Logo

Produk Lokal Makin Dekat dengan Gaya Hidup Modern

Produk lokal tumbuh ketika kualitas, kemudahan, dan kedekatan dengan konsumen bertemu dalam keseharian.
Reporter:,Editor:

Rabu, 12 August 2026 00:00 UTC

Produk Lokal Makin Dekat dengan Gaya Hidup Modern

Ilustrasi: Bangga Produk Lokal. -Dx Gen-AI

JATIMNET.COM - Produk lokal Indonesia kini hadir dalam ruang yang jauh lebih luas. Di Surabaya, misalnya, barang buatan pelaku usaha lokal mudah dijumpai dari bazar komunitas, pusat perbelanjaan, media sosial, hingga etalase digital.

Perubahannya cukup terasa. Membeli produk lokal tak selalu berangkat dari semangat mendukung usaha dalam negeri. Konsumen juga mencari desain yang bagus, rasa yang cocok, pembayaran praktis, kemasan menarik, dan harga yang masuk akal.

Di tengah suasana Agustus dan perayaan kemerdekaan, kebanggaan terhadap produk Indonesia memang mudah mendapat panggung. Tantangan sebenarnya justru muncul setelah bendera merah putih dan dekorasi Agustusan kembali disimpan.

 

Produk Lokal Masuk ke Kebiasaan Belanja Harian

Perkembangan produk lokal berjalan beriringan dengan besarnya ekosistem usaha kecil di Indonesia. Kementerian UMKM mencatat UMKM berjumlah lebih dari 64 juta unit dan menyerap sekitar 97 persen tenaga kerja nasional.

Kontribusinya terhadap produk domestik bruto juga berada di kisaran 60 persen. Skala tersebut membuat produk lokal sulit dipisahkan dari aktivitas ekonomi sehari-hari, meskipun konsumen tidak selalu menyadari siapa yang memproduksi barang yang mereka beli.

Di Surabaya, bentuknya sangat dekat dengan keseharian. Ada sambal kemasan yang dibeli untuk stok di rumah, pakaian dari label independen, camilan untuk oleh-oleh, sampai kerajinan yang tampil semakin modern.

Pemerintah Kota Surabaya mencatat sepanjang 2025 terdapat 5.250 UMKM yang memperoleh berbagai intervensi. Bentuknya mencakup pelatihan pemasaran serta pendampingan legalitas produk, termasuk sertifikasi halal, pendaftaran merek, dan pengurusan Nomor Induk Berusaha.

Jumlah tersebut memang tidak menggambarkan seluruh pelaku usaha di Kota Pahlawan. Namun, ada hal penting di baliknya: persaingan produk lokal sekarang ikut ditentukan oleh kesiapan usaha, bukan semata kemampuan membuat barang.

 

Konsumen Bertemu Produk dari Layar Ponsel

Jarak antara produsen kecil dan pembeli berubah drastis setelah internet menjadi bagian rutin kehidupan masyarakat.

Survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia mencatat 221,56 juta pengguna internet pada 2024. Tingkat penetrasinya mencapai 79,5 persen dari populasi Indonesia yang menjadi basis survei.

Bagi merek lokal, pasar sebesar itu membuka pintu yang dahulu mahal. Produsen makanan rumahan di Surabaya, misalnya, tidak harus mempunyai gerai di kawasan komersial untuk memperkenalkan produknya. Foto yang rapi, katalog sederhana, percakapan melalui pesan instan, dan pengiriman antarkota sudah dapat membentuk jalur penjualan.

Data Badan Pusat Statistik memberi gambaran lebih rinci. Jumlah usaha e-commerce pada 2023 diperkirakan mencapai 3.816.750 usaha, naik 27,40 persen dibandingkan 2022 yang sekitar 2.995.986 usaha. Namun, digitalisasi usaha Indonesia punya karakter yang cukup khas.

BPS mencatat 95,33 persen usaha e-commerce menggunakan aplikasi pesan instan sebagai salah satu media penjualan pada 2023. Sebanyak 33,29 persen menggunakan media sosial, sedangkan yang memiliki akun penjualan melalui marketplace atau platform digital tercatat 17,80 persen.

Jadi, warung yang menerima pesanan lewat WhatsApp sebenarnya sudah menjadi bagian dari ekonomi digital. Begitu pula produsen kue yang mendapatkan pelanggan dari Instagram lalu menyelesaikan transaksi melalui percakapan pribadi.

Pola semacam ini sangat mudah ditemukan di kota besar seperti Surabaya. Digitalisasi berjalan tanpa selalu mengubah wajah usaha menjadi perusahaan teknologi.

 

Pembayaran Digital Mengubah Pengalaman Membeli

Ada satu benda kecil yang sekarang hampir biasa terlihat di meja kasir: kode QR. Bank Indonesia mencatat hingga April 2026, QRIS telah digunakan oleh 63 juta pengguna dan tersedia pada lebih dari 45 juta merchant. Mayoritas merchant tersebut merupakan UMKM.

Perkembangannya berlangsung cepat. Pada Semester I 2025, jumlah merchant QRIS masih tercatat 39,3 juta dengan 57 juta pengguna. Pada periode tersebut, 93,16 persen merchant QRIS merupakan UMKM, sementara transaksi mencapai 6,05 miliar dengan nilai Rp579 triliun.

Bagi konsumen, dampaknya terasa sederhana. Membeli kopi produksi lokal, makanan rumahan, atau aksesori dari stan bazar tak lagi bergantung pada uang tunai dan kembalian.

Kemudahan seperti ini sering luput ketika membicarakan daya saing produk lokal. Padahal pengalaman membeli ikut menentukan apakah konsumen mau kembali.

Produk yang bagus tetapi sulit dipesan, pembayaran merepotkan, atau respons penjual lambat bisa kehilangan pembeli. Konsumen perkotaan mempunyai banyak alternatif dan terbiasa bergerak cepat.

 

Label Lokal Kini Bersaing Lewat Pengalaman

Era ketika embel-embel “buatan lokal” sudah cukup menjadi nilai jual semakin jauh ditinggalkan.

Pembeli dapat membandingkan puluhan produk hanya dalam beberapa menit. Mereka melihat harga, desain, ulasan, kemasan, ongkos kirim, respons penjual, sampai bagaimana sebuah merek berkomunikasi di media sosial.

Itulah sebabnya beberapa produk lokal terasa semakin menyatu dengan gaya hidup modern. Identitas Indonesianya tetap ada, tetapi tampil melalui produk yang relevan dengan kebutuhan sekarang.

Produsen makanan bisa mempertahankan resep daerah sambil menggunakan kemasan praktis. Pengrajin dapat membawa motif tradisional ke benda rumah tangga kontemporer. Label pakaian lokal dapat memainkan warna dan potongan yang cocok dipakai bekerja maupun nongkrong.

Surabaya memberi lingkungan yang menarik untuk perkembangan semacam ini. Kota ini punya kultur perdagangan yang kuat, aktivitas kuliner yang hidup, banyak kawasan komersial, serta konsumen urban yang terbiasa bertemu tren baru.

Di bulan kemerdekaan, dekorasi merah putih mungkin membantu produk Indonesia lebih mudah terlihat. Namun, loyalitas konsumen tidak bisa bergantung pada momentum Agustus.

 

Bangga Lokal Tetap Harus Bertemu Kualitas

Ajakan membeli produk Indonesia memiliki nilai ekonomi yang jelas karena UMKM menyerap porsi sangat besar tenaga kerja nasional. Namun, keputusan konsumen tetap berlangsung di level yang sangat praktis.

Apakah produknya enak? Bahannya nyaman? Harganya sesuai? Pesanan datang tepat waktu? Penjual mudah dihubungi?

Pertanyaan sehari-hari seperti itulah yang akhirnya menentukan umur sebuah merek.

Pelaku produk lokal juga menghadapi pekerjaan rumah yang tidak ringan. Legalitas, konsistensi produksi, kualitas kemasan, layanan pelanggan, kemampuan membaca tren, serta pengelolaan kanal digital membutuhkan keterampilan berbeda dari sekadar membuat produk.

Kabar baiknya, hambatan untuk bertemu konsumen semakin rendah. Lebih dari 221 juta pengguna internet, jutaan usaha e-commerce, dan puluhan juta merchant QRIS membentuk pasar yang jauh lebih terkoneksi dibanding satu dekade lalu.

Di Surabaya, perubahan tersebut dapat terlihat tanpa perlu mencari jauh. Sebuah produk bisa dibuat dari dapur atau ruang produksi kecil, difoto pada pagi hari, ditawarkan lewat ponsel, dibayar dengan QRIS, lalu sore harinya sudah berada di tangan pelanggan.

Itulah wajah produk lokal Indonesia yang semakin dekat dengan gaya hidup modern. Kebanggaan nasional memberi alasan untuk melirik, tetapi kualitas dan pengalaman yang baik membuat orang membeli lagi.