Logo

Pemprov Jatim Dorong Pesantren Jadi Pusat Riset, LPPD Siapkan 125 Periset

Reporter:,Editor:

Kamis, 10 September 2026 07:08 UTC

Pemprov Jatim Dorong Pesantren Jadi Pusat Riset, LPPD Siapkan 125 Periset

Pemprov Jatim bersama Lembaga Pengembangan Pendidikan Diniyah (LPPD) meluncurkan Pusat Riset Pesantren Jatim di Islamic Center, Kamis, 10 September 2026. Foto: Januar

JATIMNET.COM, Surabaya – Pemerintah Provinsi Jawa Timur mendorong pesantren memperluas perannya dari lembaga pendidikan keagamaan menjadi pusat riset dan pengembangan keilmuan. Pemerintah menguatkan langkah tersebut melalui program beasiswa dan riset yang dikelola Lembaga Pengembangan Pendidikan Diniyah (LPPD) Jawa Timur.

Ketua LPPD Jawa Timur Prof. Dr. KH. Abd. Halim Soebahar mengatakan Jawa Timur memiliki modal besar untuk mengembangkan pendidikan tinggi berbasis pesantren. Tradisi keilmuan pesantren serta potensi kajian Islam yang berkembang di wilayah ini menjadi alasan penguatan tersebut perlu dilakukan.

"Jawa Timur itu memang memiliki kelebihan dibanding perguruan tinggi berbasis pesantren yang ada di Indonesia. Oleh karena itu, memang sangat wajar kalau Ibu Gubernur itu memberikan perhatian khusus terhadap sumber input dari pengembangan perguruan tinggi ini," kata Abd. Halim, Kamis, 10 September 2026.

Menurut Halim, LPPD menjalankan penguatan pendidikan tinggi pesantren melalui program beasiswa yang menjangkau mahasiswa dari 64 perguruan tinggi di Jawa Timur. Program tersebut mencakup berbagai jenjang pendidikan, mulai sarjana, magister, doktor, hingga program khusus mahasantri Marhalah Ula dan Marhalah Tsaniyah.

"Beasiswa LPPD yang kita hadirkan pada hari ini adalah hasil seleksi dari 64 perguruan tinggi yang ada di Jawa Timur, baik itu untuk program sarjana, program magister, maupun program doktor," ujarnya.

Ia menyebut program Marhalah Ula dan Marhalah Tsaniyah juga memperlihatkan kuatnya tradisi pendidikan pesantren di Jawa Timur. Kedua program tersebut menggunakan kurikulum berbasis kitab kuning.

"Untuk Marhalah Ula di Indonesia itu ada 90-an, di pesantren khusus Jawa Timur itu ada 40. Kemudian yang Marhalah Tsaniyah, di Indonesia itu hanya ada empat; satu di Aceh, tiga itu ada di Jawa Timur," katanya.

LPPD kemudian mengarahkan potensi tersebut tidak hanya untuk meningkatkan akses pendidikan tinggi. Lembaga itu juga mendorong mahasiswa menghasilkan penelitian dan karya ilmiah yang dapat memperkaya khazanah kajian pesantren.

Salah satu langkah yang ditempuh yakni mendorong pembentukan pusat riset pesantren. Abd. Halim mengatakan program tersebut mulai menghasilkan karya dari mahasiswa penerima beasiswa pada berbagai jenjang, termasuk mereka yang menjalani pendidikan di Mesir.

"Dari mahasiswa yang mendapatkan beasiswa, baik S1, S2 yang ada di Mesir, M2 dari Ma'had Aly, maupun program S3, itu ternyata sudah menghasilkan produk yang sangat luar biasa. Produk-produk yang dipublikasi menjadi lebih 40 buku, itu adalah hasil riset mereka," ujarnya.

Pada semester ini, LPPD menargetkan 125 periset pesantren dari Jawa Timur menyelesaikan riset mereka. Sementara itu, mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan di Mesir ditargetkan menerbitkan 30 buku hasil kajian terhadap 150 kitab.

"Target kami dari Indonesia, khusus Jawa Timur, itu nanti akan melepas 125 periset pesantren. Kemudian yang Mesir itu akan mempublikasi 30 buku, yang 30 buku itu merupakan review dari 150 kitab," katanya.

Abd. Halim menjelaskan kajian terhadap 150 kitab tersebut tidak berhenti sebagai bahan publikasi. LPPD menyiapkannya sebagai referensi primer yang dapat digunakan mahasiswa untuk menyusun tesis.

Dengan pola tersebut, proses riset diharapkan sekaligus membantu mahasiswa menyelesaikan studi tepat waktu. Mahasiswa juga mendapat pengalaman dalam melakukan kajian dan menyusun karya ilmiah.

"150 kitab itu untuk apa? Itu untuk menjadi referensi primer bahan penulisan tesis mereka. Jadi, mereka memang dilatih untuk itu agar supaya mereka nanti bisa selesai tepat waktu," katanya.

Khusus mahasiswa yang menempuh pendidikan di Mesir, LPPD juga menyiapkan pelatihan metodologi penelitian di Kairo. Program tersebut menjadi bagian dari penguatan kemampuan riset mahasiswa, mengingat pendidikan sarjana di Mesir dinilai belum memberikan porsi khusus untuk penulisan karya ilmiah dan metodologi penelitian.

"Kalau pusat risetnya, khusus tesis itu di Mesir. Jadi, semua mereka itu ada di Mesir. Kami nanti membawa beberapa tim ahli ke Mesir agar supaya memberikan training selama empat hari di Kairo," kata Abd. Halim.

Melalui program beasiswa dan penguatan riset tersebut, LPPD Jawa Timur berharap ekosistem penelitian berbasis pesantren terus berkembang. Karya yang dihasilkan para periset diharapkan dapat menjadi referensi bagi pengembangan pendidikan dan kajian pesantren di Indonesia.