Terlanjur Terbiasa, Masyarakat Banyuwangi Enggan Potong Hewan di RPH

Ahmad Suudi

Reporter

Ahmad Suudi

Rabu, 22 Mei 2019 - 11:38

JATIMNET. COM, Banyuwangi – Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menyayangkan masih maraknya peredaran daging sapi dari luar rumah pemotongan hewan (RPH) milik pemerintah.

Kepala Seksi Kesehatan Masyarakat Veteriner Dinas Pertanian Bambang Nurseno memberi contoh, mayoritas tempat penyembelihan sapi milik warga Muncar belum mau diaihkan ke RPH Rogojampi. Padahal, dengan memotong sapi di RPH, pengawasan kualitas dagingnya menjadi lebih terjamin.

“Syarat RPH harus ada dokternya yang bisa melakukan pemeriksaan ante mortem dan post mortem. Nanti dia akan memberikan izin potong dan tolak potong pada hewan yang sakit atau sedang produktif,” katanya, Selasa 21 Mei 2019.

BACA JUGA: Begini Kiat Mengecek Kesehatan Daging di Pasar Jelang Lebaran

Menurut dia, ada enam RPH di Banyuwangi, yakni Wongsorejo, Banyuwangi, Rogojampi, Genteng, Glenmore, dan Kalibaru. Di masing-masing RPH, petugas selalu memeriksa kualitas daging sebelum dan sesudah pemotongan berlangsung.

Pemotongan di RPH, ia melanjutkan, juga memudahkan pengawasan terhadap sapi hasil curian. Karena sebelum dipotong, petugas akan memeriksa kelengkapan surat kepemilikan hewan dari pemerintah desa atau pasar tempat hewan dibeli.

Pemerintah sebenarnya telah mengatur pemotongan hewan melalui Undang-Undang nomor 18 tahun 2009, pasal 61 ayat 1 a, bahwa pemotongan hewan yang dagingnya akan diedarkan harus dilakukan di RPH.

Tapi, menurut Bambang, masyarakat terlanjur terbiasa memotong sapi di sekitar rumah. “Mengubah kebiasaan itu yang sulit. Masyarakat sudah terbiasa menyembelih sapi mereka di tempat masing-masing,” katanya.

BACA JUGA: Jelang Ramadan, Harga Daging Ayam di Blitar Merangkak Naik

Sementara itu, Dinas Pertanian Banyuwangi mencatat empat kali menemukan daging sapi bercampur daging babi di pasaran sepanjang 2016-2018. Temuan itu didapat setelah melakukan pemeriksaan sampel daging di perbagai pasar.

Satu kasus temuan daging campuran pada 2016 telah diserahkan ke kepolisian. Sedangkan tiga kasus lain, yang ditemukan pada 2018, pemerintah telah memerintahkan pedagangnya agar tak mengulangi perbuatannya.

Pada dasarnya, menurut dia, tak ada larangan menjual daging babi. Tapi pedagang harus menjelaskan secara terbuka pada pembeli, bukan malah mengelabuhi konsumen dengan mencampurkannya pada daging sapi.

“Informasi yang kami dapat, mereka itu jaringan. Daging babi yang dipakai campuran bukan hasil ternak, melainkan hasil berburu di wilayah Banyuwangi selatan,” katanya.

Baca Juga

loading...