Waskita Jawi, Pesantren dengan Mayoritas Santri Keluarga Tak Mampu

Gayuh Satria Wicaksono

Rabu, 22 Mei 2019 - 15:43

JATIMNET.COM, Ponorogo – Di Kelurahan Brotonegaran, Kecamatan Ponorogo terdapat sebuah pondok pesantren dengan mayoritas santri berasal dari anak jalanan dan keluarga tak mampu. Diasuh Muhamad Zizulhak Samsul Falaqi, kabikuan atau pesantren di Jalan Yos Sudarso itu bernama Waskita Jawi.

“Banyaknya anak yang kurang mendapat perhatian dalam pendidikan agama, kemudian saya menampung mereka dan mengajari mengaji kitab,” kata Zizulhak, Rabu 22 Mei 2019.

Karena penampilannya yang nyentrik, berambut gondrong, Zizulhak juga akrab disapa Gus Gondrong. Ia pendiri sekaligus pengasuh pesantren bersantri sekitar 160 orang itu.

Tak semua santri bermukim di asrama. Sebagian tinggal, sebagian lain pulang di rumah. Sore hari itu, tampak belasan santri meriung untuk belajar ngaji. Selain belajar mendaras kita, mereka juga diberi keterampilan berwirausaha, melalui produksi blangkon.

BACA JUGA: Pesantren di Blitar Rutin Gelar Tarawih Kilat

Gus Gondrong mengatakan tak sepeser pun memungut biaya pada santri. Tapi untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, santri diberi sarana kerja memproduksi blangkon.

“Harga dari blangkon ini mulai dari puluhan ribu sampai jutaan rupiah, keuntungannya digunakan untuk santri di pondok,” katanya.

BERBAGI. Pengasuh Pesantren Waskita Jawi Muhamad Zizulhak Samsul Falaqi bicara di depan santri. Selain mengajarkan ilmu agama, pesantren ini juga mengajarkan santri hidup mandiri. Foto: Gayuh S.

Dalam kabikuannya, Gus Gondrong juga mengajari para santri berbahasa Arab. Mulai dari tata bahasa, seperti tasrifan dan bentuk-bentuk perubahan bahasa Arab.

“Al Quran kan menggunakan bahasa Arab, di sini santri juga saya ajari bahasa biar cepat paham,” ujarnya.

BACA JUGA: Mitos Kudis dan Santri di Pesantren

Pelajaran lain di pesantren ini adalah pendidikan akhlak melalui syair berbahasa Jawa “Ngudi Susilo” karya dari KH Bisri Mustofa dari Rembang. Ini penting agar santri tahu bertata krama.

“Syair tersebut sampai di Ponorogo diajarkan oleh ayah saya, dan sampai saat ini masih saya kembangkan ke santri,” tuturnya.

Pada bulan Ramadan ini, aktivitas mengaji di pesantren ini berlangsung bakda zuhur hingga tengah malam. Gus Gondrong mengajarkan pelajaran agama hingga sejarah Islam yang pernah didapat dari ayahnya.

“Semoga lulusan dari pesantren ini bisa mandiri dan mempunyai karya, selain itu harus punya kepribadian yang kuat, agar tidak mudah terpengaruh,” ujarnya.

Baca Juga

loading...