Senin, 14 September 2026 11:30 UTC

: Suasana pers rilis di Pondok Modern Darussalam Gontor yang dihadiri oleh Juru Bicara Panitia 100 Tahun PMDG, Dr. Riza Azhar (kiri), Ketua Panitia Peringatan 100 Tahun PMDG, Prof. Dr. K.H. Khoirul Umam (tengah). Foto: Satria
JATIMNET.COM, Ponorogo - Beberapa tokoh nasional dijadwalkan hadir dalam puncak peringatan 100 tahun Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) di Ponorogo, Sabtu, 19 September 2026.
Mereka antara lain Presiden RI Prabowo Subianto, Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla, dan K.H. Ma'ruf Amin.
Juru Bicara Panitia 100 Tahun PMDG, Dr. Riza Azhari, mengatakan kehadiran para tokoh tersebut menjadi bagian dari hubungan silaturahmi Gontor dengan pemerintah Indonesia.
"Merupakan suatu kesyukuran bagi kita dari masa ke masa, Pondok Modern Darussalam Gontor sejak Presiden pertama sampai hari ini selalu disinggahi dan dihadiri oleh Kepala Negara di tengah-tengah kita," kata Riza dalam konferensi pers di Menara Gontor, Ponorogo, Senin, 14 September 2026.
Selain tokoh nasional, 15 duta besar negara sahabat dan 8.776 tamu undangan VVIP-VIP juga dijadwalkan hadir.
Pada puncak peringatan tersebut, Gontor juga akan meluncurkan Mushaf Al-Qur'an Gontor yang ditulis santri dan para guru.
Ketua Panitia Peringatan 100 Tahun PMDG, Prof. Dr. K.H. Khoirul Umam, mengatakan penulisan mushaf dimulai sejak 2023 dan kini telah rampung serta melewati tahap tashih.
"Alhamdulillah, salah satu legasi yang akan kita saksikan bersama pada momentum 19 September mendatang adalah Mushaf Al-Qur'an Gontor. Proyek ini betul-betul dimulai sejak tahun 2023 dan berlangsung selama hampir tiga tahun," katanya.
Sementara itu, puluhan ribu alumni dari berbagai daerah dan negara mulai berdatangan ke Gontor. Sebagian menempuh perjalanan jauh menggunakan sepeda motor hingga sepeda.
Ketua Panitia Reuni Akbar 100 Tahun PMDG, Ustadz Dr. Ahmad Suharto, mengatakan kedatangan alumni tersebut menunjukkan kuatnya ikatan alumni dengan Gontor.
“Gelombang kedatangan alumni yang menempuh jalur darat dengan motor maupun sepeda ini merupakan wujud kecintaan mereka untuk kembali meresapi ulang (recharge) nilai-nilai pendidikan Islam dan menyatukan langkah menatap abad kedua Gontor," ujarnya.
