Jumat, 04 September 2026 22:21 UTC

Pelaksanaan Monitoring dan Evaluasi Riset Dokar 2026. Foto: Dok Humas UB
JATIMNET.COM, Malang – Kemudahan yang ditawarkan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) membuat teknologi ini semakin dekat dengan kehidupan mahasiswa. AI dapat membantu mencari informasi, memahami materi kuliah, hingga mendukung penyelesaian tugas akademik.
Namun, kemudahan tersebut juga menyimpan persoalan. Tidak semua mahasiswa memiliki kemampuan digital dan akses teknologi yang sama. Di sisi lain, penggunaan AI tanpa pemahaman yang memadai dapat memunculkan persoalan baru, mulai dari etika akademik, keakuratan informasi, perlindungan data pribadi, hingga ketergantungan terhadap teknologi.
Persoalan tersebut menjadi perhatian tim peneliti Universitas Brawijaya (UB) melalui Program Dosen Berkarya Tahun 2026. Tim yang diketuai Prof. Dr. Wuryan Andayani, CA., CSRS., CSRA. mengembangkan penelitian berjudul “Model Adopsi Kecerdasan Artifisial yang Inklusif dan Etis bagi Mahasiswa Perguruan Tinggi: Peran Literasi Digital, Pengaruh Sosial, dan Kesenjangan Digital.”
Wuryan menjelaskan, penelitian tersebut tidak semata-mata melihat seberapa banyak mahasiswa menggunakan AI. Tim justru mengkaji faktor yang membentuk keputusan mahasiswa dalam mengadopsi teknologi tersebut, sekaligus mencari pendekatan agar penggunaannya tetap inklusif dan beretika.
Menurut dia, mahasiswa perlu memiliki kesempatan yang relatif setara untuk memanfaatkan AI. Namun, pemanfaatan teknologi tersebut tetap harus berjalan beriringan dengan tanggung jawab akademik, integritas, keamanan data, dan nilai-nilai etika.
Tim kemudian mengidentifikasi tiga aspek utama yang dinilai berpengaruh terhadap adopsi AI di lingkungan perguruan tinggi, yakni literasi digital, pengaruh sosial, dan kesenjangan digital.
Dr. Rosila Bee Binti Mohd Hussain dari Universiti Malaya mengatakan literasi digital menjadi salah satu kunci penting dalam pemanfaatan AI. Kemampuan mahasiswa tidak cukup hanya sebatas mengoperasikan berbagai perangkat atau aplikasi berbasis AI.
Mahasiswa juga perlu memahami bagaimana memeriksa informasi yang dihasilkan AI, mengenali keterbatasan teknologi, menjaga data pribadi, serta mempertanggungjawabkan penggunaan hasil AI dalam kegiatan akademik.
Selain kemampuan individu, lingkungan sekitar mahasiswa turut membentuk pola penggunaan teknologi. Teman sebaya, dosen, perguruan tinggi, hingga budaya akademik dapat memengaruhi cara mahasiswa menerima dan memanfaatkan AI.
Rosila menjelaskan, faktor tersebut membuat adopsi AI tidak dapat dipandang hanya sebagai persoalan teknologi. Perguruan tinggi juga perlu melihat konteks sosial dan lingkungan akademik yang menyertai penggunaan AI.
Persoalan lain yang tidak kalah penting adalah kesenjangan digital. Perbedaan kepemilikan perangkat, kualitas koneksi internet, akses terhadap teknologi, hingga kemampuan digital dapat membuat pengalaman mahasiswa dalam menggunakan AI menjadi tidak sama.
Karena itu, penerapan AI di perguruan tinggi perlu mempertimbangkan kondisi tersebut agar teknologi yang seharusnya membantu proses pembelajaran tidak justru memperlebar kesenjangan pendidikan.
Rika Nur Widiastutik, S.Ak., M.Ak. menjelaskan bahwa kajian tersebut dikembangkan melalui kolaborasi internasional dengan Universiti Malaya. Kerja sama tersebut melibatkan Dr. Rosila Bee Binti Mohd Hussain dalam sejumlah tahapan penelitian.
Kolaborasi mencakup pembahasan pelaksanaan penelitian, pengolahan dan analisis data, penyusunan artikel ilmiah, hingga proses review dan penyempurnaan naskah.
Menurut Rika, keterlibatan mitra dari Universiti Malaya memberikan perspektif yang lebih luas dalam melihat fenomena penggunaan AI di lingkungan pendidikan tinggi. Kerja sama tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya UB memperkuat jejaring akademik internasional.
Perkembangan penelitian itu kemudian dipaparkan dalam Monitoring dan Evaluasi (Monev) Program Dosen Berkarya Tahun 2026 yang digelar di FIB (Fakultas Ilmu Budaya) Gedung A Lantai 2, Senin, 31 Agustus 2026.
Dalam forum tersebut, tim menyampaikan perkembangan penelitian, pembagian peran anggota, dokumen pendukung, perkembangan laporan, serta bukti kolaborasi dengan mitra internasional.
Dari rangkaian penelitian tersebut, tim telah mencatat capaian penting. Artikel berjudul “Bridging the Artificial Intelligence Divide in Higher Education: Digital Literacy, Social Influence, and Ethical AI Adoption among University Students” telah diterima pada jurnal internasional bereputasi yang terindeks Scopus Q4.
Wuryan menyebut capaian publikasi tersebut memperlihatkan bahwa persoalan kesenjangan digital dan penggunaan AI secara etis memiliki relevansi yang kuat dalam perkembangan pendidikan tinggi.
Artikel itu sekaligus menyoroti kebutuhan perguruan tinggi untuk menyiapkan mahasiswa menghadapi perkembangan AI. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi masukan dalam penyusunan pedoman penggunaan AI, penguatan literasi digital, peningkatan integritas akademik, serta penyediaan dukungan bagi mahasiswa yang memiliki keterbatasan akses teknologi.
Bagi Rika, hasil penelitian tersebut tidak berhenti pada capaian publikasi. Tim masih memiliki sejumlah tahapan yang harus diselesaikan setelah pelaksanaan monev.
Tahapan tersebut meliputi penyelesaian laporan akhir dan laporan keuangan, penguatan dokumen kerja sama, pemutakhiran data serta dokumen kegiatan pada portal SISTER, dan penyusunan laporan luaran hasil kolaborasi.
Penelitian ini juga memiliki keterkaitan dengan agenda Sustainable Development Goals (SDGs). Wuryan menjelaskan, kajian tersebut mendukung SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas melalui upaya mendorong pemanfaatan AI dalam pembelajaran.
Perhatian terhadap kesenjangan akses dan kemampuan digital mahasiswa juga berkaitan dengan SDG 10 tentang Berkurangnya Kesenjangan. Sementara kolaborasi antara UB dan Universiti Malaya menjadi bagian dari kontribusi terhadap SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.
Rosila menilai kolaborasi lintas negara menjadi bagian penting dalam pengembangan penelitian karena isu AI di pendidikan tinggi tidak hanya dihadapi satu negara. Perubahan teknologi berlangsung cepat dan membutuhkan pertukaran pengetahuan serta pengalaman antarperguruan tinggi.
Melalui Program Dosen Berkarya, UB tidak hanya mendorong peningkatan produktivitas penelitian dan publikasi internasional. Program tersebut juga membuka ruang untuk memperluas kerja sama akademik dengan perguruan tinggi di negara lain.
Penelitian tentang adopsi AI ini pada akhirnya menempatkan teknologi bukan sekadar sebagai alat bantu pembelajaran. Tim peneliti UB juga menekankan pentingnya memastikan teknologi tersebut dapat diakses secara lebih adil, digunakan secara bertanggung jawab, dan tetap berada dalam koridor etika akademik.
