Rabu, 02 September 2026 07:50 UTC

Dosen dan mahasiswa FK Unusa memeriksa kesehatan dari santri Ponpes Sunan Drajat, Lamongan, Rabu, 2 September 2026. Foto: Januar
JATIMNET.COM, Surabaya – Fakultas Kedokteran Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (FK Unusa) mengajak para santri Pondok Pesantren Sunan Drajat, Lamongan, lebih peduli terhadap kesehatan sejak usia remaja.
Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat, FK Unusa memberikan edukasi mengenai Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) sekaligus pencegahan cedera tulang belakang melalui penerapan postur tubuh yang ergonomis dan aktivitas fisik yang aman.
Sebanyak 50 santri dan santriwati mengikuti kegiatan bertema Edukasi PHBS dan Pencegahan Cedera Tulang Belakang melalui Postur Ergonomi dan Aktivitas Fisik Aman pada Santri di PP. Sunan Drajat Lamongan tersebut. Ustaz, ustazah, dan pengurus pesantren turut mendampingi kegiatan.
Ketua kegiatan, yang juga dosen Fakultas Kedokteran Unusa, dr. Nurlisa Naila Aulia, Sp.N, menjelaskan bahwa edukasi kesehatan perlu diberikan sejak dini. Menurutnya, kebiasaan sehari-hari yang terlihat sederhana, seperti cara duduk, dapat memengaruhi kondisi tubuh jika dilakukan dengan posisi yang keliru dalam waktu lama.
“Kesalahan postur jika tidak diedukasi dan terjadi dalam jangka waktu yang lama tentunya akan berdampak buruk dan memengaruhi mobilisasi kita sehari-hari,” ujarnya, Rabu, 2 September 2026.
BACA:
Dr. Nurlisa menilai masa remaja menjadi waktu yang tepat untuk membangun kebiasaan hidup sehat. Aktivitas belajar di lingkungan pesantren juga membuat santri berpotensi menghabiskan cukup banyak waktu dalam posisi duduk.
Karena itu, ia berharap edukasi tersebut tidak berhenti pada peserta kegiatan. Pengetahuan yang diperoleh santri diharapkan turut diterapkan dan dibagikan kepada penghuni serta pengurus pesantren lainnya.
“Diharapkan edukasi ini tidak hanya berdampak pada santri dan santriwati saja, tetapi juga seluruh penghuni dan pengurus pondok pesantren,” katanya.
Santri Diajarkan Kebiasaan Hidup Bersih dan Sehat
Tim FK Unusa juga mengingatkan para santri mengenai berbagai penerapan PHBS di lingkungan pesantren. Materi mencakup kebiasaan mencuci tangan, menjaga kebersihan lingkungan, menggunakan fasilitas sanitasi dengan benar, serta memastikan kebersihan makanan dan minuman.
“PHBS bukan hanya tentang kebersihan diri, tetapi juga bagaimana kebiasaan tersebut dapat menciptakan lingkungan pesantren yang lebih sehat,” kata dr. Nurlisa.
Selain menjaga kebersihan, tim memberikan pemahaman mengenai kesehatan tulang belakang. Para santri mempelajari fungsi tulang belakang serta cara mempertahankan postur tubuh yang ergonomis ketika duduk maupun berdiri.
Tim FK Unusa juga mengenalkan sejumlah keluhan yang perlu mendapat perhatian, antara lain nyeri punggung, tubuh terasa kaku, kesemutan, dan mudah lelah setelah duduk dalam waktu lama.
“Santri perlu memahami bahwa kebiasaan sederhana seperti memperbaiki posisi duduk dan memberikan kesempatan tubuh untuk bergerak dapat menjadi bagian dari upaya mencegah cedera,” ujarnya.
Santri Praktik Postur Tubuh yang Benar
FK Unusa menyampaikan materi secara interaktif melalui presentasi, leaflet, diskusi, dan tanya jawab. Metode tersebut memungkinkan peserta tidak hanya menerima penjelasan, tetapi juga memahami penerapannya dalam aktivitas sehari-hari.
Peserta kemudian mempraktikkan posisi duduk dan berdiri yang benar. Praktik tersebut membantu santri mengenali perbedaan antara postur tubuh yang kurang tepat dan posisi ergonomis.
“Praktik secara langsung membantu peserta tidak hanya mengetahui teori, tetapi juga merasakan dan memahami bagaimana posisi tubuh yang lebih baik,” ujar dr. Nurlisa.
Tim FK Unusa juga mengukur pemahaman peserta melalui pre-test dan post-test. Hasil evaluasi menunjukkan tingkat pengetahuan peserta sudah sangat baik. Nilai rata-rata pre-test mencapai 99 dan meningkat menjadi 100 setelah peserta mengikuti edukasi.
Setelah sesi edukasi, kegiatan berlanjut dengan pemeriksaan kesehatan gratis bagi penghuni pesantren. Pemeriksaan mencakup penimbangan berat badan, pengukuran tinggi badan, pemeriksaan tekanan darah, konsultasi kesehatan, hingga pemberian obat sesuai kebutuhan berdasarkan hasil konsultasi.
FK Unusa berharap kegiatan tersebut dapat memperkuat hubungan antara institusi pendidikan kedokteran dan lingkungan pesantren. Edukasi juga diharapkan mendorong santri menerapkan kebiasaan hidup sehat dalam aktivitas sehari-hari.
“Menjaga kesehatan bukan hanya dilakukan ketika sakit, tetapi juga melalui kebiasaan baik yang dibangun sebelum masalah kesehatan muncul. Menjaga tubuh merupakan bagian dari upaya menjaga amanah,” ujar dr. Nurlisa.
