Pemprov Jatim Konsultasi dengan Bea Cukai Sikapi Impor Plastik

Baehaqi Almutoif

Rabu, 22 Mei 2019 - 17:02

JATIMNET.COM, Surabaya – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur melihat serius temuan Ecoton (Ecological Observation and Wetlands Conservation) atas adanya impor sampah plastik yang masuk di Jatim. Dalam waktu dekat Wakil Gubernur Jatim Emil Elestianto Dardak segera berkordinasi dengan Bea Cukai.

“Saya kemarin sudah berkomunikasi dengan bu Diah (Kepala Dinas Lingkungan Hidup Jawa Timur). Kami akan kordinasi juga dengan bea cukai untuk melihat situasi yang sebenarnya,” ujar Emil ditemui di Gedung DPRD Jawa Timur, Selasa 21 Mei 2019.

Mantan Bupati Trenggalek itu ingin memastikan jalur dan asal usul masuknya impor sampah plastik yang dimaksud Ecoton. Meski disadari itu bukan perkara mudah, karena dipastikan pelaku punya cara cerdas dalam memasukan impor sampah plastik.

Namun setidaknya ada upaya melakukan review masing-masing peti kemas yang segera dijalankan para surveyor.

BACA JUGA: Jadi Gerbang Penyelundupan Sampah, Ecoton Desak Pemerintah Perketat Impor

“Ibu gubernur sudah sampaikan dan telah berkordinasi dengan Kemenko Kemaritiman soal masalah impor plastik,” bebernya.

Emil mengaku, temuan Ecoton tersebut sangat serius. Di saat pemerintah sudah mati-matian mengendalikan limbah plastik di Indonesia, lantas datang impor sampah plastik. “Ini isu yang harus dijadikan masalah besar,” tuturnya.

Lembaga kajian ekologi dan konservasi lahan basah, Ecoton, mendesak pemerintah memperketat gerbang impor menyusul temuan penyelundupan sampah plastik dan kotoran rumah tangga ke Indonesia.

BACA JUGA: PBB Kontrol Pembuangan Sampah Plastik Global

Desakan itu tertuang dalam surat yang dilayangkan ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta Kementerian Perindustrian dan Perdagangan. Selain itu, Ecoton juga berkirim surat ke Sucofindo, perusahaan di bidang pengawasan dan pengkajian.

Direktur Ecoton Prigi Arisandi mengatakan penyelundupan itu berlangsung secara terstruktur, sistematis, dan masif. Sejak Februari 2019, terdapat 11 perusahaan di Jawa Timur yang terdeteksi mencemari daerah aliran sungai Brantas.

Menurutnya, negara-negara pengekspor sampah plastik ke Indonesia, di antaranya Amerika Serikat, Australia, Kanada, Selandia Baru, dan Inggris. “Sampah tersebut adalah botol minuman, sachet, kantong kresek, popok, sepatu, dan beragam barang bekas,” katanya, Selasa 21 Mei 2019.

Baca Juga

loading...