Jumat, 17 July 2026 06:12 UTC

Josephine Aprilia, Felicia Tiffany T, Jovianne Vevina, Sabina Ananda V, dan Edwin Tirtana dari Fakultas Teknobiologi serta Fakultas Bisnis dan Ekonomika Ubaya menunjukkan camilan dari daun mangga dan kulit kacang, Jumat, 17 Juli 2026. Foto: Januar
JATIMNET.COM, Surabaya – Lima mahasiswa Universitas Surabaya (Ubaya) berhasil mengembangkan inovasi pangan fungsional berupa Mangonut Bar, camilan sehat yang memanfaatkan daun mangga dan kulit kacang tanah sebagai bahan baku utama. Produk ini mengombinasikan potensi senyawa antidiabetes pada daun mangga dengan kandungan antioksidan dari kulit kacang tanah.
Inovasi tersebut dipamerkan di Gedung Fakultas Teknobiologi Kampus Ubaya Tenggilis, Jumat, 17 Juli 2026. Mangonut Bar dikembangkan oleh Josephine Aprilia, Felicia Tiffany T, Jovianne Vevina, Sabina Ananda V, dan Edwin Tirtana dari Fakultas Teknobiologi serta Fakultas Bisnis dan Ekonomika Ubaya.
Ketua tim, Josephine Aprilia, menjelaskan ide pengembangan Mangonut Bar muncul dari tingginya angka penderita diabetes melitus di Indonesia. Tim kemudian melakukan kajian dan menemukan bahwa daun mangga mengandung mangiferin, senyawa aktif yang berpotensi membantu mengendalikan kadar gula darah.
"Setelah kami cari tahu, ternyata daun mangga memiliki senyawa antidiabetes berupa mangiferin. Pemanfaatan ekstrak daun mangga dapat mencegah lonjakan kadar gula dalam darah karena proses penyerapan glukosa yang menurun," kata Josephine.
Selain memanfaatkan daun mangga, tim juga melihat peluang mengolah kulit kacang tanah yang selama ini lebih banyak menjadi limbah. Padahal, bahan tersebut memiliki kandungan antioksidan yang berpotensi membantu melindungi tubuh dari paparan radikal bebas.
"Kami juga menyadari konsumsi kacang tanah di Indonesia sangat tinggi, tetapi limbah kulitnya belum banyak dimanfaatkan. Padahal, kulit kacang tanah mengandung antioksidan yang dapat melindungi tubuh dari paparan radikal bebas. Dari situ kami mencetuskan ide camilan sehat yang ramah lingkungan dengan memanfaatkan daun mangga dan kulit kacang tanah sebagai bahan baku utama," ujarnya.
Josephine mengungkapkan, proses pengembangan Mangonut Bar memakan waktu sekitar tiga bulan, mulai dari penyusunan konsep hingga menghasilkan produk siap konsumsi. Selama proses tersebut, tim melakukan berbagai uji coba untuk mendapatkan tekstur, aroma, dan cita rasa yang sesuai dengan selera konsumen.
"Tantangan utamanya karena kami berasal dari fakultas yang berbeda, sehingga menyesuaikan jadwal dan kesibukannya cukup sulit. Selain itu, butuh beberapa kali percobaan agar produk yang dihasilkan memiliki tekstur, rasa, dan aroma yang enak," katanya.
Di bawah bimbingan Dr. Gabriel Tirtawijaya, tim memulai proses produksi dengan mengeringkan daun mangga pada suhu 55 derajat Celsius selama sekitar satu setengah jam agar kandungan nutrisinya tetap terjaga. Setelah itu, daun dihaluskan menjadi bubuk.
Sementara itu, kulit kacang tanah dikeringkan pada suhu 60 derajat Celsius selama dua jam sebelum diolah menjadi serbuk. Bubuk daun mangga dan serbuk kulit kacang tanah kemudian dicampur dengan mentega, erythritol, madu murni, telur, tepung maizena, kacang tanah panggang, serta rice crispy. Seluruh bahan kemudian dipanggang hingga menjadi camilan berbentuk bar.
Menurut Josephine, Mangonut Bar memiliki peluang besar untuk dikembangkan secara komersial karena menggunakan bahan baku yang mudah diperoleh dan proses produksinya relatif sederhana.
"Kami berharap inovasi ini dapat menginspirasi munculnya ide-ide yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat luas. Selain itu, inovasi Mangonut ini sangat potensial untuk diproduksi dalam skala industri karena bahan baku yang mudah ditemukan, proses pembuatan yang sederhana, dan modal yang tidak terlalu tinggi," ujarnya.
Sebelumnya, Mangonut Bar telah meraih medali emas kategori Pangan, Favorite Poster kategori Pangan, serta Juara Harapan III seluruh kategori dalam ajang Mandalika Essay Competition 8.
"Prestasi tersebut menjadi bukti bahwa pemanfaatan daun mangga dan kulit kacang tanah tidak hanya berpotensi mendukung kesehatan masyarakat, tetapi juga meningkatkan nilai ekonomi limbah pertanian melalui inovasi pangan fungsional," jelas Josephine.
