Desa Tembokrejo, Pilah Sampah Jadi Rupiah

Ahmad Suudi

Minggu, 26 Mei 2019 - 15:23

JATIMNET.COM, Banyuwangi – Mesin konveyor sampah bergerak pelan. Tangan-tangan pekerja cekatan memunguti sampah-sampah yang berjalan di depannya. 

Suparmi, salah satu pekerja memungut sampah bungkus sampo dan dimasukkan ke karung khusus sampah sachet. Diambilnya lagi plastik bening dengan cap warna biru dan dimasukkan ke karung khusus plastik sablon.

Begitu seterusnya hingga ada 12 jenis sampah yang dipilah oleh para pekerja di Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Desa Tembokrejo, Kecamatan Muncar, Kabupaten Banyuwangi.

Setelah dipilah, 40 persen residu yang tak lagi bisa dimanfaatkan dikirim ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Sementara 60 persen sampah dijual dalam karung-karung sesuai jenisnya masing-masing. Sampah organik dijual dalam bentuk pupuk orgnaik. 

BACA JUGA: Pemprov Jatim Konsultasi dengan Bea Cukai Sikapi Impor Plastik

Pemilahan sampah di tempat tersebut memanfaatkan dua konveyor, satu untuk memisah organik dan non organik, yang satu lagi untuk memilah berbagai jenis sampah plastik.

"Kendala penjualan ada pada pastik sachet dan kresek karena tidak banyak yang mau ambil, jumlahnya paling banyak, sedangkan harganya paling murah," kata Putra Perdana Kusuma, dari Technical Facility Officer Systemiq, Jumat 10 Mei 2019.

Systemic, adalah sebuah lembaga yang menginisiasi proyek pengelolaan sampah dan inkubasi bisnis kehutanan non kayu ini mendampingi Bumdes Tembokrejo dalam meningkatkan kualitas dan kapasitas produksi TPST.

Sampah yang dihasilkan dari desa yang berada di kawasan pesisir Banyuwangi ini mencapai 12 hingga 15 ton per hari. Sampah itu berasal dari muara dan sembilan ribu rumah warga.

BACA JUGA: DKRTH Surabaya Angkut 50 Ton Sampah selama Ramadan

Petugas TPST setiap hari berkeliling menggunakan kendaraan roda tiga untuk menjemput sampah warga dan mengumpulkannya di unit pengelolaan sampah di belakang kantor desa.

Setiap rumah diwajibkan setor uang sampah Rp 10 ribu per bulan. Namun tidak semua warga yang membayar iuran ini. “Hanya 50 persen warga yang mau membayar. Belum semua masyarakat sadar akan pentingnya pengelolaan sampah,” kata Putra.

CEKATAN. Tangan-tangan para pekerja cekatan memilah sampah menjadi 12 jenis sebelum dijual. Foto: Ahmad Suudi

Putra menyebut, pihaknya setiap pekan menjual sampah yang sudah dipilah kepada pembeli yang menawar dengan harga tertinggi. Setiap bulan kemudian ditotal.

Kepala Desa Tembokrejo Sumarto (53) mengatakan, pemasukan dari iuran sampah warga per bulan mencapai Rp 40 juta. Sedangkan hasil dari penjualan sampah nilainya Rp 20 juta per bulan.

BACA JUGA: Supaya Sampah Tak Jadi Masalah

"Target ke depan sampai Rp 80 juta masuk Bumdes per bulan," ujar Sumarto.

Saat ini, di Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Desa Tembokrejo menjadi incaran para pemuda untuk bekerja di sana. Namun, karena belum membutuhkan pekerja dengan jumlah banyak, para pelamar banyak yang ditolak.

Suparmi yang sudah setahun bekerja tempat itu mengaku beruntung karena masuk mulai dari awal pembukaan tempat pengelolaan sampah ini. Sebelumnya dia pernah mbelantik ikan hingga bekerja di perusahaan pengalengan ikan.

"Di pabrik kalau lembur pulang jam 12 malam, gajinya bisa Rp 100 ribu sehari. Tapi mending seperti ini walau sedikit per bulan lancar," katanya pada Jatimnet, Jumat 10 Mei 2019.

BACA JUGA: PBB Kontrol Pembuangan Sampah Plastik Global

Putra terus mendorong agar TPST bisa mandiri karena pendampingan Systemiq akan berakhir tahun 2021. Dia mengakui bisnis yang berjalan di TPST mampu menyerap tenaga kerja, memberi pemasukan pada Bumdes, dan membuat desa lebih bersih.

Tembokrejo dulu memang dikenal dengan desa yang sangat kotor karena sampah berserakan di mana-mana. Selain kiriman sampah yang terkumpul di muara, juga warga membuang sampah sembarangan termasuk ke sungai.

Kini, tidak hanya keuntungan ekonomi yang dirasakan warga desa. Sistem yang dibangun di TPST juga mampu mengubah perilaku masyarakat tidak membuang sampah sembarangan.

Baca Juga

loading...