Logo

Rupiah akan Menuju Rp19.000, Alarm Baru bagi Industri dan Fiskal

Tekanan kurs tidak hanya menguji pasar keuangan, tetapi juga biaya produksi dan anggaran negara.
Reporter:,Editor:

Minggu, 07 June 2026 04:30 UTC

Rupiah akan Menuju Rp19.000, Alarm Baru bagi Industri dan Fiskal

Rupiah tertekan, bayang-bayang Rp19.000 per Dolar menguat (Dx Gen-AI)

JATIMNET.COM, Surabaya – Ancaman pelemahan nilai tukar rupiah menuju level Rp19.000 per dolar Amerika Serikat mulai memunculkan kekhawatiran yang lebih luas daripada sekadar gejolak pasar keuangan.

 

Di tengah penguatan dolar AS dan ketidakpastian ekonomi global, tekanan kurs berpotensi merembet ke biaya impor bahan baku industri, harga barang konsumsi, hingga beban pembayaran kewajiban pemerintah yang terkait valuta asing.

 

Peringatan tersebut muncul setelah rupiah dalam beberapa hari terakhir bergerak di atas level Rp18.000 per dolar AS.  Sejumlah pengamat menilai tekanan terhadap mata uang domestik masih berpeluang berlanjut sepanjang Juni 2026 apabila sentimen global belum menunjukkan perbaikan.

 

Kemudian, arus modal asing belum kembali masuk secara signifikan ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi di Jakarta, Kamis (4/6/2026), memperkirakan pelemahan rupiah masih berpotensi berlanjut.

 

“Saat ini rupiah sudah di atas Rp18.000. Di bulan Juni ini kemungkinan rupiah di Rp19.000 per dolar AS,” ujarnya.

 

Proyeksi tersebut muncul ketika pasar global masih dibayangi ketidakpastian arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat serta meningkatnya preferensi investor terhadap aset-aset berdenominasi dolar.

 

Kondisi itu menyebabkan tekanan tidak hanya dirasakan Indonesia, tetapi juga sejumlah mata uang negara berkembang lainnya.

 

Meski demikian, persoalan yang dihadapi Indonesia dinilai lebih kompleks dibanding sekadar dampak penguatan dolar AS.  

 

Pelemahan rupiah yang berlangsung dalam periode cukup panjang mulai memunculkan pertanyaan mengenai kemampuan ekonomi domestik dalam menarik kembali aliran investasi asing serta menjaga pasokan devisa yang memadai.

 

Presiden Direktur PT Doo Financial Futures Ariston Tjendra saat dihubungi menilai kondisi tersebut bukan fenomena baru.

 

“Rapuhnya rupiah ini bukan peristiwa baru. Pemerintah sebelumnya mencoba mengatasi dengan memperbanyak suplai dollar di tanah air seperti surplus neraca perdagangan dan program penyimpanan DHE di dalam negeri,” katanya, Kamis, 4 Juni 2026.

 

Pernyataan itu menunjukkan bahwa pelemahan rupiah saat ini bukan hanya dipengaruhi sentimen jangka pendek.

 

Namun, juga berkaitan dengan struktur kebutuhan devisa nasional yang masih tinggi. Ketika permintaan dolar meningkat sementara pasokan terbatas, tekanan terhadap nilai tukar menjadi lebih sulit dikendalikan.

 

Bagi Jawa Timur, kondisi tersebut memiliki implikasi yang cukup strategis. Provinsi ini merupakan salah satu pusat industri manufaktur nasional yang masih mengandalkan impor berbagai bahan baku dan barang modal.

 

Pelemahan rupiah dapat meningkatkan biaya produksi sektor makanan dan minuman, petrokimia, farmasi, elektronik hingga industri pengolahan lainnya yang beroperasi di kawasan industri Surabaya, Gresik, Sidoarjo dan Pasuruan.

 

Di sisi lain, eksportir memang berpotensi memperoleh keuntungan dari kurs yang lebih tinggi.  Namun, manfaat tersebut tidak selalu otomatis dirasakan karena banyak perusahaan ekspor juga masih menggunakan komponen bahan baku impor dalam proses produksinya.

 

Akibatnya, kenaikan penerimaan devisa dapat tergerus oleh meningkatnya biaya produksi. Tekanan kurs juga berpotensi memengaruhi inflasi melalui kenaikan harga barang impor.

 

Apabila pelemahan berlangsung dalam waktu lama. Dampaknya dapat merambat ke harga kebutuhan masyarakat dan mengurangi daya beli rumah tangga yang selama ini menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional.

 

Pemerintah berupaya menenangkan pasar dengan menegaskan bahwa kondisi tersebut masih berada dalam skenario mitigasi risiko yang telah diperhitungkan.

 

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa di Jakarta pada awal Juni 2026 menjelaskan bahwa pelemahan rupiah memang dapat meningkatkan nilai kewajiban yang dihitung dalam mata uang domestik.

 

“Kuponnya sih constant. Cuman pada waktu rupiah melemah, ya, meningkat kan dalam rupiah pembayarannya,” ujarnya.

 

Pernyataan itu mengindikasikan bahwa pelemahan kurs memiliki konsekuensi fiskal yang nyata.  Meskipun kewajiban utang dalam valuta asing tidak berubah, nilai pembayarannya dalam rupiah menjadi lebih besar sehingga dapat menambah tekanan terhadap pengelolaan anggaran negara.

 

Dalam jangka pendek, perhatian pasar akan tertuju pada langkah Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar serta kemampuan pemerintah mempertahankan kepercayaan investor.

 

Penguatan fundamental ekonomi domestik, peningkatan investasi, serta masuknya devisa hasil ekspor menjadi faktor penting untuk mengurangi tekanan terhadap rupiah.

 

Hingga Minggu, 7 Juni 2026, belum ada indikasi bahwa tekanan global akan mereda dalam waktu dekat.  Karena itu, pergerakan rupiah dalam beberapa pekan ke depan tidak hanya menjadi indikator kesehatan pasar keuangan.

 

Namun, juga akan menjadi ujian terhadap ketahanan sektor industri, daya beli masyarakat, dan ruang fiskal pemerintah dalam menghadapi gejolak ekonomi global yang semakin kompleks.