Logo

BPBD - DPRD Jatim Ajak Siswa Jombang Jadi Generasi Siaga Bencana

Reporter:,Editor:

Rabu, 09 September 2026 07:00 UTC

BPBD - DPRD Jatim Ajak Siswa Jombang Jadi Generasi Siaga Bencana

Anggota DPRD Jatim Sumardi foto bareng petugas BPBD Jatim, kepala SMAN Bareng di sela edukasi kebencanaan yang diikuti pelajar di Jombang, Rabu, 9 September 2026. Foto: Karina

JATIMNET.COM, Jombang – Sungai yang berada tepat di belakang lingkungan SMAN Bareng, Kabupaten Jombang, menjadi potensi risiko yang tak bisa diabaikan.

Area belakang sekolah hingga masjid berbatasan langsung dengan sungai dan sebagian tebingnya bahkan pernah mengalami longsor.

Kondisi tersebut membuat pemahaman kebencanaan penting bagi siswa. Mereka perlu mengetahui titik-titik rawan di lingkungan sekolah serta memahami apa yang harus dilakukan jika terjadi longsor, luapan sungai, maupun kondisi darurat lainnya.

Edukasi itu diberikan melalui kegiatan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) yang digelar di SMAN Bareng, Rabu, 9 September 2026.

Kegiatan yang merupakan sinergi BPBD Provinsi Jawa Timur dan DPRD Jawa Timur tersebut melibatkan mentor serta relawan kebencanaan.

Kepala SMAN Bareng, Anik Noerachini, mengatakan kedekatan sekolah dengan sungai menjadi salah satu alasan edukasi kebencanaan penting diberikan kepada siswa.

“Ini sangat penting bagi anak-anak karena mereka bisa mengetahui kondisi lingkungan sekolahnya dan bagaimana harus bersikap ketika terjadi bencana,” ujar Anik.

Menurutnya, area tebing di belakang sekolah sebelumnya pernah mengalami longsor. Sebagai langkah antisipasi, pihak terkait telah memasang bronjong untuk memperkuat tebing dan mencegah longsor meluas.

Meski sudah diperkuat, risiko di sekitar sungai tetap perlu dikenali. Siswa diharapkan tidak hanya mengetahui area yang berpotensi membahayakan, tetapi juga memahami jalur dan tindakan penyelamatan ketika terjadi keadaan darurat.

Anggota DPRD Jatim Sumardi foto bersama siswa SMAN Bareng Jombang di sela edukasi kebencanaan, Rabu, 9 September 2026. Foto: Karina.

Anggota DPRD Jawa Timur, Sumardi, mengatakan pengalaman langsung bersama mentor dan relawan dapat menjadi bekal siswa menghadapi situasi darurat, baik di sekolah maupun di lingkungan tempat tinggal.

“Anak-anak mendapatkan kegiatan yang tidak biasa didapat di sekolah, apalagi didampingi mentor dari provinsi dan teman-teman relawan,” katanya.

Sumardi menilai edukasi kebencanaan tidak cukup berhenti pada teori. Siswa perlu belajar mengenali risiko di lingkungan terdekat agar mampu mengambil tindakan yang tepat ketika bencana terjadi.

Sementara itu, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kabupaten Jombang, Eko Redjo Sunariyanto, mengatakan setiap satuan pendidikan memiliki karakter dan potensi bencana yang berbeda. Karena itu, edukasi perlu disesuaikan dengan kondisi lingkungan masing-masing sekolah.

“Edukasi seperti ini pun diharapkan terus diperluas, termasuk ke pondok pesantren, karena setiap satuan pendidikan memiliki karakter dan potensi risiko yang berbeda,” ujarnya.

Dengan bekal tersebut, siswa diharapkan tidak hanya mampu melindungi diri ketika berada di sekolah. Namun, juga menjadi sumber informasi bagi keluarga dan lingkungan sekitar mengenai pentingnya mengenali risiko serta membangun kesiapsiagaan sejak sebelum bencana terjadi.