JATIMNET.COM, Surabaya – Djaduk Ferianto meminta Mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar untuk berani berkreasi serta tidak takut dianggap merusak tradisi dalam proses menciptakan tradisi milenial yang bersumber pada tradisi lokal.  

Hal itu disampaikan pada Workshop Musik Hybrid, di Kampus ISI Denpasar yang berlangsung 13 hingga 14 Maret 2019.

"Generasi milenial memang sedang menciptakan tradisi baru, tetapi sumbernya dari yang lama, dalam konteksnya interpretasi baru. Itu sah dan boleh, 'nggak ada larangan," kata Djaduk, saat menjadi pemateri dalam Workshop Musik Hybrid, di Kampus ISI Denpasar, Rabu 13 Maret 2019.

Djaduk menekankan agar tetap cinta pada tradisi masing-masing dalam bermusik. Hal ini sesuai dengan hakikat musik hybrid yang mengandung "pencangkokan-pencangkokan" kebudayaan.

BACA JUGA: Pelabuhan Benoa Bali Siap untuk Bersandar Kapal Pesiar

"Kesenian kita, apalagi ngomong Indonesia, Indonesia itu sangat hybrid. Indonesia itu bukan orang Jawa saja, bukan orang Sumatera saja, bukan orang Bali saja, tetapi semuanya memberikan percampuran, percampuran ini yang menjadikan Indonesia" katanya.

"Dalam konteks musik hybrid sebenarnya ada pencangkokan-pencangkokan secara kebudayaan," lanjutnya pada acara yang diselenggarakan oleh Prodi Musik ISI Denpasar itu pula.

Dalam musik tradisi Bali pun, lanjut Djaduk, sebenarnya sudah muncul model hibrida, contohnya perkembangan gamelan gong gede, gong kebyar, semarandana, dan sebagainya.

"Jadi, bukan hal yang baru sebenarnya. Adik-adik mahasiswa jangan takut kalau dianggap sedang merusak tradisi, tetap ada proses pertumbuhan atau regenerasi karena anak-anak muda harus menciptakan tradisinya," ujarnya lagi.

BACA JUGA: Hari Raya Nyepi, Arus Balik Tak Sepadat Arus Mudik

Djaduk sependapat musik yang lama tetap dipelajari, dipertahankan, dan tetap terpelihara, namun yang baru tetap harus muncul.

"Ini karena rumusan dalam kebudayaan itu ada yang hilang dan ada yang tumbuh. Tradisi jangan mandek dan harus terus berkembang. Intinya, generasi milenial harus punya keberanian untuk mencoba keluar dari satu pola yang sudah mainstream," kata pemusik kelahiran Yogyakarta itu.

Dekan Fakultas Seni Pertunjukan ISI Denpasar Dr I Komang Sudirga SSn MHum mengatakan hadirnya Djaduk Ferianto diharapkan bermanfaat bagi mahasiswa dalam menggarap dan memberdayakan kebudayaan yang dimiliki agar lebih maju.

Apalagi hal tersebut sejalan dengan visi ISI Denpasar untuk menjadi pusat unggulan seni yang berbasis kearifan lokal dan berwawasan universal.

BACA JUGA: Bali Tujuan Wisata Petualangan Terfavorit

"Terobosan secara akademis harus terus kita bangun, harus dimotivasi agar produk dari karya cipta bisa menelurkan yang baru dan berbeda dari karya sebelumnya," ujar Sudirga. (Ant)