Upaya Korban Bom Mapolrestabes Surabaya Menghapus Kecemasan dan Trauma

Khoirotul Lathifiyah

Selasa, 14 Mei 2019 - 11:23

SELASA, 14 Mei 2019, sekitar pukul 09.30 WIB, Kantor Humas Pemkot Surabaya menunjukkan aktivitas seperti biasa. Sejumlah pegawai serius mengerjakan tugas di mejanya. Ada pula pegawai yang mondar-mandir sambil membawa berkas.

Begitu juga dengan Staf Humas Pemkot Surabaya, Raden Ardi Ramadhan (25) terlihat mentransfer foto di depan komputernya.  Dia menyambut ramah saat Jatimnet.com dan sejumlah jurnalis bertamu ke ruangannya.

Alumnus STIKOM Surabaya itu membenarkan saat beberapa media menanyakan dia adalah salah satu korban bom Mapolrestabes Surabaya, Senin 14 Mei 2018.

“Iya benar, saya salah satu korban bom,” kata Ardhi. Sejurus kemudian dia mengajak ke ruang press conference yang lebih luas untuk wawancara.

Mengenakan kemeja warna krem, dia menceritakan awal ledakan terjadi. Saat itu polisi menahan mobil yang dikemudikan orang tuanya di gerbang mapolrestabes untuk dilakukan pengecekan. Dia masih ingat ada satu provost di sebelah kiri, dan tiga polisi lainnya di sebelah kanan.

“Pas waktu ditanya-tanya, ada motor sebelah kiri menerobos masuk. Saat itu motornya tengah ditahan polisi, tapi selang beberapa detik, ledakan terjadi,” kata pria asal Gubeng Surabaya.

BACA JUGA: Sejumlah Elemen Lintas Agama Kenang Tragedi Bom Surabaya

Dia melihat sebelah kiri ada empat mayat yang terkena ledakan bom, dan satu anak kecil berdiri sempoyongan. Pada saat itu ayahnya mengemudikan mobil, ia duduk di depan-kiri, sedangkan ibunya di belakang-kanan, dan adiknya di belakang-kiri.

Karena posisi dia dan adiknya di sebelah kiri, keduanya mendapatkan luka paling banyak. Dan yang cukup parah adalah adiknya. Sebab ledakan terjadi ada di sebelah kiri mobilnya.

“Kami tidak berteriak saat ledakan. Kami hanya menunduk dan terdiam. Setelah itu kami semua berlari masuk ke mapolrestabes,” katanya.

Saat berlari, Ardi tidak merasa terluka. Tapi belum sempat masuk ke dalam, dia melihat adiknya terjatuh dan kakinya banyak mengeluarkan darah.

SIBUK. Raden Ardi Ramadhan melakukan aktivitas sehari-hari sebagai Staf Humas Pemkot Surbaya saat dijumpai di ruang kerjanya, Selasa 14 Mei 2019. Foto: Khoirotul Lathifiyah.

Dari ledakan bom itu menancapkan serpihan kaca di bagian kepala belakang dan lehernya. Begitu juga dengan adiknya. Bedanya, di kaki adiknya tertancap plat sedalam 10 cm, luka di pinggul dan juga leher.

“Waktu itu kaca sebelah kiri dan depan mobil kami pecah semuanya. Adik saya yang paling ketakutan. Saat itu usianya masih 17 tahun,” kata Ardi.

Setelah berlari ke dalam, ia sempat diwawancarai untuk memastikan kedatangannya ke Mapolrestabes. Sebetulnya kedatangannya untuk memenuhi persyaratan laporan tantenya ke Polrestabes Surabaya.

Setelah usai, keluarganya dan keluarga pelaku dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara. Sepanjang perawatan di RS Bhayangkara, keluarga dan anak pelaku pengeboman dijaga ketat.

BACA JUGA: Lepas Sambut Kapolrestabes Surabaya, Risma Teringat Insiden Bom Gereja

“Selama seminggu ayah, ibu, dan adik saya di RS untuk penyembuhan dan menghilangkan trauma,” katanya.

Selain itu, keluarganya juga sudah mendengar kabar sejumlah gereja di Surabaya dibom. Namun keluarganya tidak menduga aksi serupa menyerang Mapolrestabes Surabaya.

Dia juga mengingat, seluruh motor harusnya parkir di halaman samping. Tapi anehnya pelaku memaksa masuk ke halaman utama, dan selang beberapa detik bom meledak.

Hingga saat ini Ardi dan keluarganya masih trauma dan terkadang was-was jika mengenang pelaku. Tapi ia berusaha menepis dan berpikir positif bahwa tidak akan terjadi hal serupa. “Adik saya yang masih teringat dan trauma banget," katanya

Senin 14 Mei 2018 tidak akan dilupakan Ardi. Dia adalah korban ledakan Mapolrestabes Surabaya. Pasca tragedi tersebut, dia direkrut Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini menjadi bagian Staf Humas Pemkot Surabaya.

Baca Juga

loading...