Rabu, 05 August 2026 08:00 UTC

Ilustrasi: Rasa yang Dirindukan. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Jajanan pasar punya cara sendiri untuk muncul dalam ingatan tentang 17 Agustus. Bagi sebagian orang, kenangannya bukan dimulai dari panggung atau hadiah lomba, tetapi dari meja panjang berisi lemper, pastel, kue lapis, nagasari, klepon, dan teh hangat.
Pemandangan semacam itu masih mudah dibayangkan di Surabaya. Pagi-pagi, sebelum matahari kota terasa menyengat, panitia lingkungan berbelanja ke pasar. Beberapa bungkus jajanan kemudian berpindah ke meja konsumsi di dekat gang yang sudah dipasangi bendera.
Di tengah makanan kekinian yang datang silih berganti, jajanan pasar ternyata cukup tangguh. Bentuknya mungkin sederhana, tetapi ia punya tiga modal besar: mudah dibagi, banyak pilihan, dan harganya relatif fleksibel untuk acara dengan peserta ramai.
Satu Nampan, Banyak Cerita dari Generasi Berbeda
Kue lapis sering mengundang kebiasaan yang sama: dimakan selapis demi selapis. Klepon punya pengalaman berbeda karena gula merah cair baru terasa setelah digigit. Sementara lemper atau arem-arem lebih sering dicari ketika orang membutuhkan makanan yang sedikit mengenyangkan.
Hal-hal kecil semacam itu membuat jajanan pasar mudah memancing percakapan lintas usia.
Orang tua mungkin mengenalnya sejak masa ketika pilihan makanan ringan belum sebanyak sekarang. Generasi yang lebih muda bisa menemukannya kembali di kedai modern, kotak hampers, katering kantor, atau video kuliner di media sosial.
Ada alasan praktis yang ikut menjaga keberadaannya. Banyak jajanan tradisional menggunakan bahan yang sangat dekat dengan pola pangan Indonesia: beras, tepung beras, ketan, singkong, kelapa, pisang, gula merah, serta kacang-kacangan.
Bahan tersebut bisa berubah menjadi puluhan makanan dengan karakter yang jauh berbeda. Bahkan satu singkong saja dapat berakhir sebagai getuk, sawut, lemet atau berbagai olahan lain tergantung daerah dan cara memasaknya.
Saat 17 Agustus datang, keragaman itu cocok dengan karakter acaranya. Panitia tidak perlu menyediakan satu makanan yang harus disukai semua orang. Sebuah nampan bisa berisi banyak pilihan kecil.
Nostalgia Tetap Perlu Berteman dengan Komposisi
Label “tradisional” kadang membuat makanan otomatis terdengar lebih sehat. Kenyataannya tidak sesederhana itu.
Jajanan pasar memiliki komposisi yang sangat beragam. Ada yang dikukus, direbus, dipanggang atau digoreng. Sebagian menggunakan kelapa, santan dan gula cukup banyak. Pastel tentu mempunyai profil berbeda dengan nagasari, sebagaimana klepon berbeda dengan lemper.
Pedoman pola makan sehat WHO yang diperbarui pada Januari 2026 menempatkan keberagaman dan moderasi sebagai bagian penting dari pola makan sehat.
WHO merekomendasikan konsumsi gula bebas kurang dari 10 persen total asupan energi harian. Pada pola makan 2.000 kilokalori, jumlah tersebut setara sekitar 50 gram atau 12 sendok teh gula.
Lemak jenuh dianjurkan tetap di bawah 10 persen total energi, sedangkan lemak trans tidak lebih dari 1 persen. WHO juga merekomendasikan asupan natrium kurang dari 2 gram sehari, yang setara dengan kurang lebih 5 gram garam.
Batas tersebut tidak berarti orang harus menghitung kandungan setiap klepon ketika datang ke acara Agustusan.
Cara yang lebih masuk akal adalah melihat satu meja secara keseluruhan. Bila sudah mengambil kue manis, minuman bisa dipilih yang tidak terlalu banyak gula.
Bila dua gorengan sudah masuk piring, jajanan berikutnya dapat berupa makanan kukus atau buah. Acara tetap terasa seperti perayaan, bukan sesi menghitung kalori.
Pasar Pagi Surabaya Masih Punya Keunggulan
Ada pengalaman yang sulit digantikan ketika membeli jajanan langsung dari pasar tradisional. Pembeli bisa memilih sendiri, bertanya kapan makanan dibuat, melihat cara penyimpanan, lalu menentukan jumlah berdasarkan kebutuhan.
Bagi Surabaya, aktivitas pasar juga berada di tengah ekonomi kota yang sangat kuat pada perdagangan. BPS Kota Surabaya mencatat PDRB Surabaya pada 2025 mencapai Rp830,54 triliun berdasarkan harga berlaku. Ekonomi kota tumbuh 5,87 persen pada tahun yang sama.
Perdagangan besar dan eceran bersama reparasi mobil dan sepeda motor menyumbang 26,97 persen struktur ekonomi Surabaya pada 2025. Industri pengolahan berada di posisi berikutnya dengan kontribusi 19,59 persen.
Jajanan pasar tentu hanya serpihan sangat kecil dalam mesin ekonomi sebesar itu. Namun di tingkat lingkungan, jalurnya terlihat jelas.
Panitia membeli 100 lemper dari pembuat makanan rumahan. Penjual membutuhkan beras ketan, santan, ayam, daun pisang, dan bumbu. Bahan dibeli dari pedagang lain. Uang untuk konsumsi acara akhirnya bergerak melewati beberapa tangan.
Ada pula keuntungan yang tidak tercatat sebagai angka ekonomi: penjual mendapatkan pelanggan baru. Seseorang mencicipi pastel saat lomba, bertanya siapa pembuatnya, lalu beberapa minggu kemudian memesan untuk rapat keluarga.
Begitulah usaha makanan rumahan sering tumbuh—dari rekomendasi yang sangat lokal.
Jangan Sampai Nostalgia Berakhir di Tempat Sampah
Meja konsumsi Agustusan punya satu godaan: jumlah makanan sering dibuat berlebihan agar tidak dianggap kurang.
Kekhawatiran tersebut dapat dipahami. Panitia tentu tidak ingin peserta terakhir datang ketika semua makanan sudah habis. Namun terlalu banyak cadangan juga punya konsekuensi.
Kajian Kementerian PPN/Bappenas memperkirakan timbulan food loss and waste Indonesia sepanjang 2000–2019 mencapai 23–48 juta ton per tahun, setara sekitar 115–184 kilogram per kapita per tahun. Nilai kerugian ekonominya diperkirakan Rp213–551 triliun setiap tahun.
Tahap konsumsi merupakan titik terbesar, dengan timbulan sampah pangan sekitar 5–19 juta ton per tahun. Dalam peta jalan SDGs Indonesia, Bappenas juga mencatat sekitar 15 persen pasokan pangan secara agregat hilang atau terbuang sepanjang rantai produksi hingga konsumsi.
Jajanan pasar memiliki tantangan tersendiri karena sebagian produk tidak tahan disimpan terlalu lama. Santan, kelapa parut dan isian tertentu membutuhkan penanganan yang baik, terlebih dalam udara Surabaya yang hangat.
Untuk acara warga, strategi sederhana biasanya cukup. Pesanan bisa dibagi menjadi beberapa jenis dengan jumlah moderat, lalu distribusinya dilakukan bertahap. Makanan tidak perlu dikeluarkan seluruhnya sejak pagi jika acara berlangsung sampai siang.
Jajanan Lama Tak Perlu Dipaksa Menjadi Kekinian
Ada kecenderungan membuat makanan tradisional terasa “naik kelas” dengan kemasan mahal, topping berlebihan, atau bentuk yang sengaja diubah agar fotogenik.
Sesekali tentu menyenangkan. Namun jajanan pasar tidak selalu membutuhkan perlakuan itu.
Sepotong nagasari yang masih dibungkus daun pisang sudah memiliki daya tarik sendiri. Begitu pula lemper yang hangat atau klepon dengan kelapa parut segar. Karakternya justru mudah hilang jika semua dipaksa mengikuti tampilan makanan modern.
Dari sisi gizi, variasi tetap lebih berguna daripada mengejar satu jenis makanan. WHO menganjurkan orang berusia di atas 10 tahun mengonsumsi setidaknya 400 gram buah dan sayuran setiap hari, disertai minimal 25 gram serat pangan alami.
Maka meja Agustusan bisa dibuat lebih santai: beberapa jajanan tradisional, air mineral, teh dengan gula terpisah, dan potongan buah sebagai selingan.
Tidak ada Kewajiban Mengubah Klepon Menjadi Makanan Diet.
Menjelang peringatan 81 tahun Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 2026, pasar-pasar Surabaya kemungkinan tetap menjalani pagi seperti biasanya. Pedagang membuka lapak, kukusan mengepul, daun pisang dibuka, dan pembeli datang membawa daftar pesanan.
Di antara semua kemeriahan merah putih, jajanan pasar untuk 17 Agustus punya kelebihan yang sulit dibuat oleh dekorasi: ia bisa membawa seseorang kembali pada Agustusan bertahun-tahun lalu hanya lewat satu gigitan.
Dan sering kali, klepon tidak membutuhkan cerita yang lebih rumit dari itu.
