Selasa, 04 August 2026 08:00 UTC

Ilustrasi: Malam Penuh Kebersamaan. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Malam tirakatan menjadi salah satu tradisi yang masih dijumpai menjelang 17 Agustus di berbagai lingkungan masyarakat. Biasanya, warga berkumpul pada malam sebelum Hari Kemerdekaan dalam suasana sederhana dan penuh kebersamaan.
Bentuk acaranya tidak selalu seragam. Ada lingkungan yang mengisinya dengan doa bersama, mengenang perjuangan, pembagian hadiah lomba, makan bersama, hingga obrolan antarwarga.
Tradisi tersebut menarik karena berlangsung di tengah masyarakat Indonesia yang semakin urban. Badan Pusat Statistik mencatat 58,57 persen penduduk Indonesia diproyeksikan tinggal di wilayah perkotaan pada 2025.
Proporsinya diproyeksikan terus bertambah menjadi 60,00 persen pada 2028 dan 66,60 persen pada 2035. Perubahan ini membuat ruang pertemuan sosial di kota memiliki arti tersendiri.
Tirakatan akhirnya bukan sekadar kegiatan seremonial menjelang kemerdekaan. Di lingkungan perkotaan, acara sederhana itu dapat menjadi kesempatan untuk mempertemukan kembali orang-orang yang sebenarnya tinggal berdekatan.
Malam Tirakatan Berakar pada Tradisi Kebersamaan
Istilah tirakatan memiliki hubungan kuat dengan tradisi masyarakat Jawa. Dalam perkembangannya, malam tirakatan menjelang kemerdekaan banyak dilaksanakan pada malam 17 Agustus.
Di berbagai lingkungan, acara biasanya dimulai setelah aktivitas warga selesai. Tikar digelar, kursi disusun, makanan sederhana dibawa, kemudian warga berkumpul tanpa membutuhkan suasana terlalu formal.
Ada lingkungan yang membacakan doa untuk para pejuang. Sebagian mengadakan sambutan singkat, menyanyikan lagu kebangsaan, atau memberikan kesempatan kepada warga senior untuk berbagi cerita.
Formatnya dapat berbeda karena tirakatan memang berkembang sebagai tradisi sosial di tingkat masyarakat, bukan sebuah ritual nasional dengan susunan acara tunggal.
Karakter yang fleksibel justru menjadi salah satu kekuatannya. Setiap lingkungan dapat menyesuaikan kegiatan dengan kebiasaan, kebutuhan, dan latar sosial warganya.
Di Jawa Timur, termasuk Surabaya, konteks sejarah membuat pertemuan semacam ini terasa dekat. Surabaya mempunyai identitas kuat sebagai Kota Pahlawan setelah rangkaian perjuangan yang mencapai salah satu puncaknya dalam Pertempuran 10 November 1945.
Jarak antara proklamasi 17 Agustus dan pertempuran tersebut kurang dari tiga bulan. Karena itu, pembicaraan mengenai kemerdekaan di Surabaya sulit dilepaskan dari ingatan mengenai perjuangan mempertahankannya.
Kehidupan Kota Membuat Pertemuan Warga Semakin Berarti
Surabaya merupakan rumah bagi jutaan penduduk dengan aktivitas yang sangat beragam. Data registrasi penduduk yang dimuat BPS Kota Surabaya menunjukkan terdapat 3.018.022 WNI pada 2024. Mereka tersebar dalam 31 kecamatan dan 153 kelurahan.
Besarnya populasi tidak otomatis membuat hubungan sosial semakin dekat. Seseorang dapat berpapasan setiap hari dengan tetangga tanpa memiliki banyak kesempatan untuk berbicara lebih panjang.
Pekerjaan, sekolah, perjalanan, dan aktivitas digital mengambil sebagian besar waktu sehari-hari. Pertemuan dengan warga akhirnya sering terjadi hanya ketika ada kepentingan tertentu.
Malam tirakatan menyediakan kondisi berbeda. Tidak ada perlombaan yang harus dimenangkan dan tidak selalu ada hiburan besar yang menjadi pusat perhatian.
Orang datang untuk duduk dan berada dalam ruang yang sama. Kebiasaan tersebut relevan ketika melihat bagaimana BPS memandang kehidupan sosial masyarakat. Dalam Statistik Sosial Budaya 2024, interaksi sosial menjadi salah satu aspek yang dipotret bersama akses informasi, olahraga, dan partisipasi kebudayaan.
Ini menunjukkan bahwa hubungan antaranggota masyarakat merupakan bagian penting dalam membaca kualitas kehidupan sosial.
Makan Bersama Menjadi Bahasa Sosial yang Sederhana
Salah satu bagian yang sering melekat pada malam tirakatan adalah makanan. Bentuknya sangat beragam. Ada nasi tumpeng, jajanan pasar, teh hangat, buah, atau makanan yang dibawa warga dari rumah masing-masing.
Nilai utamanya tidak harus terletak pada kemewahan menu. Makanan berfungsi sebagai medium yang membuat pertemuan terasa lebih cair.
Orang yang sebelumnya hanya saling menyapa dapat duduk bersebelahan. Anak mengenal tetangga yang lebih tua, sementara pendatang baru memiliki kesempatan memperkenalkan diri.
Hal sederhana tersebut penting dalam masyarakat dengan mobilitas tinggi. BPS mencatat jumlah pemuda Indonesia pada 2024 mencapai 64,22 juta jiwa. Sebanyak 60,72 persen pemuda tersebut tinggal di wilayah perkotaan.
Data itu memperlihatkan besarnya generasi muda yang menjalani kehidupan dalam konteks urban. Tradisi lingkungan mempunyai peluang menjadi jembatan agar hubungan sosial tidak hanya berlangsung di antara kelompok usia yang sama.
Malam tirakatan dapat mempertemukan remaja yang membantu dokumentasi dengan warga senior yang membawa pengalaman hidup berbeda.
Pertukaran semacam ini mungkin tidak menghasilkan sesuatu yang langsung terlihat. Namun, dari sanalah sebuah lingkungan perlahan membangun rasa saling mengenal.
Tirakatan Tidak Harus Menjadi Acara yang Kaku
Tantangan tradisi lama adalah membuatnya tetap relevan tanpa kehilangan makna. Generasi muda mungkin kurang tertarik jika malam tirakatan hanya berisi sambutan panjang. Anak-anak juga mudah kehilangan perhatian ketika acara berlangsung terlalu formal.
Karena itu, format kegiatan dapat dibuat lebih partisipatif. Warga senior bisa berbagi cerita singkat mengenai perubahan lingkungan. Anak muda dapat menampilkan dokumentasi foto kampung dari masa ke masa. Anak-anak dapat diajak mengenal simbol negara melalui aktivitas sederhana.
Durasi acara juga tidak harus panjang. Pertemuan yang ringkas tetapi memberi kesempatan warga berinteraksi bisa lebih bermakna dibanding acara berjam-jam yang membuat peserta hanya menjadi penonton.
Prinsip lain yang penting adalah keterbukaan. Pendatang baru, penghuni kontrakan, pekerja yang baru pulang, hingga warga yang berbeda latar belakang perlu merasa memiliki ruang yang sama untuk hadir.
Kemerdekaan menjadi lebih relevan ketika perayaannya tidak menciptakan kelompok orang dalam dan orang luar.
Mengingat Kemerdekaan Tanpa Terjebak Nostalgia
Tirakatan memang mengandung unsur mengenang masa lalu. Namun, mengenang tidak harus berarti berhenti pada romantisasi perjuangan.
Indonesia pada 2026 telah memasuki 81 tahun kemerdekaan sejak Proklamasi 17 Agustus 1945. Dalam rentang lebih dari delapan dekade, kehidupan masyarakat berubah sangat besar.
Kota berkembang, teknologi mengubah komunikasi, dan generasi yang mengalami masa awal kemerdekaan semakin sedikit.
Karena itu, malam tirakatan bisa menjadi ruang untuk menghubungkan sejarah dengan kehidupan hari ini.
Menghormati perjuangan tidak harus diwujudkan melalui pidato panjang. Menjaga lingkungan, menghargai tetangga, memberi ruang kepada generasi berbeda, dan menyelesaikan persoalan bersama juga memiliki nilai kebangsaan dalam kehidupan sehari-hari.
Di kota seperti Surabaya, pesan tersebut terasa relevan. Identitas Kota Pahlawan tidak hanya hidup melalui monumen atau cerita pertempuran, tetapi juga melalui cara masyarakat merawat kehidupan bersama.
Pada akhirnya, malam tirakatan bertahan bukan karena masyarakat diwajibkan mengulang bentuk perayaan yang sama setiap tahun.
Tradisi ini bertahan karena menyediakan sesuatu yang semakin berharga di tengah kesibukan kota: waktu untuk duduk bersama tanpa tergesa-gesa.
Dari tikar sederhana, makanan yang dibagi, doa yang dipanjatkan, hingga cerita antargenerasi, kemerdekaan kembali ditempatkan dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Mungkin itulah kekuatan malam sebelum 17 Agustus. Perayaan tidak hanya mengajak masyarakat mengingat bagaimana Indonesia merdeka, tetapi juga bagaimana kebersamaan setelah kemerdekaan tetap perlu dirawat.
