Begini Kiat Mengecek Kesehatan Daging di Pasar Jelang Lebaran

Ahmad Suudi

Selasa, 21 Mei 2019 - 17:58

JATIMNET.COM, Banyuwangi - Konsumsi daging menjelang hari raya Idul Fitri biasanya meningkat tiga hingga empat kali lipat. Hal ini juga biasa terjadi di kalangan warga Banyuwangi menjelang Idul Fitri 1440 H, awal Juni 2019 mendatang.   

Kepala Seksi Kesehatan Masyarakat Veteriner Dinas Pertanian Banyuwangi Bambang Nurseno berbagi kiat mengecek kesehatan daging yang dijual di pasar.

Bambang menyarankan masyarakat untuk melihat cara penjual menempatkan daging di lapak jualannya serta harga yang dipatok. Daging yang bagus biasanya digantung sedangkan daging sapi yang tidak sehat atau tidak segar biasanya ditaruh di bak.

BACA JUGA: Filosofi dalam Tradisi Berburu Daging Ramadan Uroe Meugang Aceh

"Yang ditaruh di bak biasanya daging sapi gelonggongan atau daging sapi sisa kemarin yang telah dibekukan oleh penjualnya," kata Bambang di kantornya, Selasa 21 Mei 2019.

Dia menjelaskan daging sapi gelonggongan atau yang memiliki kandungan air terlalu banyak, airnya akan luruh bila digantung. Bila airnya terus menetes, daging gelonggongan akan mengempis dan bobotnya semakin ringan sehingga penjual tidak menggantungnya.

Kemudian, pembeli bisa melihat dari harga yang dipatok. Pedagang yang memasang harga terlalu murah biasanya untuk daging sapi yang tidak sehat atau campuran dengan daging lain.

BACA JUGA: Disnak Jatim Tegaskan Masih Tutup Kran Impor Daging

Pembeli juga bisa mencoba menawar daging dengan harga semureah mungkin. Kalau penawarannya diterima, sebaiknya periksa daging tersebut ke Dinas Pertanian atau Dinas Peternakan setempat. "Harga wajar saat ini Rp 110 sampai 115 ribu per kilogram. Harga biasanya naik, tertinggi pada H-5 dan setelahnya, karena kebutuhan daging meningkat," kata Bambang.

Sementara untuk ayam yang perlu diperiksa adalah kemungkinan daging sudah diformalin atau merupakan ayam mati kemarin (tiren). Daging ayam yang tidak dihinggapi lalat biasanya mengandung formalin. "Karena lalat tidak mau formalin," ujar Bambang.

Tanda-tanda ayam tiren muncul warna kebiru-biruan yang nampak dari luar. Selain itu bekas potongan pada leher rapih, yang menandakan leher dipotong setelah ayam mati. Pasalnya ketika ayam dipotong saat hidup, akan menimbulkan bekas potongan yang berantakan.

BACA JUGA: Disnak Jatim Kesulitan Kontrol Daging Impor Melalui Jalan Tol

Berdasarkan Undang-Undang nomor 18 tahun 2009, pasal 61 ayat 1a, pemotongan hewan yang dagingnya akan diedarkan harus dilakukan di rumah potong hewan (RPH) yang dilengkapi berbagai pemeriksaan. Sedangkan poin b berbunyi harus mengikuti cara penyembelihan yang mengikuti kaidah kesehatan masyarakat veteriner dan kesejahteraan hewan.

Dinas Pertanian Banyuwangi memiliki 6 RPH yang tersebar di Wongsorejo, Banyuwangi, Rogojampi, Genteng, Glenmore dan Kalibaru.
Bambang mengatakan pihaknya belum memiliki rumah potong unggas (RPU) sehingga pengawasan difokuskan pada RPU milik swasta yang umumnya berkapasitas kecil.

"Kami melakukan pemeriksaan sampel dari RPU 3 bulan sekali untuk menilai kesehatan ayam yang dipotong di sana," pungkas Bambang.

Baca Juga

loading...