BPS: Tidak Ada Provinsi dengan IPM Rendah

Rochman Arief

Senin, 15 April 2019 - 13:21

JATIMNET.COM Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan bahwa sudah tidak ada lagi provinsi di Indonesia yang memiliki status Indeks Pembangunan Manusia (IPM) rendah.

"Papua sudah meningkat statusnya dari rendah ke sedang, sehingga diskrepansi antarprovinsi makin mengecil,” kata Kepala BPS Suhariyanto dalam konferensi pers di Jakarta, Senin 15 April 2019.

Berdasarkan data BPS, secara umum ada delapan provinsi yang naik kelas dalam status pembangunan manusianya. Sebanyak tujuh provinsi yang berstatus IPM sedang pada tahun 2017, berubah statusnya menjadi tinggi.

BACA JUGA: Angkutan Udara dan Bawang Penyumbang Inflasi Maret 2019

Tujuh provinsi tersebut meliputi Jambi, Bengkulu, Bangka Belitung, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Utara, dan Sulawesi Tenggara. Sementara Papua ‘naik kelas’ dari rendah ke sedang.

Selain itu, selama periode 2017 hingga 2018, IPM di seluruh provinsi juga meningkat. Tercatat tiga provinsi dengan kemajuan pembangunan tercepat yaitu Papua (1,64 persen), Sulawesi Barat (1,24 persen), dan Papua Barat (1,19 persen).

Kemajuan pembangunan manusia di Papua didorong oleh dimensi pendidikan. Adapun di Papua Barat didorong oleh dimensi standar hidup layak, sedangkan di Sulawesi Barat lebih dikarenakan perbaikan dimensi pendidikan dan standar hidup layak.

BACA JUGA: Kota Malang Catat Inflasi Tertinggi di Jatim

IPM diperkenalkan oleh Program Pembangunan PBB (UNDP) pada tahun 1990 yang direvisi pada 2010. BPS mengadopsi perubahan metodologi penghitungan IPM yang baru pada 2015 dan melakukan backcasting sejak 2010.

Sebagaimana diwartakan, BPS mencatat bahwa pembangunan manusia di Indonesia terus menunjukkan grafik kemajuan, yaitu IPM tahun 2018 mencapai 71,39, naik 0,58 poin atau tumbuh 0,82 persen dibandingkan 2017.

“IPM 2018 naik karena dari seluruh komponennya mengalami peningkatan,” lanjutnya.

Sebagaimana diketahui, IPM memperhatikan tiga aspek esensial yaitu dimensi kesehatan, umur panjang dan hidup sehat, dimensi pengetahuan, serta dimensi standar hidup layak. (ant)

Baca Juga

loading...