Logo

Sampah di Madiun Meningkat, Didominasi Kertas 

Warga Lakukan Daur Ulang dan Disalurkan ke Koperasi
Reporter:,Editor:

Jumat, 24 September 2021 10:20 UTC

Sampah di Madiun Meningkat, Didominasi Kertas 

MASIH LONGGAR. Sepertiga lahan TPA Kaliabu di Desa Kaliabu, Kec. Mejayan, Kabupaten Madiun masih kosong. Foto: Nd. Nugroho

JATIMNET.COM, Madiun – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Madiun mencatat peningkatan jumlah sampah yang masuk ke Tempat Penampungan Akhir (TPA) Kaliabu selama masa pandemi Covid-19.

Selama 1,5 tahun ini rata-rata sampah yang ditampung sebanyak 40-50 ton per hari.

Kepala DLH Kabupaten Madiun Edy Bintardjo mengatakan bahwa 10 hingga 15 persen dari total sampah itu berjenis plastik. Mayoritas berupa bungkus makanan maupun minuman.

Ia menyatakan sampah di TPA Kaliabu itu masih didominasi jenis kertas dan daun. Jumlahnya sekitar 70 persen dari total limbah yang mayoritas berasal dari permukiman warga.

BACA JUGA: DPRD Jatim Ingin Pengolahan Sampah Jadi Energi Listrik Lebih Diperbanyak

"Bungkus (makanan) dari daun masih mudah dicari di sini, maka sampah plastik tidak meningkat terlalu banyak. Berbeda dengan di kota besar," ujar Edy, Jumat, 24 September 2021.

Namun demikian, proses pemilahan sampah tetap dilakukan warga di TPA. Mereka mengumpulkan sampah plastik maupun kertas kemudian dikirim ke koperasi selaku pihak penampung.

Dari koperasi didistribusikan ke DLH dan dijual ke perusahaan pengolahan sampah di Mojokerto. "Untuk didaur ulang (menjadi bahan dasar industri)" ucap dia.

Potensi ekonomi ini kian dikembangkan di Madiun. Pihak DLH memotivasi kelompok masyarakat yang melakukan daur ulang sampah melalui proses reuse, reduce, dan recyle sampah. Upaya ini dilakukan dan berkolaborasi dengan pemerintah desa yang telah diiberi kewenangan dalam pengelolaan sampah.

BACA JUGA: Berangkat Bawa Sampah, Pulang Saldo Tabungan Bertambah

Salah satunya pengadaan sarana dan prasarana tempat pembuangan sampah sementara dengan menggunakan APBDes. Dari situ, dapat dilakukan proses pemilahan untuk dapat didaur ulang.

Metode ini bertujuan mengurangi jumlah sampah yang masuk ke TPA. Potensi kelebihan kapasitas pun bisa diperlambat. "Prediksi saya, TPA akan overload pada 2025 dan ini mundur dua tahun dari perkiraan sebelumnya, 2023," Edy menjelaskan.

Prediksi itu bukan tanpa alasan. Menurut dia, saat ini sepertiga lahan TPA masih kosong dan dapat menampung sampah dalam jumlah banyak. Adapun luas TPA yang digunakan khusus menampung sampah adalah satu hektare. Ini dari total lahan secara keselurahan termasuk untuk pengelolaannya.