Setara Institute: HTI Bemimikri Jadi Gerakan Tarbiyah di Kampus

Meski gerakannya berbeda, narasi yang dikembangkan sama. Eksklusif dan intoleran.
Anang Zakaria

Minggu, 2 Juni 2019 - 19:12

JATIMNET.COM, Surabaya – Pembubaran Hizbut Tahrir Indonesia oleh pemerintah tak begitu saja  mematikan perkembangan paham keislaman yang eksklusif dan intoleran. Hasil penelitian Setara Institute, dirilis Jumat 31 Mei 2019, memperlihatkan mereka justru bersalin rupa menjadi gerakan tarbiyah di kampus-kampus.

“Tak semua simpulnya padam,” kata Direktur Riset Setara Institute Halili melalui sambungan telepon pada Jatimnet.com, Minggu 2 Juni 2019.

Menurut dia, ada dua fenomena yang terjadi pasca pembubaran HTI. Pertama, gerakan tahriri itu bermimikri serupa gerakan tarbawi (organisasi dakwah). Kedua, mereka meninggalkan simpulnya di kampus-kampus karena tak mungkin muncul terbuka dengan nama HTI. Simpul itu lantas diisi oleh gerakan tarbawi lainnya.

BACA JUGA: Polda Malut Sebut Polwan Terindikasi Radikalisme Tinggalkan Tugas

Meski berbeda, antara kelompok tahririyah dan tarbiyah, menurut dia, keduanya mengusung narasi yang sama. Mereka sama-sama memperjuangkan formalisme syariat Islam di kampus. Sehingga cenderung intoleran terhadap non muslim dan wacana keagamaan kelompok lain, sekalipun sesama Islam.

“Gerakan bisa berbeda tapi narasinya sama,” katanya.

Narasi lain, ia melanjutkan, adalah cara pandang bahwa keselamatan masyarakat hanya dicapai selama masyarakat taat menjalankan perintah tuhan. Mereka juga mengembangkan narasi pemikiran bahwa Islam selalu terancam musuh. Dan yang terjadi kini, ada perang pemikiran (ghazwul fikr) antara dunia Islam dan Barat.

BACA JUGA: Pesan PWNU Kepada Khofifah Soal Radikalisme di Sekolah

Narasi-narasi semacam itu membawa dampak terbentuknya komunitas solid yang eksklusif, selalu curiga, mudah memusuhi, dan menutup diri. Kelompok semacam ini pun cenderung menutup diri dari diskusi dan wacana literasi keagamaan lain. Yang pada akhirnya, menurut Halili, watak eksklusif dan intoleran itu akan melahirkan sikap anti keragaman.

“Ini ancaman pada kebhinekaan, Pancasila. Ini bahaya sekali,” katanya.

Penelitian Setara itu berlangsung pada Februari-April 2019 di 10 kampus Tanah Air. Dua di antaranya pada kampus di Jawa Timur, Universitas Airlangga Surabaya dan Universitas Brawijaya Malang. Riset itu didasari terus menguatnya aksi intoleran dan konservatisme keagamaan di tingkat nasional, serta penyebaran narasi radikalisme di kampus.

BACA JUGA: Belasan Ribu Konten Radikalisme dan Terorisme Diblokir

Menurut Setara, kampus memiliki peran penting dalam pembangunan bangsa dan penggemblengan generasi masa depan. Kekhawatiran pada persemeaian radikalisme di dunia pendidikan bukan ihwal berlebihan.

Dalam laporannya, Setara mengutip temuan lembaga lain tentang radikalisme. Di antaranya Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) pada 2018 merilis ada tujuh perguruan tinggi negeri yang terpapar radikalisme. Dalam istilah mereka, radikalisme adalah paham atau ideologi yang secara umum memiliki ciri penggunaan kekerasan atas nama agama. Ciri berikutnya, radikalisme selalu anti demokrasi dan yang terakhir, berpaham tafkiri (mudah mengafirkan orang lain).

Badan Intelijen Negara (BIN) juga pernah mengemukakan 39 persen mahasiswa di 15 provinsi terpengaruh paham radikal. Sementara Alvara Research Center, pada 2017, menyebutkan ada kecenderungan pemahaman dan sikap yang intoleran dan radikal di kalangan mahasiswa.

Baca Juga

loading...