Selasa, 08 September 2026 07:00 UTC

Siswa yang menjadi peserta School Lab Farming yang dikembangkan PT Petrokimia Gresik. Foto: Komkor PG.
JATIMNET.COM, Gresik – Siswa SMK Negeri 1 Kademangan, Blitar, berhasil memanen 800 kilogram bawang merah kering dari lahan seluas 1.000 meter persegi.
Hasil tersebut meningkat lebih dari lima kali lipat dibanding musim sebelumnya yang hanya menghasilkan sekitar 150 kilogram dari lahan yang sama.
Hasil panen itu diperoleh melalui penerapan teknologi pertanian presisi dalam program School Lab Farming yang dikembangkan PT Petrokimia Gresik bersama tiga SMK pertanian di Jawa Timur.
Selain bawang merah, siswa juga membudidayakan melon menggunakan greenhouse. Melon yang dihasilkan memiliki tingkat kemanisan hingga 15 derajat Brix.
Program serupa diterapkan di SMK Negeri 8 Jember dan SMK Muhammadiyah 5 Gresik. Budidaya melon di dua sekolah tersebut menghasilkan buah dengan bobot 1,2 hingga 2 kilogram dan tingkat kemanisan minimal 15 derajat Brix.
Direktur Utama Petrokimia Gresik, Daconi Khotob, mengatakan penerapan teknologi membuat siswa tidak hanya belajar teknik budidaya, tetapi juga memahami pengelolaan pertanian berbasis data.
“Pertanian saat ini sudah berkembang jauh. Dengan dukungan teknologi smart farming, siswa tidak hanya belajar bercocok tanam, tetapi juga memahami bagaimana pertanian dikelola secara modern dan memiliki prospek usaha,” ujar Daconi, Selasa, 8 September 2026..
Sebanyak 261 siswa dari tiga SMK tersebut terlibat dalam program. Mereka mengelola lahan sekolah sekaligus mencatat perkembangan tanaman, kondisi media tanam, kebutuhan pupuk, hingga hasil produksi.
Data tersebut digunakan siswa untuk menganalisis kondisi tanaman dan menentukan langkah budidaya. Dengan cara itu, proses belajar tidak berhenti pada praktik menanam, tetapi juga mencakup pengambilan keputusan berdasarkan kondisi lahan dan tanaman.
Daconi mengatakan pengalaman mengelola lahan secara langsung dapat mengubah pandangan siswa terhadap sektor pertanian.
“Ketika siswa melihat sendiri lahan yang mereka kelola mampu menghasilkan produk berkualitas dan memiliki nilai jual, mereka mendapatkan perspektif baru tentang pertanian,” katanya.
Selain bawang merah dan melon, ketiga sekolah juga mengembangkan komoditas lain seperti buncis dan kembang kol melalui sistem rotasi tanam.
Kepala SMK Negeri 1 Kademangan, Hadi Sucipto, mengatakan program tersebut memberi kesempatan kepada siswa untuk merasakan langsung penerapan teknologi dalam proses budidaya.
“Dengan pengalaman ini, siswa tidak hanya memahami teknik budidaya, tetapi juga teknologi dan peluang usaha di sektor pertanian,” ujarnya.
School Lab Farming merupakan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Petrokimia Gresik dengan pendekatan Creating Shared Value (CSV).
Program tersebut merupakan tindak lanjut kompetisi HARVESTION 2025 yang sebelumnya melibatkan 33 SMK pertanian dari 15 kabupaten/kota di Jawa Timur.
