Mitos Kudis dan Santri di Pesantren

Hari Istiawan

Minggu, 7 April 2019 - 12:45

JATIMNET.COM, Surabaya – Penyakit kudis atau dalam bahasa medisnya disebut scabies sangat familiar di kalangan santri. Bahkan, menjadi sebuah mitos bahwa santri yang belum terkena penyakit kudis belum menjadi santri sejati.

Menteri Kesehatan Nila Moeleok menyampaikan, kudis merupakan penyakit kulit yang disebabkan oleh serangga/kutu. Biasanya akan menimbulkan rasa gatal pada kulit.

''Tolong jangan ada lagi santri yang mengidap kudis, karena para santri ini merupakan generasi penerus bangsa. Jadi harus sehat dan cantik,'' kata Menkes Nila Moeleok, mengutip laman web Depkes.go.id, Minggu 7 April 2019.

Ia menyarankan agar para santri yang terkena kudis segara berobat ke Pusat Kesehatan Pesantren (Puskestren). Selain itu, peran serta pihak pesantren untuk mengawasi kebersihan santri dan edukasi perilaku hidup sehat secara berkala dari pemerintah daerah juga diperlukan agar para santri terbebas dari kudis (scabies).

BACA JUGA: Menkes Imbau Masyarakat Waspada Segala Jenis Penyakit

''Kebersihan adalah sebagian dari iman, maka dari itu para santri harus selalu menjaga kebersihan diri sendiri dan lingkungan pesantren, terutama di kamar asrama dan kamar mandi,'' pesan Menkes.

Mengutip ejournal.litbang.depkes.go.id, kudis merupakan penyakit kulit yang endemis di wilayah beriklim tropis dan dan subtropis, serta merupakan penyakit kulit menular. Penyakit ini dalam Bahasa Jawa disebut gudig, sedangkan orang Sunda menyebutnya budug.

Penyakit ini juga sering disebut dengan kutu badan, budukan, gatas agogo, yang disebabkan oleh Sarcoptes scabiei varian hominis (sejenis kutu, tungau), ditandai dengan keluhan gatal, terutama pada malam hari dan ditularkan melalui kontak langsung atau tidak langsung melalui alas tempat tidur dan pakaian.

Infestasi tungau ini mudah menyebar dari orang ke orang melalui kontak fisik dan sering menyerang seluruh penghuni dalam satu rumah. Tungau betina membuat terowongan di bawah lapisan kulit paling atas dan menyimpan telurnya dalam lubang.

BACA JUGA: Ini Penyakit Autoimun Sering Serang Perempuan

Beberapa hari kemudian akan menetas tungau muda (larva). Infeksi menyebabkan gatal-gatal hebat, mungkinan merupakan suatu reaksi alergi terhadap tungau.

Kejadian skabies di negara berkembang termasuk Indonesia terkait dengan kemiskinan dengan tingkat kebersihan yang rendah, keterbatasan akses air bersih, kepadatan hunian dan kontak fisik antar individu memudahkan transmisi dan infentasi tungau skabies.

Salah satu faktor pendukung terjadinya penyakit skabies adalah sanitasi yang buruk dan dapat menyerang manusia yang hidup berkelompok, tinggal di asrama, barak-barak tentara, rumah tahanan dan pesantren maupun panti asuhan serta tempat-tempat yang lembab dan kurang mendapat sinar matahari.

Baca Juga

loading...