Logo

Dugaan Keracunan MBG di Mojokerto, Anggota DPRD Jatim Minta Evaluasi Total SPPG

Reporter:,Editor:

Senin, 12 January 2026 00:30 UTC

Dugaan Keracunan MBG di Mojokerto, Anggota DPRD Jatim Minta Evaluasi Total SPPG

Anggota Komisi A DPRD Jatim Sumardi (memegang mikrofon). Foto: Januar.

JATIMNET.COM, Mojokerto – Kasus dugaan keracunan akibat hidangan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Mojokerto mendapat sorotan dari anggota Komisi A DPRD Jawa Timur (Jatim) Sumardi.

Legislator dari Partai Golkar itu menegaskan pentingnya evaluasi menyeluruh terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) agar kejadian serupa tidak terulang.

Evaluasi tersebut meliputi pemilihan bahan baku, pengolahan, pengemasan, hingga pendistribusian makanan dari dapur SPPG ke satuan pendidikan penerima.

“Perlu dilakukan evaluasi secara menyeluruh terhadap proses  di SPPG. Mulai dari alur masak hingga kandungan nutrisi dalam menu tersebut,” ujar politikus yang akrab disapa Cak Sumardi, Minggu, 11 Januari 2026.

“Masalah kesehatan anak-anak adalah prioritas yang tidak boleh dianggap sepele,” lanjutnya saat meninjau korban keracunan yang tengah dirawat di fasilitas kesehatan.

BACA: Korban Dugaan Keracunan MBG di Mojokerto Bertambah, 112 Anak Masih Dirawat

Kasus dugaan keracunan di Kabupaten Mojokerto dialami 261 penerima manfaat, Jumat, 9 Januari 2026. Mereka mengalami gangguan kesehatan, seperti pusing, mual, muntah, dan diare usai mengonsumsi menu soto ayam yang disuplai dari SPPG Yayasan Bina Bangsa Semarang 03 di Kecamatan Kutorejo.

Selain kualitas bahan makanan, Sumardi juga menyoroti aspek teknis seperti jeda waktu antara proses memasak dan penyajian.

Menurutnya, ketidaktepatan durasi penyimpanan dan perubahan suhu berpotensi memicu pertumbuhan bakteri maupun perubahan kandungan kimia makanan.

“Perlu ditinjau kembali penerapan standar operational prosedur (SOP) yang seharusnya sudah diatur dalam regulasi teknis memasak, termasuk antisipasi perubahan rasa dan kandungan makanan yang diproduksi secara massal,” urainya.

BACA: Tim Gabungan Selidiki Dugaan Keracunan MBG di Ponpes Mahad An Nur Mojokerto

Ia juga meminta pihak eksekutif melakukan investigasi guna menemukan benang merah kasus dugaan keracunan massal tersebut. Hal ini termasuk kemungkinan adanya kelalaian dalam pelaksanaan di lapangan.

Sumardi menegaskan, program MBG memiliki tujuan mulia untuk meningkatkan kualitas gizi generasi penerus. Oleh sebab itu, investigasi yang tuntas dinilai mutlak diperlukan agar kesalahan teknis tidak mencederai visi besar program pemerintah tersebut.

“Jangan sampai program yang tujuannya sangat baik ini terhambat oleh kebijakan atau pelaksanaan yang tidak tepat. Jika ditemukan kesalahan fatal, harus ada langkah hukum dan administratif agar kejadian ini menjadi pelajaran bersama,” pungkasnya.