Rabu, 05 August 2026 11:00 UTC

Ilustrasi: Meja Rasa Nusantara. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Sajian Nusantara punya keuntungan besar ketika dibawa ke acara Agustusan: pilihannya nyaris tidak habis. Panitia bisa menyesuaikan menu dengan jumlah tamu, anggaran, kebiasaan warga, sampai cuaca saat acara berlangsung.
Di Surabaya, rawon mungkin terasa akrab. Pecel dan urap mudah masuk ke meja bersama. Ayam berbumbu biasanya aman untuk banyak selera, sedangkan sambal hampir selalu punya penggemarnya sendiri.
Masalah baru muncul ketika panitia ingin menyediakan semuanya sekaligus. Meja menjadi penuh, anggaran membesar, sementara beberapa lauk akhirnya pulang dalam kondisi hampir tidak tersentuh.
Untuk acara lingkungan, menu yang bagus ternyata tidak selalu menu yang paling panjang daftarnya.
Mulai dari Makanan yang Memang Disukai Warga
Indonesia memiliki kekayaan kuliner yang luar biasa luas. Namun acara RT bukan festival gastronomi yang harus mewakili seluruh provinsi dalam satu meja.
Lebih masuk akal memulai dari kebiasaan makan orang yang akan hadir.
Di lingkungan Surabaya, misalnya, nasi dengan lauk ayam, tahu-tempe, sayuran dan sambal relatif mudah diterima. Rawon dapat menjadi menu utama jika acara berbentuk makan bersama. Rujak cingur lebih cocok ketika jumlah peserta dan cara penyajiannya sudah diperhitungkan.
Pilihan lauk juga bisa mengambil inspirasi dari pola konsumsi masyarakat Jawa Timur.
BPS dalam publikasi konsumsi pangan berdasarkan Susenas Maret 2024 mencatat rata-rata konsumsi kalori penduduk Jawa Timur mencapai sekitar 2.121 kilokalori per kapita sehari. Angka tersebut sedikit berada di atas rata-rata nasional yang sekitar 2.051 kilokalori per kapita sehari.
Namun kebutuhan sebuah acara tentu tidak bisa dihitung hanya dengan mengambil angka konsumsi harian lalu membaginya ke dalam kotak nasi. Orang datang ke acara dengan kondisi berbeda. Ada yang sudah makan, ada yang baru selesai lomba, dan ada pula yang hanya mampir sebentar.
Karakter acara tetap menjadi panduan yang lebih berguna.
Kumpul warga pukul tujuh malam membutuhkan menu berbeda dengan pembagian makanan setelah lomba anak pukul sepuluh pagi.
Sepiring Agustusan Bisa Dibuat Lebih Beragam
Salah satu cara termudah menyusun menu adalah berhenti melihat lauk satu per satu dan mulai melihat isi piring.
Nasi sudah menjadi sumber karbohidrat utama. Setelah itu tersedia ruang untuk lauk berprotein, sayuran, serta pelengkap. Dengan pendekatan seperti ini, panitia tidak harus menyediakan tiga macam gorengan hanya karena semuanya terasa cocok dengan nasi.
Kementerian Kesehatan melalui panduan Isi Piringku menganjurkan sekitar 50 persen piring makan diisi sayur dan buah, sedangkan separuh lainnya terdiri atas makanan pokok dan lauk-pauk. Dalam pembagian lebih rinci, porsi sayuran dianjurkan lebih banyak dibanding buah, sementara makanan pokok lebih banyak daripada lauk.
Tentu tidak realistis meminta warga mengukur setiap bagian piring ketika sedang antre di depan meja prasmanan. Prinsipnya yang bisa dipinjam.
Jika sudah ada nasi, ayam dan tempe, urap atau pecel dapat memberi warna sekaligus sayuran. Potongan buah bisa ditempatkan di ujung meja. Air mineral tersedia sebagai pilihan utama sebelum minuman manis. Menu akhirnya tetap terasa seperti pesta kampung, hanya lebih bervariasi.
Pilihan ini juga sejalan dengan rekomendasi WHO. Orang berusia di atas 10 tahun dianjurkan mengonsumsi setidaknya 400 gram buah dan sayuran per hari serta sedikitnya 25 gram serat pangan alami.
Satu kali makan bersama jelas tidak harus memenuhi seluruh target harian tersebut. Namun menaruh sayuran di meja setidaknya membuat tamu memiliki pilihan.
Rawon Boleh Jadi Bintang, Lauk Lain Tak Perlu Berebut Panggung
Ada kebiasaan yang cukup sering terjadi ketika menyusun konsumsi acara: semakin banyak lauk dianggap semakin baik. Padahal rasa puas tidak selalu bertambah sejalan dengan jumlah jenis makanan.
Jika rawon dipilih sebagai menu utama, misalnya, nasi, tauge pendek, telur asin, sambal dan kerupuk sudah membentuk satu hidangan yang cukup lengkap secara pengalaman makan. Menambahkan ayam goreng, mi, sate, perkedel, tahu, tempe dan beberapa lauk berat lain sekaligus bisa membuat menu kehilangan arah.
Surabaya punya hubungan kuat dengan rawon. Dalam daftar 50 Best Soups versi TasteAtlas Awards 2023/2024, rawon bahkan pernah ditempatkan sebagai sup berperingkat teratas dunia dengan skor 4,8 dari 5 pada saat daftar tersebut diterbitkan.
Peringkat kuliner berbasis penilaian pengguna tentu bukan ukuran ilmiah tentang kualitas makanan. Namun popularitas itu menggambarkan satu hal yang lebih sederhana: hidangan lokal bisa memiliki daya tarik luas tanpa harus banyak dimodifikasi.
Untuk acara Agustusan di Surabaya, memakai satu hidangan lokal sebagai pusat menu juga memberi identitas yang jelas.
Alternatifnya bisa berupa pecel dengan lauk sederhana, nasi jagung dengan ikan dan urap, nasi campur, atau hidangan berbasis ikan untuk lingkungan yang memang terbiasa menikmatinya.
Sajian Nusantara tidak perlu berarti menghadirkan sepuluh daerah sekaligus. Satu meja yang mengenali tempatnya sendiri sudah cukup menarik.
Menghitung Porsi Lebih Penting daripada Menambah Menu
Panitia biasanya menghadapi dilema klasik: takut makanan kurang. Akibatnya, pesanan sering dilebihkan. Alasannya masuk akal karena kehabisan konsumsi ketika tamu masih berdatangan memang merepotkan. Tetapi kelebihan yang terlalu jauh juga berisiko menjadi sampah pangan.
Kajian Kementerian PPN/Bappenas mengenai food loss and waste memperkirakan Indonesia menghasilkan kehilangan dan sampah pangan sekitar 23–48 juta ton per tahun sepanjang 2000–2019. Jika dihitung per penduduk, besarnya sekitar 115–184 kilogram per kapita setiap tahun. Tahap konsumsi menjadi penyumbang terbesar, sekitar 5–19 juta ton per tahun.
Bappenas memperkirakan kerugian ekonomi akibat pangan yang hilang dan terbuang berada pada kisaran Rp213–551 triliun per tahun, atau sekitar 4–5 persen PDB Indonesia selama periode kajian.
Acara lingkungan tentu berada pada skala yang sangat kecil dibanding persoalan nasional tersebut. Meski demikian, cara mengelola konsumsi dapat dibuat lebih presisi.
Jumlah undangan bisa menjadi titik awal. Panitia kemudian mempertimbangkan apakah pesertanya mayoritas orang dewasa atau anak, apakah makanan merupakan hidangan utama atau selingan, serta apakah acara berlangsung pada jam makan.
Makanan prasmanan juga tidak perlu dikeluarkan sekaligus. Sebagian stok dapat tetap tersimpan dengan penanganan yang sesuai, kemudian ditambahkan ketika nampan mulai kosong. Cara ini punya bonus lain: meja terlihat lebih rapi.
Belanja Menu Lokal Menggerakkan Banyak Tangan
Di balik satu porsi nasi campur terdapat jaringan ekonomi yang cukup panjang. Beras datang dari pedagang, ayam melewati rantai distribusi, sayuran dibeli di pasar, sambal membutuhkan cabai dan bumbu, lalu ada orang yang memasak dan mengantarkannya.
Bagi Surabaya, aktivitas konsumsi berada di tengah ekonomi kota yang besar.
BPS Kota Surabaya mencatat Produk Domestik Regional Bruto kota tersebut pada 2025 mencapai Rp830,54 triliunberdasarkan harga berlaku. Perekonomian Surabaya tumbuh 5,87 persen pada tahun itu.
Sektor perdagangan besar dan eceran bersama reparasi mobil dan sepeda motor memberikan kontribusi terbesar terhadap struktur ekonomi kota, yakni 26,97 persen. Sektor penyediaan akomodasi dan makan minum juga menjadi salah satu bagian penting dalam aktivitas ekonomi perkotaan.
Skala pesanan konsumsi satu kampung memang kecil. Namun bagi usaha katering rumahan, warung, pembuat sambal, penjual buah atau pedagang pasar, Agustus dapat membawa tambahan pesanan yang nyata.
Panitia pun tidak harus mencari vendor jauh. Makanan yang sudah dikenal warga biasanya memiliki keuntungan praktis: rasa diketahui, komunikasi lebih mudah, ongkos pengiriman pendek, dan jumlah porsi bisa dibicarakan langsung.
Ketika malam mulai turun di Surabaya, meja panjang itu akhirnya tidak akan dinilai dari seberapa banyak daerah yang berhasil dimasukkan ke dalam daftar menu.
Orang mungkin lebih mengingat rawon yang masih hangat, sambal yang ternyata terlalu pedas, atau tetangga yang berkali-kali kembali mengambil urap.
Untuk sajian Nusantara saat Agustusan, kombinasi sederhana sering paling mudah bekerja: satu makanan utama yang kuat, lauk secukupnya, sayuran, buah, serta porsi yang dihitung sesuai jumlah orang. Sisanya biarkan percakapan warga yang membuat meja menjadi ramai.
