Supaya Sampah Tak Jadi Masalah

Ahmad Suudi

Selasa, 14 Mei 2019 - 19:39

JATIMNET.COM, Banyuwangi - Seorang perempuan paruh baya menenteng tempat sampah dan menuangkan isinya di pinggir pantai Dusun Sampangan Desa Kedungrejo, Kecamatan Muncar, Kabupaten Banyuwangi, Jumat 10 Mei 2019 lalu.

Ia mengaku tidak ada tempat lagi untuk membuang sampah selain di pantai itu. Kebiasaan ini juga dilakukan sejumlah warga setempat. Mereka mengatakan toh saat air pasang, sampah akan tersapu ombak dan hanyut ke laut, meski akan datang lagi terbawa angin ke tepi saat surut.

Tak heran jika gundukan sampah di pinggir pantai ini semakin tinggi setiap harinya. Pemandangan sampah yang berserakan hingga menutupi hamparan pasir dan bebatuan ini agak tersamarkan dengan keberadaan deretan rumah di pinggir pantai itu.

Keberadaan sampah itu makin banyak setiap kali ombak datang membawa sampah menepi.

BACA JUGA: PBB Kontrol Pembuangan Sampah Plastik Global

"SDM masyarakat ini kami latih supaya untuk mulai tidak membuang sampah di sungai dan laut, ini sudah kami lakukan. Tempat sampah sebenarnya sudah ada, memang kesadaran masyarakat yang perlu kami tingkatkan," kata Camat Muncar Lukman Hakim saat dihubungi.

Hamparan sampah di Pantai Sampangan, Desa Kedungrejo, Kecamatan Muncar, Jumat 10 Mei 2019. Warga terbiasa membuang sampah di pantai ditambah sampah di laut yang menepi. Foto: Ahmad Suudi

Dia mengatakan sebagian sampah-sampah itu juga hasil kiriman dari Bali dan dari muara sungai.

Buktinya, setelah dibersihkan secara kerja bakti, kata Camat Lukman, pantai kembali dipenuhi sampah beberapa hari kemudian. Hingga sampah terbawa ke laut saat pasang dan kembali menumpuk saat surut menjadi siklus rutin pemukiman pesisir di dekat Pelabuhan Muncar itu.

Namun sebetulnya sekitar 2,5 kilometer ke utara dari Pelabuhan ada Pantai Satelit yang dulu lebih penuh sampah di bagian muaranya.
Pantai yang dulu jadi ikon kotornya Muncar menjadi lebih bersih dengan sokongan Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) yang dikelola Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) setempat.

BACA JUGA: Bersih-bersih Everest, 3 Ton Sampah dan 4 Jasad Diturunkan

Tempat sampah berwarna hijau dan kuning untuk organik dan non organik milik Bumdes Tembokrejo terpasang di rumah-rumah dekat pantai, bahkan semua rumah di desa.

Semua sampah diambil setiap hari dan diangkut ke TPST dengan biaya Rp 10 ribu per bulan yang dibayarkan warga pada Bumdes.

Technical Facility Officier Systemiq Putra Perdana Kusuma (37) mengatakan, dengan sistem itu masyarakat tidak lagi membuang sampah ke sungai dan pantai.

Pemilahan sampah yang dilakukan di TPST mampu mengurangi pengiriman ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sebanyak 60 persen, karena bisa dijual setelah dibersihkan dan dipak.

Systemiq adalah perusahaan yang menginisiasi proyek pengelolaan sampah dan inkubasi bisnis kehutanan non kayu bermarkas di London, Inggris.

BACA JUGA: Surabaya Jadi Rujukan Pengelolaan Sampah ASEAN

Perusahaan ini memberikan berbagai perlengkapan dan sistem pengelolaan sampah pada TPST Tembokrejo. Satu tahun terakhir mereka mendampingi Bumdes di sisi manajemen dan TPST di sisi teknis.

"Dari 10 ribu rumah, kita mendapatkan 12 sampai 15 ton sampah per hari. Sebanyak 30 persen merupakan sampah plastik, dan lebih dari 50 persen merupakan sampah organik berisi banyak sampah kebun, sampah dapur malah sedikit," kata Putra.

Dia menjelaskan tantangan sejauh ini SDM yang kurang produktif dalam berkarya dan sulitnya menjual sampah non organik jenis sachet dan kresek.

Pengelolaan sampah yang dilakukan Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) di bawah Bumdes Tembokrejo yang didampingi Systemiq berhasil menyerap sampah warga. Foto: Ahmad Suudi

Proyeksi ke depan TPST Tembok Rejo akan melayani warga dari desa lain, dan akan dibangun satu TPST lagi di Desa Sumber Beras, masih di Kecamatan Muncar, juga untuk melayani warga dari beberapa desa.

BACA JUGA: Penyelaman Rekor Dunia Temukan Biota Baru dan Sampah Plastik

Riyanto salah satu warga yang tinggal di Pantai Satelit mengaku senang ada upaya untuk mengelola dan mengumpulkan sampah.

Pasalnya, dahulu saat melaut baling-baling perahunya kerap rusak tersangkut sampah hingga pernah harus ganti 2 kali dalam sehari. Padahal baling-baling baru seharga Rp 150 hingga Rp 200 ribu per buah.

Masalah selanjutnya, meski warga Tembok Rejo telah tertib membuang sampah di tempatnya, muara sungai di Pantai Satelit kerap membawa sampah dari hulu, terutama saat turun hujan.

Hingga kecamatan yang menerima dan memproduksi 48 ton sampah per hari itu harus bekerja lebih keras untuk membersihkan diri. "Kalau hujan coba main ke rumah saya sambil ngopi di teras, nanti kelihatan banyak sampah hanyut ikut sungai dari atas," kata Riyanto.

Baca Juga

loading...