadan Uroe Meugang Aceh

Dyah Ayu Pitaloka

Senin, 6 Mei 2019 - 10:57

JATIMNET.COM, Surabaya – Tradisi uroe meugang masyarakat Aceh menjelang Idul Fitri dan Idul Adha, juga dilakukan sehari menjelang Ramadan. Tradisi ini membuat pedagang dan pasar daging dadakan pun bermunculan.

Harga daging juga ikut melonjak, hingga Rp 200 ribu per kilo di Provinsi Aceh.

Uroe meugang merupakan hari kebersamaan dengan keluarga dekat, orang tua, istri, anak, dan tetangga dalam menyambut tibanya bulan puasa Ramadan, sehari menjelang Idul Fitri dan Idul Adha, dengan menyantap aneka menu berbahan daging.

Di Aceh Besar, misalnya kuliner favorit masyarakat pada hari meugang dengan bahan utama daging sapi atau kerbau, adalah kuah beulangong gulai nangka atau sie reuboh (daging rebus).

BACA JUGA: Dandangan, Tradisi di Masa Sunan Kudus Menyambut Ramadan

Maka tidak heran, menjelang puasa Ramadan itu berdampak munculnya para pedagang atau pasar daging dadakan sejumlah tempat di Aceh.

Tumpah ruahnya masyarakat membeli daging pada hari meugang menjadi salah satu fenomena unik yang dijumpai seluruh daerah di provinsi ujung paling barat Indonesia.

Di kawasan Peunayong Kota Banda Aceh, misalnya, ribuan warga memadati pasar sejak pukul 7.00 WIB. ‘

Daging sapi/kerbau segar diletakkan di atas bangku, dan ada juga yang digantung di tiang-tiang, terutama bagian paha dari binatang ternak tersebut.

BACA JUGA: Belanja Kurma Jelang Ramadan

Ada beberapa cara warga setempat untuk mendapatkan daging, salah satunya dengan cara patungan atau meuripee untuk membeli sapi atau kerbau.

Pembelian daging dengan cara meuripee itu biasanya dilakukan oleh komunitas atau kelompok masyarakat berdasarkan jumlah uang yang terkumpul.

Kemudian, daging-daging hasil meuripee yang telah dibersihkan, dan dipotong-potong, dibagikan sesuai catatan jumlah peserta patungan.

Masing-masing peserta patungan itu mendapatkan satu tumpuk daging, yang isinya daging khas, tulang, dan daging bagian dalam, dari hewan yang disembelih.

BACA JUGA: Sambut Ramadan dengan Nyadran ke Makam Sunan Ampel

Tradisi meugang yang dilaksanakan setiap menyambut bulan suci Ramadan itu sudah digelar di Aceh sejak ratusan tahun silam, dan memiliki makna sakral di tengah-tengah masyarakat muslim.

Pengamat sejarah dan adat Aceh, M Adli Abdullah mengatakan, tanpa meugang, Ramadan serasa hambar bagi masyarakat "Serambi Mekah".

Perayaan meugang di Aceh walau bukan sebuah kewajiban, sudah menjadi adat kebiasaan menjelang Ramadan.

Dosen Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala itu, menjelaskan tradisi meugang dimulai sejak masa kepemimpinan Sultan Alaiddin Iskandar Muda Meukuta Alam (1607-1636).

BACA JUGA: Kirab Seribu Santri Sambut Ramadan Diantar Para “Bajingan”

"Pada saat itu sultan mengadakan acara menyembelih hewan ternak sapi dalam jumlah yang banyak dan dagingnya dibagi-bagikan kepada seluruh rakyatnya," katanya mengisahkan.

Bagi masyarakat Aceh, meugang menjadi momentum sangat berharga, dan dirayakan walaupun dengan kondisi keuangan seadanya.

"Biasanya masyarakat Aceh jauh-jauh hari telah mempersiapkan dana untuk menyambut tradisi meugang tidak terkecuali bagi warga miskin sekalipun," katanya.

Ia menyebutkan, perayaan meugang memiliki beberapa dimensi nilai-nilai ajaran Islam dan adat istiadat masyarakat Aceh, yakni nilai religius, dan nilai berbagi sesama.

BACA JUGA: Menjaga Tradisi Santap Coto Makassar Jelang Ramadan

"Bahkan, perayaan meugang ini merupakan momen bagi orang kaya untuk memberikan sedekah kepada fakir miskin dan anak yatim, khususnya yang berada di sekitar tempat tinggal mereka," kata Adli Abdullah.

Ketiga, nilai kebersamaan. Itu mengandung arti bahwa tradisi meugang menjadi hal yang penting karena pada hari itu akan berlangsung silaturrahim, antara warga kampung dengan yang baru pulang dari perantauan.

"Pada hari meugang itu, masyarakat menyantap aneka masakan berbahan utama daging sapi dan kerbau secara bersama-sama di rumah orang tua atau orang yang dituakan dalam keluarganya," katanya menjelaskan.

Kemudian, makna yang keempat dari "meugang" tersebut yakni memberikan penghormatan kepada kedua orang tua.

BACA JUGA: Segudang Manfaat Puasa untuk Kesehatan Manusia

"Ini juga mengandung makna bahwa seorang anak, terutama yang hidup di perantauan merindukan masakan daging dari orang tuanya, sehingga terkadang mereka khusus pulang ke kampung halaman pada setiap hari meugang," kata dia.

Sisi lain dari hari "meugang" yakni selain berkumpul bersama keluarga besar, juga karena mengikuti sunnah Rasul yakni Nabi Muhammad Saw, tentang bergembiranya umat Islam ketika menyambut bulan penuh kesucian itu. (ant)

Baca Juga

loading...