Ratusan ODGJ di Jatim Masih Terpasung

Nani Mashita

Selasa, 27 November 2018 - 08:25

JATIMNET.COM, Surabaya – Jumlah kasus pasung di Jawa Timur cenderung menurun di tahun 2018. Masih munculnya kasus pasung disebabkan antara lain karena kesalahan pendekatan yang dilakukan masyarakat dalam menangani orang dengan gangguan jiwa (ODGJ).

Kepala Dinas Kesehatan Jawa Timur dr. Kohar Hari Santoso mengatakan, saat awal pencanangan program di tahun 2014, tercatat ada 2.500 hingga 3000-an kasus. Angka ini turun menjadi 200-an kasus saja hingga November 2018. Paling banyak ditemukan di Kabupaten Ponorogo dan Madura.

“Sekarang sudah turun signifikan dibandingkan saat pertama kali program ini dicanangkan, karena kita bekerja intens dan lintas sektor,” ujarnya saat ditemui di ruangannya, Senin 26 November 2018.

Kohar mengatakan kerjasama lintas sektoral ini antara dinas kesehatan, dinas pendidikan, kecamatan dan desa maupun instansi lain. Selain itu, saat ini Pemprov Jatim menerapkan penanganan kasus pasung berbasis masyarakat, bukan berbasis rumah sakit lagi.

“Jadi masyarakat kita libatkan terus agar ODGJ tidak dipasung dan beri informasi kepada masyarakat soal penanganan ODGJ,” katanya.

Dia tidak membantah masih ada pendekatan yang salah dalam penanganan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) yaitu dengan dipasung. Yang memprihatinkan ada ODGJ yang dipasung hingga puluhan tahun. Dia mengaku pernah menemukan kasus pasung terjadi setelah ODGJ itu marah tidak dibelikan motor.

“Jadi saya pernah ketemu kasus pasung hanya karena si anak marah-marah tidak dibelikan motor oleh orang tuanya. Lalu oleh orang tuanya langsung dipasung. Ya jangan begitulah,” pintanya.

Lebih lanjut, ia meminta agar masyarakat tidak terus menstigmatisasi ODGJ. Apalagi banyak kasus ODGJ bisa sembuh asalkan dirawat dengan teratur. “Kesembuhannya juga tergantung dari kondisi kejiwaannya,” katanya.

BACA JUGA: Dinkes Sumenep Kirim Tenaga Medis Ke Pulau Sapudi

Di Jatim banyak bukti bahwa mantan ODGJ bisa produktif lagi dan bekerja seperti orang normal pada umumnya, bahkan memiliki karya seni. Hal ini terbukti dalam Jambore Kesehatan Jiwa yang diikuti oleh mantan ODGJ.  Di jambore yang sudah diselenggarakan ketiga kalinya ini, ditampilkan berbagai karya baik seperti karya seni, bermain musik dan sebagainya.

“Jadi saya berharap masyarakat mau menerima ODGJ yang sudah sembuh dan stigma ODGJ itu tidak ditempel terus,” katanya.

Baca Juga

loading...