Walker Melek, Penebar Virus Baca Lewat Perpustakaan Jalanan

Yosibio

Senin, 27 Mei 2019 - 08:57

JATIMNET.COM, Blitar – Sederet buku bacaan beragam judul berderet di jalur pejalan kaki. Dengan alas tikar seadanya, buku bacaan anak-anak hingga pengetahuan umum digelar. Sapnduk bertulis “Perpustakaan Jalanan” dan ‘Baca Gratis” mengundang pejalan kaki mampir.

Siapa saja bisa meminjam dengan syarat menuliskan alamat rumahnya. Perpustakaan ini digagas oleh Komunitas Walker Melek yang prihatin karena kurangnya minat baca buku masyarakat di era teknologi digital.

"Kami ingin mengedukasi anak-anak agar kembali gemar membaca buku. Istilahnya menebar virus baca ke mereka, " kata Sugeng, anggota komunitas Walker Melek, yang memelopori perpustakaan jalanan ini, di Taman Wlingi, Kabupaten Blitar, Minggu 26 Mei 2019.

BACA JUGA: Permudah Pencarian Koleksi Perpustakaan, Surabaya Luncurkan Sistem Online Terpadu

Menurutnya, buku-buku perpustakaan jalanan ini mulai digelar setiap pukul 15.00 WIB hingga sekitar pukul 23.00 WIB. Biasanya dilakukan setiap akhir pekan, termasuk di bulan Ramadan.

"Kami buka mulai pukul 15.00 WIB hingga larut malam semampu kita dan kawan-kawan yang jaga, " ujar pemuda yang sehari-hari bekerja di toko kue ini.

Dalam membuka perpustakaan jalanan ini, beberapa komunitas lainnya di Blitar juga terlibat seperti komunitas reptil, komunitas sablon cungkil. Rata-rata mereka masih anak muda, dengan berbagai latar belakang pendidikan dan profesi.

BACA JUGA: Keraton Yogyakarta Bangun Perpustakaan Digital Khusus Naskah Kuno

"jika ngumpul semua ada puluhan orang dari berbagai komunitas," ungkap Sugeng.

Komunitas Walker Melek sudah berjalan sejak dua tahun lalu dan sempat vakum kemudian baru aktif kembali setahun terakhir. Walker Melek menurut Sugeng artinya pejalan yang melihat.

"Walker kan pejalan, melek dalam bahasa jawa berarti melihat, jadi pejalan yang melihat dunia, " tutur Sugeng.

Komunitas yang digawangi anak-anak muda dari berbagai wilayah di Wlingi ini ingin tetap eksis di tengah banyaknya pemuda yang “kecanduan” gadget.

“Kmai tetap ingin menumbuhkan minat baca buku konvensional terutama untuk anak-anak dan generasi muda,” ujar Sugeng.

Baca Juga

loading...