Senin, 24 August 2026 01:00 UTC

Ilustrasi: Lari Jadi Pertemanan. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Running club belakangan semakin mudah ditemui di kota-kota besar. Pagi yang dulu identik dengan pelari sendirian kini punya pemandangan lain: sekelompok orang berkumpul, pemanasan sebentar, berlari bersama, lalu mencari sarapan atau kopi.
Surabaya punya ruang yang cocok untuk kebiasaan semacam itu. Jalan perkotaan yang mulai hidup sejak pagi, kawasan dengan trotoar lebar, hingga ruang terbuka memberi pengalaman berbeda dibanding berlari sendirian di treadmill.
Ada unsur kebugaran di sana, tentu saja. Namun pertumbuhan komunitas lari juga membawa perubahan yang lebih sederhana: olahraga mulai menjadi agenda sosial.
Ketika Lari Punya Alasan untuk Bertemu
Data Strava memberi gambaran cukup jelas mengenai perubahan tersebut. Dalam laporan Year in Sport 2024, partisipasi dalam klub lari secara global meningkat 59 persen. Di Indonesia, kenaikannya bahkan mencapai 83 persen.
Angka itu berasal dari aktivitas pengguna platform Strava, sehingga tidak bisa dianggap mewakili seluruh penduduk Indonesia. Meski begitu, pertumbuhannya menangkap fenomena yang sekarang mudah terlihat di banyak kota: orang ingin berolahraga bersama. Ada alasan praktis di baliknya.
Berlari sendirian membutuhkan motivasi yang datang dari diri sendiri. Dalam kelompok, keputusan untuk bangun pagi terasa sedikit lebih mudah ketika jadwal sudah dibuat dan teman-teman kemungkinan datang.
Strava juga menemukan 58 persen responden global dalam survei Year in Sport 2024 mendapatkan teman baru melalui kelompok olahraga. Fungsi komunitas akhirnya meluas. Orang datang untuk berlari, tetapi percakapan setelah latihan sering menjadi alasan mereka kembali minggu berikutnya.
Di kota seperti Surabaya, pola tersebut terasa masuk akal. Selepas lari pagi, aktivitas bisa berlanjut dengan sarapan, mengobrol di kedai, atau sekadar duduk sebentar sebelum pulang. Olahraga masuk ke rutinitas akhir pekan tanpa harus terasa seperti program latihan yang kaku.
Running Club Bukan Berarti Harus Selalu Berlari Kencang
Salah satu kekeliruan yang mudah muncul ketika melihat komunitas lari di media sosial adalah menganggap semua anggotanya pelari cepat. Foto rombongan dengan sepatu lari, jam olahraga, dan catatan pace memang bisa memberi kesan serius. Padahal kebutuhan fisik setiap orang berbeda.
World Health Organization (WHO) merekomendasikan orang dewasa melakukan 150–300 menit aktivitas aerobik intensitas sedang per minggu. Alternatifnya adalah 75–150 menit aktivitas aerobik intensitas berat, atau kombinasi keduanya.
WHO memasukkan lari sebagai salah satu contoh aktivitas berintensitas berat. Aktivitas penguatan otot juga direkomendasikan setidaknya dua hari dalam seminggu.
Rekomendasi tersebut lebih berguna sebagai kerangka kesehatan dibanding target untuk berlomba dengan teman. Pelari yang baru mulai tetap perlu menyesuaikan jarak, kecepatan, frekuensi latihan, riwayat kesehatan, dan kemampuan tubuh.
Dalam sebuah running club, perbedaan kemampuan justru menjadi hal yang perlu diperhatikan. Seseorang yang nyaman berlari lima kilometer belum tentu siap mengikuti kecepatan anggota yang rutin berlatih untuk lomba 10 kilometer. Obrolan masih bisa sama serunya meski pace berbeda.
Media Sosial Membuat Lari Terlihat Lebih Sosial
Budaya lari hari ini sulit dipisahkan dari ponsel. Rute direkam, jarak dihitung, detak jantung dipantau, lalu aktivitas terkadang berakhir di Instagram, TikTok, atau aplikasi kebugaran. Sisi digital itu ikut membuat running club lebih mudah ditemukan.
Seseorang tidak perlu mengenal anggota komunitas terlebih dahulu. Jadwal lari dapat ditemukan melalui unggahan media sosial, kemudian orang datang ke titik kumpul dan berkenalan di sana.
Data Strava 2024 mencatat hal lain yang cukup menarik. Secara global, rata-rata jarak pada aktivitas lari, bersepeda, dan hiking bersama kelompok lebih dari 10 orang tercatat 40 persen lebih panjang dibanding aktivitas solo. Untuk pengguna di Indonesia, perbedaannya mencapai 95 persen.
Sekali lagi, data platform tersebut sebaiknya tidak dibaca sebagai rumus bahwa berolahraga beramai-ramai otomatis membuat seseorang dua kali lebih bugar. Yang terlihat justru efek praktis dari kebersamaan: orang dapat bertahan lebih lama ketika aktivitas terasa menyenangkan Namun media sosial membawa tekanan jenis lain.
Melihat teman mengunggah personal best setiap minggu bisa mendorong seseorang mengejar pace yang sebenarnya belum sesuai kemampuan. Catatan lima kilometer milik orang lain kemudian terasa seperti standar yang harus disamai.
Padahal jam tangan dan aplikasi hanya mencatat latihan. Tubuh tetap menentukan batasnya.
Tubuh Tetap Lebih Penting daripada Pace
Besarnya kebutuhan untuk membuat aktivitas fisik terasa mudah diakses terlihat dari data kesehatan global. WHO melaporkan sekitar 31 persen orang dewasa dunia atau sekitar 1,8 miliar orang pada 2022 belum memenuhi rekomendasi aktivitas fisik.
Proporsi tersebut naik sekitar lima poin persentase dibanding 2010. Bila tren berlanjut, WHO memproyeksikan tingkat ketidakaktifan fisik orang dewasa dapat mencapai 35 persen pada 2030.
Konsekuensinya bukan perkara kecil. WHO menyebut orang yang kurang aktif memiliki risiko kematian 20–30 persen lebih tinggi dibanding mereka yang cukup aktif secara fisik.
Di titik ini, running club punya nilai yang cukup konkret. Komunitas dapat menurunkan salah satu hambatan paling umum dalam olahraga: rasa malas memulai sendirian.
Tetapi komunitas yang sehat juga memberi ruang untuk berjalan ketika lelah, mengambil rute pendek, atau melewatkan sesi karena tubuh membutuhkan istirahat. Kebugaran tidak dibangun dari satu pagi ketika seseorang memaksakan diri mengikuti rombongan tercepat.
Untuk pemula, bergabung dengan kelompok yang menyediakan pembagian pace atau kelompok kecepatan akan terasa lebih ramah. Pemanasan, pendinginan, hidrasi, serta sepatu yang nyaman juga lebih berguna dibanding terburu-buru mengejar perlengkapan yang sedang populer.
Orang dengan kondisi kesehatan tertentu atau keluhan saat berolahraga tentu membutuhkan pertimbangan berbeda dan sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
Dari Jalan Surabaya, Kebiasaan Itu Bisa Bertahan
Pagi Surabaya memiliki tantangannya sendiri. Udara dapat cepat terasa hangat setelah matahari meninggi, sementara jalan mulai dipenuhi kendaraan dan aktivitas warga. Memilih waktu, rute yang aman, serta memperhatikan hidrasi menjadi bagian dari pengalaman berlari di kota.
Running club kemudian menawarkan sesuatu yang cukup cocok dengan kehidupan perkotaan: jadwal yang jelas dan teman untuk bergerak.
Tidak setiap pertemuan harus menghasilkan personal best. Ada hari ketika lima kilometer terasa ringan, ada pula pagi ketika tubuh lebih nyaman berlari pelan. Setelahnya, orang tetap bisa duduk bersama sambil membicarakan hal yang sama sekali tidak berhubungan dengan olahraga.
Mungkin itu pula yang membuat running club punya peluang bertahan lebih lama daripada tren fitness yang datang dan pergi. Aktivitas fisiknya nyata, tetapi alasan seseorang kembali bisa jauh lebih manusiawi. Kadang target minggu depan bukan memperbaiki pace.
Cukup datang lagi.
