Kamis, 16 July 2026 09:49 UTC

Para anak-anak asal Kabupaten Mojokerto yang diberangkatkan untuk menjadi peserta didik di Sekolah Rakyat Kota Kediri, sembari menunggu selesainya pembangunan gedung SR di daerah asalnya. Foto: Wanto
JATIMNET.COM, Surabaya – Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Dinas Sosial (Dinsos) memperluas akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga miskin dan rentan melalui program Sekolah Rakyat (SR). Pada tahun ajaran 2026/2027, program tersebut menyiapkan daya tampung sekitar 5.380 siswa yang tersebar di 18 Sekolah Rakyat permanen dan 11 Sekolah Rakyat rintisan.
Kepala Dinas Sosial Jawa Timur Restu Novi Widiani mengatakan, keberadaan sekolah permanen dan rintisan dipertahankan agar semakin banyak anak dari keluarga kurang mampu memperoleh akses pendidikan yang layak.
Saat ini, tiga Sekolah Rakyat permanen di Kabupaten Kediri, Kota Kediri, dan Kabupaten Jember telah memulai kegiatan belajar mengajar bersamaan dengan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).
"Dari 18 sekolah permanen, saat ini sudah ada tiga daerah yang mulai melaksanakan pembelajaran sekaligus Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), yakni Kabupaten Kediri, Kota Kediri, dan Kabupaten Jember. Masing-masing daerah memiliki satu Sekolah Rakyat permanen yang sudah menerima murid," katanya kepada wartawan Jatimnet, Kamis, 16 Juli 2026.
Menurut Restu, setiap Sekolah Rakyat permanen memiliki kapasitas yang sama, yakni tiga rombongan belajar (rombel) untuk jenjang SD, tiga rombel SMP, dan tiga rombel SMA. Setiap rombel diisi 30 peserta didik sehingga satu sekolah mampu menampung hingga 270 siswa.
BACA: Ditargetkan Rampung Akhir Juli, Progres Sekolah Rakyat Capai 92 Persen
"Setiap rombel berisi 30 siswa. Jadi satu Sekolah Rakyat permanen memiliki daya tampung sebanyak 270 siswa," katanya.
Jika digabungkan dengan Sekolah Rakyat rintisan yang juga menerima peserta didik baru, total kuota yang tersedia di Jawa Timur mencapai sekitar 5.380 siswa.
Sebelum MPLS dimulai, seluruh Sekolah Rakyat menggelar open house dengan mengundang calon siswa beserta orang tua. Mereka diajak melihat langsung lingkungan sekolah, asrama, ruang belajar, serta berbagai fasilitas pendidikan yang tersedia.
Restu menyebut setiap Sekolah Rakyat dibangun di atas lahan sekitar 5,5 hingga 6,5 hektare dengan fasilitas pendukung berupa asrama, kamar yang layak, hingga sarana pendidikan untuk menunjang proses belajar.
Ia mengungkapkan banyak orang tua merasakan perubahan positif setelah anak-anak mereka menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat. Selain lebih percaya diri, kondisi kesehatan siswa dinilai semakin baik dan bakat mereka berkembang melalui berbagai kegiatan.
BACA: Begini Mekanisme Seleksi Sekolah Rakyat di Jatim, Prioritaskan Anak Putus Sekolah
"Orang tua banyak menyampaikan perubahan positif setelah anak-anak mereka belajar di Sekolah Rakyat. Mereka menjadi lebih percaya diri, kondisi fisiknya lebih sehat, dan bakatnya mulai berkembang melalui berbagai kegiatan seperti baris-berbaris maupun pencak silat," ujarnya.
Untuk memastikan kuota tersebut tepat sasaran, Dinsos Jatim menerapkan mekanisme seleksi khusus berbasis Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN). Sistem ini memprioritaskan anak-anak dari keluarga miskin yang putus sekolah atau belum pernah mengenyam pendidikan.
Selain itu, Dinsos Jatim juga tengah fokus mencari dan menjemput anak-anak yang putus sekolah.
