Tradisi dan Budaya Sambut Ramadan di Penjuru Dunia

Rochman Arief

Minggu, 5 Mei 2019 - 07:21

BULAN Ramadan bukan sekadar puasa. Bulan kesembilan kalender Hijaiyah itu berakar pada budaya, agama dan sejarah. Banyak kegiatan yang bersumber dari tradisi di sejumlah negara yang mayoritas penduduknya muslim.

Banyak tradisi dan budaya dari belahan dunia yang hampir sama dengan di Indonesia. Semisal di Afrika Selatan melihat posisi bulan untuk menentukan 1 Ramadan. Begitu juga patrol jelang sahur juga dilakukan di beberapa negara, hingga menyalakan petasan.

Tradisi yang sudah turun temurun dirangkum dari  Culturetrip.com, Sabtu 4 Mei 2019. Sejumlah tradisi dan budaya menyambut datangnya bulan suci Ramadan.

ALA MILITER. Menembakkan meriam di Lebanon sebagai tradisi menyambut Ramadan. Foto: International.ae

Menembakkan Meriam di Lebanon

Di sejumlah negara di Timur Tengah, meriam ditembakkan setiap hari selama bulan Ramadan. Tembakan itu menandai hari yang cepat. Tradisi ini dikenal sebagai Midfa Al Iftar.

Tradisi ini awalnya dikenalkan di Mesir sekitar 200 tahun silam. Penguasa Mesir saat itu, Ottoman Khosh Qadam tidak sengaja menguji meriam saat matahari terbenam. Suara yang bergema di penjuru Kairo mendorong banyak warga sipil menganggapnya sebagai cara baru menandai akhir puasa.

BACA JUGA:  21 Ribu Apem Meriahkan Tradisi Megengan di Surabaya

Banyak yang berterima kasih atas inovasi itu. Putri Qadam, Haja Fatma, mendesak untuk menjadikannya sebagai tradisi. Tradisi itu mengular hingga ke penjuru Timur Tengah termasuk Lebanon.

Tradisi itu hilang pada tahun 1983 setelah invasi yang menyebabkan penyitaan beberapa meriam. Kemudian dihidupkan kembali oleh tentara Lebanon pasca perang dan berlanjut hingga hari ini.

TRADISI ANAK-ANAK. Keceriaan anak-anak mengembalikan individualis yang kini melekat di masyarakat UEA. Foto: gulfnews.com

Anak-anak Bernyanyi demi Permen di UEA

Uni Emirat Arab punya tradisi yang disebut Haq Al Laila dalam menyamkbut Ramadan. Banyak yang menganggap tradisi ini lebih mirip trick-or-treat di dunia Barat. Tradisi Haq Al Laila terjadi pada tanggal 15 Shaban, atau sebelum Ramadan.

Anak-anak berkeliaran di lingkungannya sambil mengenakan pakaian berawarna cerah. Mereka mengumpulkan permen dan kacang-kacangan dalam tas jinjing yang dikenal sebagai Kharyta. Mereka menyanyikan lagu-lagu lokal tradisional.

BACA JUGA: Ini Negara dengan Durasi Puasa Terlama dan Tersingkat

Nyanyian itu berbunyi Aatona Allah Yutikom, Bait Makkah Yudikum. Kurang lebih artinya Beri kami dan Allah akan membalas Anda, dan membantu Anda mengunjungi Rumah Allah di Mekah.

Lagu itu bergema di jalan-jalan ketika anak-anak dengan bersemangat mengumpulkan hadiah. Di Uni Emirat Arab, perayaan ini dianggap integral dengan identitas nasional Emirati.

WARNA-WARNI. Sejumlah wanita dan gadis berbelanja di pasar Chaand Raat dengan menghiasi tangan mereka dengan aneka warna dan desain. Foto: Hellopakistanmag.com

Wanita Berkumpul Jelang Idul Fitri di Pakistan

Saat melihat bulan baru menandai akhir Ramadan dan awal Idul Fitri, mulailah perayaan di Chaand Raat. Perayaan ini menandai sejumlah wanita dan gadis menuju pasar lokal untuk membeli gelang warna-warni. Mereka melukis tangan dan kaki dengan desain, dengan sejenis cat dari bunga pacar, yang rumit pada buka puasa terakhir.

Para pemilik toko turut mendekorasi kiosnya, dan membuka sampai dini hari. Wanita setempat mendirikan toko cat dari bunga pacar, sementara dekat dengan toko perhiasan, untuk menarik pelanggan berbelanja dan menerapkan pacar di tempat.

Suasana di pasar yang ramai di Chaand Raat adalah salah satu semangat komunitas, bersemangat dan gembira untuk menyambut Idul Fitri sekaligus menutup Ramadan.

Ilustrasi: Tripculture.com

Patrol Jelang Subuh di Maroko

Maroko memiliki Nafar, yakni penjaga kota yang mengenakan pakaian tradisional gandora, sandal dan topi, yang menandai dimulainya fajar dengan melodinya.

Nafar dipilih warga kota karena kejujuran dan empatinya. Biasanya Nafar berjalan menyusuri jalan sambil meniupkan terompet, membangunkan penduduk untuk sahur. Di Indonesia biasa disebut dengan patrol jelang sahur.

Sejarah Nafar di Maroko dimulai pada abad ketujuh. Pada saat itu sahabat Nabi Muhammad SAW berjalan jelang fajar sambil menyanyikan doa-doa merdu. Selanjutnya tradisi ini dikompensasi oleh komunitas pada malam terakhir bulan Ramadan.

 

2.000 Penabuh Drum di Jalanan Turki

Bayangkan ada 2.000 penabuh drum di sepanjang jalan pada dini hari! Tapi itulah sukacita yang ditonjolkan hampir di sepanjang jalan kota-kota Turki. Tradisi yang sudah ada sejak Kekaisaran Ottoman dalam menyambut Ramadan tetap lestari hingga kini.

Para penabuh drum mengenakan kostum tradisional Ottoman, termasuk fez dan rompi yang dihiasi dengan motif tradisional. Mereka berkeliling dengan Davul (drum khas Turki).

BACA JUGA: Pelajar Blitar Sambut Ramadan dan Hardiknas dengan Pawai Taaruf

Pemukul drum mengandalkan kemurahan hati penduduk untuk memberinya tip (bahşiş) atau bahkan mengundang untuk berbagi makanan sahur bersama. Bahşiş biasanya dikumpulkan dua kali pada bulan suci, pemberi percaya akan menerima imbalan berlipat atas kebaikannya.

Pemerintah Turki telah menerbitkan kartu keanggotaan untuk penabuh drum Ramadan, untuk menanamkan rasa bangga. Harapan lain untuk mendorong generasi muda menjaga tradisi kuno tetap lestari.

Baca Juga

loading...