Jumat, 08 January 2021 12:20 UTC

Plt Wali Kota Surabaya Whisnu Sakti Buana (tiga dari kiri) bersama penerima penghargaan Surabaya Eco School 2020 di Balai Kota Surabaya, Jumat, 8 Januari 2021. Foto: Pemkot Surabaya
JATIMNET.COM, Surabaya – Puluhan siswa SD dan SMP bersama sejumlah keluarga serta perwakilan dari sekolah menerima penghargaan Awarding Surabaya Eco School 2020 di Ruang Sidang Wali Kota, Lantai II Balai Kota Surabaya, Jumat, 8 Januari 2021.
Surabaya Eco School merupakan program kegiatan peduli lingkungan kerjasama Pemkot Surabaya dan Tunas Hijau. Di tahun 2020, kegiatan ini diselenggarakan mulai September sampai Desember 2020.
Penghargaan ini diberikan kepada 40 orang siswa, guru, dan kepala sekolah terbaik. Kali ini, tema yang diambil adalah "Climate Action on Pandemic" dengan gerakan Sekolah Sadar Iklim 2020 dan Keluarga Sadar Iklim 2020.
Pelaksana Tugas (Plt) Wali Kota Surabaya Whisnu Sakti Buana mengatakan program ini diharapkan dapat memberikan pendidikan lebih dini kepada anak-anak agar peduli terhadap lingkungan. Apalagi di masa pandemi, mereka diarahkan kepada keluarga yang peduli terhadap ekosistem dan iklim.
BACA JUGA: 14 Sekolah Terima Anugerah Adiwiyata Kota Surabaya 2020
"Karena memang Surabaya sudah berhasil menurunkan 2 derajat suhu pemanasan global. Dan ini yang kita harapkan bisa berlanjut pada generasi ke depan, anak muda, anak didik yang melanjutkan kita," kata Whisnu.
Menurutnya, melalui pendidikan terhadap kepedulian lingkungan lebih awal akan menumbuhkan kebiasaan yang lebih baik bagi anak-anak. Meski begitu, kekurangan pada kepedulian lingkungan diharapkan bisa diperbaiki dan akan terus diberikan dukungan terhadap aksi lingkungan tersebut.
"Nanti bisa kita lanjutkan dari Dinas Pendidikan, DKRTH (Dinas Kebersihan dan Ruang Terbuka Hijau) untuk lebih aktif lagi memantau sekolah agar lebih peduli pada lingkungan," ia menerangkan.
Apalagi, problem yang ada di perkotaan salah satunya sampah dan banjir. Untuk mengatasi hal itu diperlukan pengelolaan sampah mulai dari hulu, seperti di sekolah, rumah tangga, dan perkampungan.
"Contoh tadi ada SDN Menanggal yang mengolah kompos sampai bisa menghasilkan 1 ton kompos. Juga beberapa SD lain yang bisa sampai tiga ton. Ini luar biasa. Hal seperti ini yang kita harapkan sehingga nanti sampai bisa tereduksi dari hulunya," ia memaparkan.
Whisnu mengungkapkan volume sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Benowo terus berupaya ditekan seiring bertambahnya jumlah penduduk. Upaya ini salah satunya dilakukan dengan mengelola sampah menjadi energi listrik.
BACA JUGA: Peduli Lingkungan, Wanita 55 Tahun di Kota Probolinggo Kumpulkan Minyak Jelantah Agar Tak Dikonsumsi
"Kita harapkan tidak terus bertambah volumenya yang di TPA, walaupun penduduk Surabaya bertambah. Tetapi, ada penyelesaian di hulu, pengolahan di hulu, baik di sekolah, rumah tangga, dan kampung-kampung sehingga juga bermanfaat bagi warga," ia menjelaskan.
Tak hanya bermanfaat untuk menekan volume sampah dan mencegah banjir, menurut Whisnu, pengelolaan sampah yang dilakukan warga juga dapat menambah pendapatan.
"Bank sampah, composting, itu akan menjadikan tambahan ekonomi juga bagi warga Surabaya," ia mengungkapkan.
Sementara itu, Presiden Tunas Hijau Mochamad Zamroni menambahkan gerakan Sekolah dan Keluarga Sadar Iklim 2020 diluncurkan Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya Supomo pada 23 September 2020. Kemudian pada 25 September 2020 dilakukan workshop secara virtual.
“Semua mulai aksi pada 1 Oktober 2020. Aksi dilakukan selama 77 hari,” kata Zamroni.
BACA JUGA: Hari Peduli Sampah, Pelajar Bersihkan Plastik di Ekowisata Mangrove Wonorejo
Dalam setiap aksi, setiap sekolah mengirimkan peserta sebanyak sepuluh keluarga. Peserta bisa berasal dari keluarga siswa, guru, atau karyawan sekolah. Selama program berlangsung, tercatat ada 4.200 keluarga dengan sekitar 28.100 aksi.
“Aksi paling mudah memang belanja dalam kemasan besar atau menghindari belanja sachetan. Aksi tersebut banyak dilakukan keluarga sadar iklim,” katanya.
Selain itu, ada pula aksi merawat tanaman di rumah, mengumpulkan minyak jelantah dengan mengajak tetangga sekitar, memilah sampah organik dan nonorganik, membuat pupuk kompos, dan sebagainya.
“Para keluarga yang menang memang intensitas aksinya cukup tinggi. Aksi ini berulang kali dilakukan dan jadi pembiasaan sehari-hari,” ucapnya.
