Setahun Tragedi Bom Surabaya, Begini Kondisi Korban

Baehaqi Almutoif
Baehaqi Almutoif

Rabu, 15 Mei 2019 - 19:59

JATIMNET.COM, Surabaya - Tragedi bom Surabaya telah setahun berlalu. Tentunya susah untuk melupakan peristiwa itu, terutama bagi para korban maupun keluarga korban. Hanya keikhlasan yang membesarkan hati para korban bom ini.

Yongki Agustian Prasetyo, salah satu korban bom, telah memaafkan pelaku pengeboman tiga gereja di Surabaya 13 Mei 2018 silam. Ia mengaku sudah ikhlas dengan apa yang menimpa dirinya pada Minggu pagi tersebut.

Yongki adalah korban ledakan bom di Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela. Ia mengalami luka parah. Tangannya berlubang, dan kakinya patah. Kini ia sudah berangsur pulih. Bulan depan ia dijadwalkan operasi untuk mengangkat pen di kakinya.

BACA JUGA: Korban Terima Santunan Pasca Setahun Ledakan Bom Gereja

"Gak ada dendam, saya ikhlas karena Tuhan Yesus mengajarkan kita buat berkasih," ujar Yongki ditemui usai menerima bantuan dari pemerintah di Gedung Negara Grahadi, Rabu 15 Mei 2019.

Yongki merupakan teman Aloysius Bayu Rendra Wardhana yang meregang nyawa karena menghadang dua terduga teroris di pintu gerbang. "Waktu dua teroris naik sepeda motor nyelonong, mau masuk gereja dengan nyelonong. Teman saya bernama Bayu langsung menghadang," kisah Yongki.

Ketika itu, Yongki berada tidak jauh dari Bayu. Tak terbesit di benaknya kalau dua orang pengendara motor itu membawa bom. Tiba-tiba saja, kata dia, setelah dihentikan Bayu ada suara ledakan. "Kayak sampean dikagetin, puji tuhan saya tidak apa-apa. Mas bayu sudah tidak berkutik. Saya luka lubang di tangan dan kaki saya patah," ungkapnya.

HEROIK. Ipda Ahmad Nurhadi, salah satu korban bom Gereja Santa Maria Tak Bercela pasca menerima santunan dari Pemprov Jatim di Gedung Negara Grahadi, Rabu 15 Mei 2019. Foto: Baehaqi Almutoif

Lain Yongki, lain pula Ipda Akhmad Nur Hadi. Polisi yang ketika itu bertugas melakukan penjagaan harus kehilangan penglihatannya. Kakinya yang remuk membuatnya belum busa kembali berjalan normal.

Polisi yang saat ini masih menjalani perawatan itu harus menggunakan kursi roda ketika diundang ke Gedung Negara Grahadi. "Belum bisa karena kaki tulangnya belum menyatu. Sementara masih rehabilitas," kata Akhmad.

Polisi berpangkat balok satu itu mengisahkan, saat kejadian, dirinya bertugas melakukan pengamanan gereja. Ketika kejadian, kondisi jemaat sepi, karena ada peralihan dari sesi satu ke sesi dua.

BACA JUGA: Upaya Korban Bom Mapolrestabes Surabaya Menghapus Kecemasan dan Trauma

Akhmad pun masuk di pos jaga, dan duduk bersama para pemuda gereja. Dirinya menyaksikan langsung ketika dua lelaki mengendarai motor nyelonong masuk.

Padahal etika tidak tertulis jemaat, ketika melewati gerbang gereja, mesin harus dimatikan dan kendaraan harus dituntun. Setelah berusaha dihentikan, tiba-tiba ledakan terjadi. Ia tidak tahu selanjutnya seperti apa.

"Ini kejadian yang luar biasa bagi warga surabaya, namun bagi saya, warga Surabaya tetap harus semangat dan tidak boleh takut. Harapannya mudah-mudahan di Surabaya yang pertama dan terakhir kali, sungguh luar biasa," kata Akhmad.

Baca Juga

loading...