JATIMNET.COM, Surabaya – Jangan buang barang bekas. Moto itu sepertinya melekat pada empat siswa SD Islam Al Azhar 11 Surabaya. Keempatnya sanggup menyulap minyak jelantah atau minyak bekas penggorengan menjadi pengharum ruangan.

Padahal minyak bekas penggorengan memiliki bau yang kurang sedap dan tidak sehat jika digunakan ulang. Namun inovasi ini dijamin aman bagi kesehatan jika digunakan sehari-hari.

“Karena menggunakan jelantah, harganya masih terjangkau,” kata Rachma Amelia Faustina salah satu anggota tim pembuat pengharum ruangan dari minyak jelantah saat dijumpai di sekolah, Rabu 6 Februari 2019.

Menurutnya inovasi ini terinspirasi karena banyaknya minyak goreng bekas yang tidak terpakai di rumahnya. Dia mulai mencari cara agar jelantah dapat digunakan ulang dan tidak terbuang sia-sia.

BACA JUGA: Ini Pesan Dari Kampung Edukasi Sampah Sidaorjo

Rachma mengungkapkan, karena minyak goreng bekas pakai atau jelantah selama ini dianggap limbah. Otomatis membuat minyak ini tidak baik untuk digunakan kembali. Tidak sedikit minyak yang terbuang sia-sia. Terlebih minyak goreng tak layak pakai juga dapat menyebabkan penyakit kanker jika digunakan berulang-ulang.

”Bersamaan dengan kegiatan science festival, saya dan teman-teman memanfaatkan momentum ini untuk membuat pengharum ruangan dari jelantah,” tambahnya.

Anggota ini terdiri dari Aisyah Samudera Falah, Rachma Amelia Faustina, Muhammad Rangga Putra Nugraha, dan Khalifah Garda Maulana Islami Nursyahputra.

Prosesnya tergolong mudah. Langkah pertama menyaring minyak jelantah dengan saringan kertas. Setelah itu hasilnya dicampurkan dengan karbon aktif.

“Komposisinya 50 mililiter minyak dengan tiga sendok makan karbon aktif, kemudian dicampur dan disaring lagi dengan kertas saring. Hasilnya dicampur dengan cairan basah NaOH dan kemudian dipanaskan,” ungkap Rachma.

Endapan dari hasil proses merebus, nantinya akan dipadatkan dan diberi tetesan bibit minyak wangi sebagai pengharum. Proses pemadatannya cukup didinginkan dalam cetakan selama 10 menit.

“Untuk pengharum, minyak wanginya sesuai keinginan,” terang Rachma.

BACA JUGA: Warga Ponorogo Sulap Barang Bekas Jadi Alat Fogging

Sementara itu, koordinator kegiatan, Maratus Sulecha menjelaskan, bahwa science festival atau festival ilmu pendidikan ini diselenggarakan berdasarkan bahan yang biasa ditemui anak-anak.

“Karya siswa ini bisa diterapkan setiap hari dan sangat bermanfaat bagi kehidupan keseharian,” kata Maratus Sulecha.

Maratus menjelaskan, jika kegiatan ini rutin diselenggarakan dalam satu tahun sekali untuk tugas akhir mata pelajaran sains kelas empat dan lima.

“Ini wajib karena nanti akan diambil penilaian. Satu kelompok ada empat anggota untuk satu eksperimen," tambahnya.

Adapun Kepala Sekolah SD Islam Al Azhar 11 Surabaya, Mamam Damanhuri menambahkan, science festival adalah kegiatan tahunan untuk memberikan siswa kelas 4 dan 5 untuk berinovasi dan berkreasi.