Jumat, 30 October 2026 13:39 UTC

Dwi Bagus Martono saat menjalankan ibadah haji tahun lalu. Foto: Istimewa/medsos
JATIMNET.COM, Jombang – Ketua RW 4 Dusun Cangkringan, Desa Mejoyolosari, Kecamatan Gudo, Kabupaten Jombang, Akhodi, tidak menyangka pernah bertemu langsung dengan Dwi Bagus Martono (40), tersangka pembunuhan istri siri dan anaknya di Madiun.
Bahkan, ia sempat berdoa dan bersalaman dengan pria tersebut ketika menghadiri kegiatan yasinan di lingkungan setempat. Saat itu, Akhodi tidak mengetahui bahwa Bagus merupakan orang yang sedang dicari polisi terkait kasus pembunuhan.
"Saya baru mendengar kabar itu setelah dua atau tiga hari. Ternyata, orang tersebut pernah hadir saat acara yasinan pada Jumat Legi," katanya, Jumat, 30 Oktober 2026.
"Ia (Bagus, red) berada di hadapan saya; saya berdoa dan bersalaman dengannya. Saya tidak sempat mengikuti acaranya sampai selesai," sambungnya.
BACA: Tersangka Pembunuhan Ibu dan Anak di Madiun Sempat 12 Hari Bersembunyi di Jombang
Akhodi mengaku tidak banyak berinteraksi dengan Bagus ketika kegiatan tersebut berlangsung. Ia juga tidak sempat menanyakan identitas maupun latar belakang pria yang belakangan diketahui sebagai tersangka pembunuhan itu.
Namun, kemunculan seorang pendatang baru di tempat milik Munir sempat membuat Akhodi penasaran. Ia kemudian menanyakan sosok tersebut kepada rekannya bernama Hadi yang sudah lama mengenal Munir.
Dari rekannya, Akhodi mendapat informasi bahwa pendatang tersebut berasal dari Madiun. Meski demikian, ia tidak mengetahui secara pasti asal-usul maupun tujuan kedatangan pria itu.
"Saya mengira ia pendatang yang sedang ngawulo (berguru, red). Namun, saya tidak tahu asal-usulnya, termasuk apakah benar ia berasal dari Madiun," ujarnya.
Akhodi menjelaskan, tempat milik Munir memang kerap didatangi orang dari berbagai daerah. Warga mengenal Munir sebagai seseorang yang memberikan pengobatan atau membantu orang yang ingin mencari kesembuhan.
Menurutnya, sejumlah orang dari Malang dan Nganjuk juga pernah datang ke tempat tersebut. Mereka biasanya memiliki keperluan tertentu, termasuk berguru atau ngawulo.
BACA: CCTV Hotel Bantu Ungkap Kasus Ibu dan Anak Asal Bogor yang Dibunuh Suami Siri
"Banyak juga orang dari Malang dan Nganjuk yang datang. Di gubuk itu ada banyak teman dari desa sekitar. Hanya saja, saat itu saya tidak tahu nama orang yang datang tersebut," bebernya.
Karena terbiasa melihat pendatang dari luar daerah, Akhodi mengaku tidak menaruh kecurigaan terhadap Bagus. Ia justru mengira pria tersebut datang untuk belajar kepada Munir.
"Saya heran ada orang dari Madiun datang ke sana. Saya tidak tahu latar belakangnya. Saya mengira ia orang baik-baik yang datang untuk mencari ilmu katanya," tukasnya.
Akhodi baru mengetahui persoalan yang melibatkan Bagus setelah mendengar kabar penangkapan pria tersebut. Ia mengaku tidak mengetahui bahwa orang yang pernah ditemuinya dalam kegiatan yasinan itu diduga terlibat pembunuhan ibu dan anak di Madiun.
Bagus sendiri ditangkap anggota Subdit Jatanras Ditreskrimum Polda Jawa Timur di Dusun Cangkringan pada Minggu, 25 Oktober 2026. Sebelum penangkapan, pria berusia 40 tahun tersebut diketahui telah tinggal sekitar 12 hari di sebuah gubuk di wilayah itu tanpa melapor kepada pengurus RT maupun RW.
