Penyelaman Rekor Dunia Temukan Biota Baru dan Sampah Plastik

Dyah Ayu Pitaloka

Selasa, 14 Mei 2019 - 10:14

JATIMNET.COM, Surabaya - Rekor eksplorasi bawah laut terpecahkan oleh Victor Vescovo dengan penyelaman mencapai 11 kilometer, di Palung Mariana Samudra Pasifik.

Dalam penyelaman menggunakan kapal selama selama empat jam itu, Vescovo menemukan biota laut baru, dan juga kantong serta tali plastik.

Penyelaman ini tercatat sebagai kali ketiga capaian manusia, mendarat di kedalaman ekstrim di dasar laut.

Kedalaman Vescovo mencapai 11 km menempatkannya sebagai pemegang rekor terbaru, melampaui rekor penyelaman yang dilakukan sutradara film James Cameron di tahun 2012 dengan kedalaman 10.927 meter.

BACA JUGA: Kapal Tol Laut Segera Layani Rute Surabaya-Sulut

Termasuk melampaui penyelaman pertama kali di Palung Mariana tahun 1960, oleh seorang Letnan Angkatan Laut Amerika Serikat, Don Walsh, dan Insinyur asal Swiss, Jacques Piccard, dikutip dari Bbc, pada Selasa 14 Mei 2019.

Total, Vescovo dan timnya melakukan lima kali penyelaman ke dasar palung, selama ekspedisi berlangsung.

Penyelam robot juga diturunkan untuk mengesplorasi dataran yang terpencil.

"Hampir tak bisa dijelaskan betapa gembiranya kami ketika hendak mengetahui apa yang bisa kami capai,' kata Vescovo.

BACA JUGA: Tahun 2030 Lebih Banyak Plastik daripada Ikan di Laut

"Kapal selam dan kapal induk, serta tim ekspedisi yang luar biasa, membawa teknologi kelautan ke level tertinggi dengan menyelam-secara cepat dan berulang-ke kedalaman yang paling keras di dalam lautan,'.

Tim percaya telah menemukan empat spesies seperti udang, krustasea yang disebut amphipods, sebuah mahluk bernama spoon worm di kedalaman 7 ribu meter, dan dan siput ikan berwana pink di kedalaman 8 ribu.

Mereka juga menemukan singkapan batuan yang berwarna terang, diduga terbentuk dari mikroba di pasir dasar laut, serta mengoleksi contoh batu dari dasar laut.

Ada juga temuan polusi plastik. Temuan yang juga telah muncul dalam ekspedisi sebelumnya.

BACA JUGA; PBB Kontrol Pembuangan Sampah Plastik Global

Jutaan ton plastik memasuki lautan setiap tahun, namun tak banyak informasi diketahui tentang bagaimana sampah plastik itu berakhir.

Saat ini, ilmuwan berencana melakukan penelitian terhadap temuan mereka, untuk melihat apakah terkandung plastik di dalamnya.

Penelitian terbaru menunjukkan jika plastik menjadi masalah luas, bahkan bagi binatang yang hidup di kedalaman.

Penyelaman membentuk lima ekspedisi selam dalam sebuah upaya untuk mengeksplorasi poin terdalam di lima samudra.

BACA JUGA: Aksi Ecoton Desak Australia Cegah Penyelundupan Sampah Plastik 

Penyelaman ini didanai oleh Vescovo, investor swasta, yang sebelumnya juga telah melakukan pendakian puncak tertinggi di tujuh benua.

Lima penyelaman itu, selain di Palung Mariana, juga berlangsung di  Palung Puerto Rico di Samudra  Atlantik dengan kedalaman 8.376 meter, Palung Sandwich Selatan di Samudrea Selatan dengan kedalaman 7.433 meter, dan Palung Jawa di Samudra Hindia dengan kedalaman 7.192 meter. Semuanya dilakukan selama tujuh bulan terakhir.

Tantangan terakhir adalah menyelam di Palung Molloy Deep di Samudra Antartika, yang dijadwalkan berlangsung pada Agustus 2019.

Kapal selam sepanjang 4,6 meter, tinggi 3,7 meter, dengan nama DSV Limiting Factor, dirakit oleh perrusahaan asal Amerika Serikat Triton Submarines, dengan tujuan membuat kendaraan yang mampu menyelam berulang kali ke bagian manapun di lautan.

BACA JUGA: Pengguna Kantong Plastik di Tanzania Bisa Dipenjara

Pada inti kapal, terdapat lambung kapal berbahan titanium setebal 9 cm, dengan kapasitas untuk dua orang, sehingga penyelaman bisa dilakukan secara solo atau duet.

Kapal bisa bertahan dari tekanan di dasar laut yang mencapai 1000 bars, yang serupa dengan tumpukan 50 pesawat jumbo di atas satu manusia.

Selain bekerja dengan penuh tekanan, kapal juga dioperasikan dalam kondisi gelap gulita dan temperatur yang dingin beku.

Kondisi itu juga membawa kendala dalam upaya menangkap gambar dari lima ekspedisi penyelaman, yang dilakukan oleh Atlantic Production untuk film dokumenter milik Discovery Channel.

Baca Juga

loading...