126 Tahun, Langgar Kayu Baru Dilirik Pemkot Surabaya

Khoirotul Lathifiyah

Senin, 20 Mei 2019 - 11:53

JATIMNET.COM, Surabaya – Langgar atau musala Kayu di Peneleh telah berusia 126 tahun mendapat perhatian khusus Wali Kota Surabaya pada sidak Sabtu 18 Mei 2019 lalu.

Langgar yang berada di tengah-tengah perkampungan yang didominasi masyarakat Madura ini berada di Lawang Seketeng Gang Enam, Kelurahan Peneleh. Melalui jalan dengan ukuran yang tidak lebar, warga dan pendatang harus turun dari kendaraan roda dua jika melaluinya.

Warga Lawang Seketeng sekaligus Anggota Laskar Suroboyo, Andi Kusuma mengungkapkan Langgar Kayu itu berdiri pada bulan Januari tahun 1893.  “Di sana terdapat prasasti huruf Arab bego yang berbunyi awetipun jumeneng puniko langgar di dalamnya," katanya.

Pada saat masa-masa pra kemerdekaan, Langgar Kayu sering dijadikan pos komando dari para pemuda ansor yang dipimpin Haji Nawawi Mansyur. “Tempat itu untuk rapat, di lantai bawah mereka mengatur strategi menghadapi kolonial Belanda,” kata Andi.

BACA JUGA: Mengingat Tradisi Lek-Lekan Saat Sahur di Kawasan Ampel Surabaya

Ada yang berbeda dari tempat bersejarah dengan luas 7 x 8 meter tersebut, yakni tak semua orang dapat masuk ke langgar untuk beribadah, dengan alasan terlalu tinggi. Alasan kedua, ada beberapa titik kayu yang sudah lapuk dan harus dijaga agar tidak ambrol.

“Di sini ada dua musala besar yang tidak harus naik seperti di Musala Kayu. Masyarakat di sini cenderung salat di musala yang gampang melangkah saja, tidak harus naik seperti di Musala Kayu,” ujar Andi.

Rupanya pada tanggal 8 Agustus 1985 Langgar Kayu pernah direnovasi. Salah satunya adalah pengecatan bagian bawah menggunakan kapur gamping. “Pada 8 Agustus 1985, ada tulisan bahwa langgar itu pernah dicat ulang. Itu sebagai bukti,” tambahnya.

ALAMI. Struktur bangunan langgar Kayu di Lawang Seketeng Gang Enam masih terlihat asli dan terlihat kurang perawatan. Foto: Khoirotul Lathifiyah.

Untuk saat ini, para tokoh masyarakat di Lawang Seketeng Gang Enam berusaha memanfaatkannya lagi. Dengan cara menghidupkan kembali kesenian hadrah dari kalangan masyarakat keturunan Madura yang pernah memainkannya.

“Dulu banyak (yang memainkan hadrah), sekarang sudah tua dan ada yang sudah meninggal. Saat ini coba diaktifkan kembali. Jadi kembali kepada masa lalu ada kesenian hadrah," ucapnya.

Untuk pemakaian kegiatan di langgar yang terbuat dari bahan kayu jati tetap di bawah, sama seperti kegiatan pengajian. Sebab untuk yang di atas hanya dipergunakan untuk salat, tidak untuk yang lainnya.

Untuk perawatan dari langgar tersebut dilakukan oleh warga sekitar, kebanyakan dari orang Madura. Dengan menyisihkan sebagian rezekinya untuk melakukan perawatan langgar hingga saat ini. Sejauh ini tidak ada intervensi perawatan dari pemerintah.

BACA JUGA: Disbudpar Surabaya Kembali Revitalisasi Kota Lama Pekan Ini

Langgar Kayu ini belum menjadi cagar budaya di Surabaya. Andi sebagai warga dan anggota Laskar Suroboyo mengharapkan tempat ini menjadi cagar budaya. Bahkan slot yang ada di pagar Langgar masih ada merek dari Belanda, dan itu asli.

"So pasti saya berharap Langgar Kayu menjadi cagar budaya. Sekitar satu atau dua minggu yang lalu, Dinas Pariwisata Surabaya datang bersama Profesor Johan Silas, sepertinya meneliti musala ini,” jelasnya.

Dia berharap Pemkot Surabaya lebih peduli seperti masalah listrik yang selama ini masih ditanggung warga. Warga harus menyisihkan uangnya dan mengumpulkan bersama, untuk membayar listrik agar tidak padam.

“Selama ini pemerintah mungkin tidak tahu, bukan saya mengatakan pemkot tidak perhatian. Bisa juga karena keterbatasan informasi, sehingga tidak tahu ada peninggalan bersejarah,” tutupnya.

Baca Juga

loading...