Untuk Tingkatkan Daya Saing

UMKM Dituntut Memiliki Riset Pasar

Baehaqi Almutoif
Baehaqi Almutoif

Kamis, 7 Februari 2019 - 16:28

JATIMNET.COM, Surabaya – Gubernur Jawa Timur Soekarwo mengusulkan konsep baru dalam memasarkan Industri Kecil Menengah (IKM) dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).

Pria yang sudah dua periode memimpin Jawa Timur itu meminta para pelaku usaha melakukan riset. Adapun riset tersebut digunakan untuk mencari tahu kebutuhan pasar, atau dengan kata lain tidak memikirkan pengiriman dan pengemasan.

“Jangan produk yang dipasarkan, tapi pasar itu memerlukan apa,” ujar Soekarwo saat menghadiri Seminar Nasional Pengembangan UMKM dan Workshop Menemus Pasar Digital di Hotel Sheraton Surabaya, Kamis 7 Februari 2019.

Gubernur yang akrab disapa Pakde Karwo itu menambahkan bahwa konsep yang disebutnya change in supply atau perubahan permintaan membutuhkan beberapa dukungan. Salah satunya adalah produksi dan pembiayaan dengan bunga kompetitif.

BACA JUGA: Risma Gratiskan 150 Pengajuan HAKI UMKM

Selain bunga murah, menurut Pakde, yang bisa juga menekan operasional adalah menghilangkan pengepul. IKM dipercaya akan mendapat keuntungan besar jika alur distribusi tak lagi melewati pengepul. Konsep ini sedang dikerjakan Pemprov Jawa Timur dengan menggandeng e-commerce.

Berdasarkan data dari Dinas Koperasi dan UKM Jawa Timur produk UMKM di Jatim masih didominasi makanan dan minuman, dengan kontribusi 60 persen dari total jumlah sekitar 12,1 juta.

Pada kesempatan yang sama, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyebut kontribusi industri manufaktur Indonesia terhadap pendapatan domestik bruto berada di level 20,5 persen pada 2017.

Menurutnya, capaian itu cukup bagus mengingat banyak negara-negara besar kontribusi industrinya berada di bawah Indonesia, seperti Amerika Serikat, Meksiko, India, Rusia dan Spanyol.

BACA JUGA: Pemprov Jatim Studi Banding Kembangkan UMKM Ke Ceko

“Kalau ada yang bilang kontribusi kita di bawah 30 persen berarti tidak mengerti. Yang nomor satu saja tidak di atas itu. Cina misalnya, hanya 28,8 persen,” ujar Ketua Umum Partai Golkar itu.

Selama periode 2015-2018, PDB industri pengolahan non migas terutama sektor manufaktur cukup menggembirakan. Arilangga menyampaikan rataan pertumbuhannya 4,87 persen. “Dengan nilai PDB pada tahun 2018 mencapai Rp 2.555,8 triliun,” ungkapnya.

Masih menurut Airlangga, sektor makanan dan minuman masih mendominasi industri non migas. Disusul industri tekstil, perhiasan, logam hingga alat angkut.

“Makanan dan minuman pada angka 8,71 persen dan yang masih belum optimal industri tekstil dan pakaian jadi masih 1,64 persen,” urainya.

Baca Juga

loading...