Senin, 22 June 2026 00:00 UTC

Ilustrasi: Berburu Gaya Hemat. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Tren thrifting bukan lagi sekadar aktivitas berburu pakaian bekas dengan harga murah. Dalam beberapa tahun terakhir, thrifting berkembang menjadi bagian dari gaya hidup generasi muda yang lebih sadar terhadap pengeluaran, lebih kreatif dalam berbusana, dan semakin peduli terhadap isu lingkungan.
Di berbagai kota besar, termasuk Surabaya, toko thrift dan pasar pakaian preloved semakin mudah ditemukan. Pengunjungnya pun beragam, mulai dari mahasiswa, pekerja muda, hingga kolektor fashion vintage.
Fenomena ini menunjukkan bahwa cara masyarakat memandang pakaian mulai berubah. Barang bekas tidak lagi identik dengan keterbatasan ekonomi, melainkan menjadi pilihan konsumsi yang dianggap cerdas.
Perubahan tersebut terjadi di tengah meningkatnya kesadaran mengenai dampak industri fashion terhadap lingkungan serta kebutuhan generasi muda untuk mengelola pengeluaran secara lebih bijak. Thrifting hadir di persimpangan dua kebutuhan itu: hemat sekaligus relevan dengan tren.
Dari Barang Bekas Menjadi Bagian Gaya Hidup
Beberapa tahun lalu, thrifting lebih sering dipandang sebagai aktivitas berburu barang murah. Kini maknanya jauh lebih luas. Banyak anak muda menjadikan thrifting sebagai sarana menemukan identitas gaya yang lebih personal.
Di tengah tren fast fashion yang membuat banyak orang mengenakan model pakaian serupa, thrifting menawarkan sesuatu yang berbeda. Setiap barang memiliki karakter unik dan sering kali sulit ditemukan dalam jumlah besar.
Perubahan perilaku konsumen ini juga terlihat secara global. Laporan Resale Report 2025 yang disusun ThredUp bersama GlobalData memperkirakan pasar pakaian bekas dunia akan mencapai nilai sekitar 367 miliar dolar AS pada 2029.
Pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa pasar fesyen bekas telah berkembang menjadi salah satu segmen paling dinamis dalam industri pakaian global.
Pertumbuhan itu bukan sekadar tren sesaat. Banyak konsumen mulai melihat pakaian sebagai aset yang dapat digunakan lebih lama, dijual kembali, atau dipertukarkan sehingga siklus hidup produk menjadi lebih panjang.
Faktor Ekonomi Membuat Thrifting Semakin Menarik
Salah satu alasan terbesar di balik popularitas thrifting adalah faktor ekonomi. Harga pakaian baru terus mengalami kenaikan akibat biaya produksi, distribusi, dan inflasi yang memengaruhi berbagai negara.
Dalam laporan Resale Report 2024, sekitar 60 persen konsumen menyatakan pakaian bekas memberikan nilai terbaik dibandingkan pilihan lainnya.
Sementara, lebih dari separuh responden mengaku akan meningkatkan pembelian barang secondhand ketika kondisi ekonomi terasa semakin menekan.
Bagi mahasiswa dan pekerja muda, thrifting menawarkan peluang mendapatkan merek berkualitas dengan harga yang jauh lebih rendah dibandingkan produk baru. Tidak jarang pakaian bermerek internasional bisa diperoleh hanya dengan sebagian kecil dari harga aslinya.
Di Indonesia sendiri, kondisi tersebut semakin relevan karena kelompok usia muda sering berada dalam fase membangun stabilitas keuangan.
Mereka tetap ingin tampil menarik tanpa harus mengorbankan kebutuhan lain seperti tabungan, investasi, atau biaya pendidikan.
Kesadaran Lingkungan Ikut Mendorong Perubahan
Selain faktor ekonomi, isu keberlanjutan menjadi pendorong penting di balik pertumbuhan thrifting. Industri fashion termasuk salah satu sektor yang memiliki dampak lingkungan cukup besar.
Program Lingkungan PBB (UNEP) menyebut industri fashion menyumbang hingga sekitar 8 persen emisi gas rumah kaca global.
Selain itu, setiap detik terdapat limbah pakaian setara satu truk sampah yang dibakar atau dibuang ke tempat pembuangan akhir. Data tersebut membuat semakin banyak konsumen mempertimbangkan masa pakai sebuah pakaian sebelum membeli.
Menggunakan kembali produk yang masih layak pakai dianggap sebagai langkah sederhana untuk mengurangi limbah tekstil.
Konsep inilah yang membuat thrifting sering dikaitkan dengan ekonomi sirkular.
Barang yang masih memiliki fungsi tidak langsung menjadi sampah, tetapi kembali dimanfaatkan oleh pengguna berikutnya.
Bagi generasi muda, aspek lingkungan sering kali menjadi nilai tambah yang memperkuat keputusan membeli pakaian bekas.
Media Sosial Membantu Thrifting Menjadi Arus Utama
Perkembangan media sosial juga memiliki peran besar dalam popularitas thrifting. Dulu, pengalaman berburu pakaian bekas lebih banyak terjadi secara offline. Kini, prosesnya dapat dilakukan melalui berbagai platform digital.
Laporan ThredUp menunjukkan 39 persen konsumen muda pernah membeli produk secondhand melalui platform sosial dalam satu tahun terakhir.
Angka ini menggambarkan bagaimana media sosial berhasil mengubah persepsi terhadap barang bekas menjadi sesuatu yang lebih modern dan menarik.
Konten mix and match, haul thrift, hingga transformasi gaya berpakaian membuat thrifting terasa lebih dekat dengan keseharian anak muda.
Aktivitas yang dulunya dianggap alternatif kini menjadi bagian dari budaya populer. Bahkan banyak pelaku usaha kecil memanfaatkan media sosial untuk menjual koleksi thrift pilihan, menciptakan ekosistem ekonomi baru yang terus berkembang.
Thrifting Bukan Sekadar Soal Harga Murah
Meski faktor harga sering menjadi alasan utama, daya tarik thrifting sebenarnya jauh lebih luas. Aktivitas ini menghadirkan sensasi berburu yang tidak ditemukan dalam pengalaman belanja biasa.
Setiap kunjungan ke toko thrift menghadirkan kemungkinan menemukan barang unik dengan cerita yang berbeda. Bagi sebagian orang, pengalaman tersebut justru menjadi nilai yang paling menarik.
Di saat yang sama, thrifting juga mencerminkan perubahan cara generasi muda memandang konsumsi. Mereka tidak lagi hanya membeli berdasarkan tren, tetapi mulai mempertimbangkan nilai ekonomi, keunikan produk, dan dampaknya terhadap lingkungan.
Karena itulah tren thrifting diperkirakan tidak akan hilang dalam waktu dekat. Ia telah berkembang dari sekadar alternatif belanja menjadi bagian dari gaya hidup modern yang lebih sadar, kreatif, dan adaptif terhadap perubahan zaman.
