Selasa, 29 June 2021 05:40 UTC

Deputi Menteri Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Pendidikan Dan Moderasi Beragama (Kemenko PMK) Prof. Dr. R. Agus Sartono
JATIMNET.COM, Surabaya - Deputi Menteri Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Pendidikan Dan Moderasi Beragama (Kemenko PMK) Prof. Dr. R. Agus Sartono menyebutkan bahwa dari sekitar 3,7 juta lulusan SMA, MA dan SMK tiap tahunnya, baru 1,8 juta yang diserap oleh perguruan tinggi.
"Artinya ada 1,9 juta anak muda kita belum bisa kuliah," kata Agus dalam Webinar Nasional: 'Strategi Kampus dan Sekolah Menyiapkan Penerimaan Mahasiswa Baru' di hadapan 2.700 pimpinan kampus se-Indonesia.
Kondisi ini baginya dipandang mengkhawatirkan. Terlebih bagi anak muda yang tak bisa kuliah karena kondisi ekonomi atau keterbatasan bangku kuliah. Karena, anak-anak yang kurang beruntung tersebut akhirnya masuk ke lapangan kerja tanpa bekal yang maksimal.
"Dan para lulusan sekolah menengah yang masuk lapangan kerja itu, terpaksa harus bersaing dengan lulusan perguruan tinggi. Ini berlangsung hampir setiap tahun,” ia menuturkan.
Baca Juga: Jalur Zonasi Resmi Ditutup, Dispendik Surabaya Cek Jarak Tak Wajar di PPDB
Atas kondisi tersebut, Agus pun mendorong kampus di Indonesia senantiasa memperbaiki diri. Terlebih, pendidikan tinggi merupakan pilar tak terpisahkan dari siklus pembangunan manusia dan kebudayaan.
"Pembangunan manusia menuju Indonesia maju, caranya mencapai ya dengan memberi anak muda kita kesempatan seluas-luasnya untuk belajar," katanya.
"Oleh karena itu, pemerintah terus berkomitmen memfasilitasi kampus agar meningkatkan kualitas, menyediakan program bantuan seperti Kartu Indonesia Pintar Kuliah, serta beragam kebijakan lainnya dalam rangka meningkatkan angka partisipasi kasar kuliah," ia menambahkan.
Sementara, Wakil Forum Rektor Indonesia (FRI), Dr. Ir. Drajat Martianto memberikan contoh atas pengembangan kualitas yang terus dilakukan oleh pihaknya.
Baca Juga: CPDB Penghafal Kitab Suci di Surabaya Mulai Dites, Peserta Lulus Dapat Surat dari Kemenag
Misalnya dalam rangka membuka akses pendidikan yang lebih luas, dilakukan terobosan dalam proses dan program penerimaan mahasiswa baru. Selain itu, masalah ekonomi saat berkuliah juga perlu diperhatikan. Saat ini, Kartu Indonesia Pintar Kuliah telah memfasilitasi anak muda untuk berkuliah secara gratis dan mendapat uang saku tiap bulan.
"Akan tetapi, belum ada jaminan bahwa anak tersebut nantinya selepas kuliah akan mendapatkan pekerjaan. Padahal tak sedikit anak yang tumbuh dewasa tersebut diharapkan nantinya menjadi tulang punggung keluarga," kata Drajat.
Meski berat, ia menekankan bahwa perbaikan tersebut tak perlu dilakukan sendiri. Perguruan tinggi bisa memanfaatkan dan menggandeng perusahaan dan alumni untuk menjadi sponsor atas program-program yang sedang digalang kampus.
“Misalnya untuk tantangan ekonomi, perguruan tinggi juga harus menyiapkan beberapa bentuk beasiswa. Perguruan tinggi bisa menggandeng para alumni untuk menjadi donatur dalam menyediakan beasiswa tersebut. Tidak harus jadi single fighter,” ia memaparkan.
Baca Juga: Sekolah Animasi dan Kelas Industri Dibangun di KEK Singhasari Malang
Di lain pihak, Ketua Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia sekaligus Mantan Rektor Universitas PGRI Adibuana Surabaya, Djoko Adi Waluyo dalam webinar yang sama juga merekomendasikan dimanfaatkannya teknologi untuk mengatasi masalah-masalah di kampus.
Karena dengan teknologi, biaya seperti gedung, listrik kampus, dan promosi dapat ditekan. Selain itu, kuliah dan penerimaan mahasiswa baru juga bisa berlangsung dengan lancar di masa pandemi karena tidak perlu dilakukan secara tatap muka.
"Teknologi juga saya nilai sebagai salah satu alat yang jitu untuk menyelesaikan masalah di kampus," ia memungkasi.
