Senin, 07 September 2026 11:30 UTC

Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak saat memberikan sambutan kuliah umum di hadapan mahasiswa Unusa, Senin, 7 September 2026. Foto: Humas Unusa.
JATIMNET.COM, Surabaya – Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak meminta mahasiswa tidak menjadikan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) sebagai pengganti kemampuan berpikir.
Menurutnya, perkembangan AI harus dimanfaatkan mahasiswa sebagai alat untuk memperluas pengetahuan dan kemampuan, bukan membuat mereka bergantung pada teknologi.
Pesan tersebut disampaikan Emil saat memberikan kuliah perdana dalam rangka pengukuhan mahasiswa baru Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa), Senin, 7 September 2026.
“Gunakan AI untuk memperluas pikiran, bukan menggantikan pikiran,” katanya.
Emil mengatakan perkembangan AI, otomasi, dan transformasi digital akan semakin memengaruhi dunia pendidikan maupun pekerjaan. Kondisi tersebut membuat mahasiswa perlu memiliki kemampuan beradaptasi dengan perubahan teknologi.
Namun, menurut dia, kemampuan menggunakan teknologi harus tetap diimbangi dengan daya pikir manusia.
Mahasiswa perlu mampu menilai informasi, mengembangkan gagasan, mengambil keputusan, serta memahami dampak dari teknologi yang digunakan.
“Gelar akademik tetap penting, tetapi kemampuan untuk terus belajar dan beradaptasi akan semakin menentukan perjalanan seseorang,” ujarnya.
Emil juga mengingatkan bahwa perubahan dunia kerja tidak hanya berkaitan dengan munculnya teknologi baru.
Persoalan ekonomi, dinamika sosial, perubahan iklim, energi, pangan, dan kesehatan juga akan memengaruhi jenis pekerjaan serta kompetensi yang dibutuhkan.
Ia mengutip World Economic Forum Future of Jobs Report 2025 yang memperkirakan sekitar 22 persen pekerjaan mengalami disrupsi hingga 2030.
Karena itu, mahasiswa diminta tidak berhenti belajar setelah memperoleh gelar akademik. Kemampuan berpikir kritis, kreativitas, fleksibilitas, kolaborasi, kepemimpinan, dan kemauan belajar akan menjadi bekal penting menghadapi perubahan.
Emil menilai AI tetap dapat menjadi bagian penting dalam proses tersebut selama digunakan secara bijak. “Jangan sampai teknologi yang seharusnya membantu kita justru membuat kita berhenti berpikir,” katanya.
