TAK sampai sehari setelah tiba di rumah, Yanti membayar janji pada rekan sepenampungan buruh migran di Suriah. Ia menghubungi anak Suntina, Ahmad Faruq (25), warga Kademangan Kecamatan Pagelaran, dan dan suami Nur Hamidah, Muhammad Abdul Rouf (40), warga Brongkal di kecamatan yang sama. “Semuanya minta pulang,” kata Yanti.

Jatimnet.com menemui Rouf dan Faruq. Berikut laporannya.

GELISAH. Muhammad Abdul Rouf, suami Nur Hamidah menunjukkan foto kopi paspor milik istrinya. Foto: Dyah Ayu.

Rouf gelisah. Duduknya tak tenang. Berkali-kali ia menggaruk kepala meski tak gatal. “Saya takut istri saya dicuci otaknya sama ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah),” kata Abdul Rouf membuka percakapan pada Senin 28 Januari 2019.

Awal Agustus 2018, Nur Hamidah (37), istrinya, pamit pergi ke Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Berbulan-bulan tak ada kabar, Yanti datang mengabarkan, Hamidah kini tinggal di sebuah penampungan buruh migran di Aleppo, Suriah. “Dia ingin pulang, kondisinya ketakutan,” katanya.

Hamidah mengawali perjalanan di Surabaya. Terbang ke Malaysia, ia lalu menuju Maroko dan Uni Emirat Arab. Meski pesawatnya mendarat di Abu Dhabi, ia tak pernah bekerja di kota itu.

BACA JUGA: Kisah Resah di Suriah

Rouf mengatakan sebelum kabar dari Yanti tiba, seorang pekerja migran asal Kalipare, Malang pernah meneleponnya. Ia seorang perempuan dan mengaku kawan seperjalanan Hamidah dari Indonesia. Pada Rouf, ia bercerita tinggal sepekan di Abu Dhabi bersama Hamidah.

“Ia bilang setelah pesawatnya mendarat di Abu Dabi, istri saya sempat menunggu majikan di bandara. Karena tak ada majikan yang menjemput, mereka menunggu di penampungan Abu Dhabi sampai seminggu,” katanya.

Kabar teranyar datang dari Yanti. Dari Abu Dhabi, Hamidah dibawa ke Damaskus. Setelah ditampung beberapa saat di ibu kota Suriah itu, ia dibawa ke Aleppo.

PENAMPUNGAN. Hamidah bersama rekan sesama buruh migran di tempat penampungan. Tak ada keterangan tempat foto diambil. (Kanan) Kondisi penampungan di Aleppo, Suriah. Foto: diolah.

Keyakinannya bertambah kuat ketika seorang perempuan yang mengaku sesama rekan Hamidah di Aleppo menelepon. Dengan cara sembunyi-sembunyi, ia mengabarkan kondisi Hamidah di penampungan. “Istri saya minta dipulangkan, di sana nangis terus. Setiap saat terdengar ledakan bom dan tembak-menembak di sekitar penampungan,” kata Rouf, menceritakan kabar dari perempuan itu.

Ia, kata Rouf melanjutkan, juga mengabarkan Hamidah sempat bekerja di rumah salah seorang karyawan penampungan tanpa digaji. Tak lama ia bekerja di sana. Dikembalikan ke penampungan, Hamidah justru mendapat cacian. Ia dinilai tak becus bekerja.

Kontak terakhir dengan perempuan itu, kata Rouf, berlangsung pada 11 Januari 2019. Setelah itu, kabar tentang Hamidah benar-benar terputus. “Katanya (saat itu) dia bisa pakai hape (untuk menelepon) karena dapat bocoran wifi, mungkin sekarang sudah ketahuan agen,” katanya, menduga-duga.

BACA JUGA: Dijanjikan Kerja di Dubai, Terdampar di Aleppo

Tak berselang lama sebelum benar-benar putus kontak, Rouf mendapat kiriman video berdurasi 14 detik. Ia lupa kapan tepatnya. Yang jelas dalam video itu, tampak Hamidah mengenakan kerudung putih dengan jaket rajutan berwarna biru. Di sana, Hamidah mengatakan dalam kondisi baik-baik saja. Tak ada penganiayaan yang menimpanya.

Tapi Yanti, juga kawan Hamidah yang menghubungi Rouf, menyatakan keterangan dalam video itu palsu. Hamidah dipaksa pengelola penampungan agar bercerita tak pernah mengalami penyiksaan. “Dia akan dipukul jika tak mau menuruti permintaan agen,” katanya, menirukan keterangan yang ia dapat.

Kalut, Rouf pun mendatangi Muhammad Ridoi, sponsor yang memberangkatkan Hamidah ke luar negeri. Doi, begitu Ketua RT 40 Dusun Gunung Pandak Desa Kademangan Kecamatan Pagelaran Malang itu biasa disapa, justru melempar tanggungjawab pada Hasinuddin, sponsor di atasnya.  Hasinuddin, atau dikenal dengan Haji Ibrahim, warga Balearjo Kecamatan Pagelaran. “Sponsor cuma bilang sedang diurus tapi tak pernah ada kejelasan sampai sekarang,” kata dia.

Dari sponsor pemberangkatan, Hamidah mendapat uang saku Rp 10 juta. Separuh uang itu diberikan Hamidah pada Rouf untuk modal modal beternak burung. “Sekarang saya cuma ingin istri saya pulang,” kata dia.

RUMAH RIDOI. Rumah Ridoi di Desa Gunung Pandak Kecamatan Pagelaran Kabupaten Malang. Sehari-hari, Doi jadi Ketua RT 40 di kampungnya. Foto: Dyah Ayu. 

Jatimnet.com dan sejumlah awak media di Malang, berusaha mewawancarai Ridoi dan Ibrahim alias Hasinuddin pada Rabu 30 Januari 2019.

Kami mendatangi rumah Doi di Gunung Pandak. Siang hari itu, tiga orang pekerja bangunan sedang merenovasi bagian samping rumah. Tapi rumah dengan plakat Ketua RT 40 itu terkunci rapat.

Ada tiga nomor telepon Doi di tangan kami. Dua dari seorang lelaki yang mengaku masih berkerabat dengan Doi, ternyata tak aktif saat dihubungi. Sementara satu nomor kami dapat dari Rouf. Kedua orang ini memang sudah lama saling kenal. Nomor itu tersambung. Pada kami, Doi berjanji segera pulang. Dan kami menanti kedatangannya.

20 menit berselang, Doi tak datang. Hanya Halimah, istrinya yang tampak. Pada kami, ia mengaku baru saja pulang dari rumah Ibrahim. Doi juga ada di sana.

Halimah mengakui jika suaminya menjadi sponsor untuk keberangkatan Hamidah. Tapi, rencana keberangkatan itu merupakan permintaan Hamidah dan Rouf. “Waktu itu dia (Hamidah) dan suaminya datang ke sini, jadi bukan suami saya yang mencari mereka,” katanya.

Menurut dia, proses pemberangkatan buruh migran didasarkan permintaan pekerja dari agen di negara tujuan. Ia menyebutnya sebagai calling visa. Pola seperti itulah yang berlaku untuk keberangkatan Hamidah ke Abu Dhabi. Di kota tujuan, mereka ditempatkan dalam satu rumah bersaam perempuan lain asal Malang.

RUMAH IBRAHIM. Rumah Ibrahim alias Hasinuddin di Balearjo Kecamatan Pagelaran Kabupaten Malang berhias poster pencalonannya sebagai legislator dari Partai Golkar. Ibrahim adalah sponsor pemberangkatan Hamidah ke Timur Tengah. Foto: Dyah Ayu. 

Tapi, ia mengatakan, tak tahu menahu di kota dan negara mana Hamidah ditempatkan bekerja. Bahkan ia pun tak paham bagaimana Hamidah bisa menghuni penampungan di Aleppo, Suriah. “Saya nggak ngurusin langsung ke depan,” katanya.

Menurut dia, Doi bukanlah tangan pertama dalam rantai pemberangkatan Hamidah ke Abu Dhabi. “Dari sini dikasih ke Pak Ibrahim, dari Pak Ibrahim ke Mbak Uda,” katanya.

Untuk menyelesaikan persoalan ini, ia mengatakan, pihak sponsor sudah berupaya melakukan mediasi dengan keluarga Hamidah pada Selasa 29 Januari 2019 petang. Hadir di sana Doi, Ibrahim, Uda, dan dirinya. Sedangkan dari keluarga Hamidah, diwakili ibu dan kakaknya. Dalam mediasi yang digelar di rumah Kepala Desa Brongkal Ali Hasan, sponsor mempertontonkan video berisi kesaksian Hamidah di penampungan.

Dari rumah Doi, kami menuju rumah Ibrahim. Pagar rumahnya terbuka, tapi tak terlihat penghuni di dalamnya. Seorang remaja keluar menyapu teras. Ia memperkenalkan diri sebagai anak Ibrahim. “Bapak tidak ada. Nggak tahu jam berapa pulangnya. Saya anaknya,” katanya.

Ia mengakui, bapaknya merupakan sponsor pemberangkatan buruh migran ke luar negeri. “Iya, Bapak sponsor,” katanya sembari memberi nomor telepon Ibrahim pada kami.

Kami coba menghubungi. Nomor tersambung tapi tak ada menyahut.

Ali Hasan, Kades Brongkal, membenarkan ada mediasi antara pihak sponsor dan keluarga Hamidah di rumahnya. Tapi ia tak banyak berkomentar tentang pertemuan itu. Lagi pula, ia mengatakan hanya sebatas penyedia tempat saja. “Mereka yang berunding, terus terang saya nggak bisa ngasih informasi,” katanya.

RINDU IBU. Anak Suntina, Ahmad Faruq (25), warga Kademangan Kecamatan Pagelaran. Sejak pergi menjadi buruh migran di Timur Tengah, Suntina jarang berkabar kondisinya di negeri rantau. Foto: Dyah Ayu.

Secuil informasi dari Yanti itu bak pelepas dahaga bagi Ahmad Faruq, anak bungsu Suntina. Sejak bus yang membawa rombongan buruh migran asal Malang meninggalkan Kepanjen menuju Jakarta pada 27 September 2018, ia putus kontak dengan ibunya. “Kabar terakhir ketika ibu masih di Jakarta. Setelah itu tak ada kontak lagi, sampai mbak Yanti berkirim pesan suara kepada saya,” katanya, Rabu 30 Januari 2019.

Dari keterangan Yanti, rekan seperjalanan ibunya menuju Dubai, Faruq mulai memiliki gambaran kondisi Suntina di tanah rantau. Terlebih setelahnya, pada 31 Desember 2018, ibunya menghubungi melalui panggilan video.

Saat itu, Suntina mengatakan baru saja bekerja selama sepekan di rumah majikan baru, seorang karyawan penampungan di Aleppo. Telepon yang ia gunakan merupakan pinjaman majikan itu. Pada Rouf, Suntina mengabarkan kondisinya baik-baik saja dan belum berniat pulang ke Malang.

Tapi sepekan sepekan kemudian, pada 6 Januari 2019, Rouf mendapat kabar Suntina dikembalikan ke penampungan. Kakinya bengkak setelah terjatuh dari tangga.  Karena tak bisa bekerja seperti biasa, di penampungan, ibunya disekap di kamar mandi.

11 Januari 2019, sebuah sepotong pesan mendarat di nomor Whatsapp Rouf. Di sana ibunya menulis, ““Assalamualaikum. Kamu sekarang di mana, maafin mama ya Nak nyusahin kamu terus.”

“Setelah itu nggak ada kabar lagi,” kata Rouf.

SENASIB. Suntina (kiri) dan Hamidah (kanan). Sejumlah buruh migran asal Malang masih tertahan di penampungan dalam Aleppo, Suriah. Ingin pulang tapi tak bisa. Foto: diolah. 

Khawatir keselamatan dan kondisi kesehatan ibunya, Rouf berusaha menghubungi sponsor pemberangkatan. Ia mengenalnya sebagai Cak Kaji, warga Rejoyoso, Bantur. Melalui pesan singkat telepon genggam, Cak Kaji berjanji menanyakan kondisi Suntina pada agen. Tapi Faruq tak pernah tahu agen yang dimaksud dan di mana alamat kantornya.

Faruq mengisahkan, sebelum berangkat ke Dubai, Suntina kerap mengeluh sakit kepala dan gangguan kolestorel. Meski dilarang berangkat bekerja ke luar negeri, ia bergeming. “Saya sudah menahan keinginannya. Tapi ibu selalu bilang tidak ingin merepotkan saya dan ingin kerja lagi,” katanya.

Lewat sponsor, Suntina mempersiapkan keberangkatan. Mulanya mengurus paspor di kantor Imigrasi Banyuwangi tapi gagal. Sponsor lalu memindahkan proses pengurusan paspor ke Kantor Imigasi Kediri. Paspor didapat, Suntina berangkat.

Suntina juga menerima uang saku dari sponsor. Tapi jumlahnya lebih kecil dibanding uang saku yang diterima Nur Hamidah dan Yanti. Ia hanya menerima Rp 2 juta.

Bagi Rouf, keinginannya kini hanya satu. Ibunya bisa pulang ke Malang dengan selamat. Karena bayangan tentang kondisi ibunya yang sakit-sakitan terus menghantuinya tiap malam.