PPDB Sistem Zonasi, Ponorogo Pakai GPS dan Google Maps

Gayuh Satria Wicaksono

Senin, 27 Mei 2019 - 16:36

JATIMNET.COM, Ponorogo – Pendaftaran Peserta Didik Baru (PPDB) di Ponorogo untuk tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya, yakni menggunakan sistem zonasi sejauh 5 kilometer dari sekolah.

Akibatnya pendaftar di SMPN 1 Ponorogo pada hari pertama sempat membludak sampai dengan 440 calon pendaftar.

Padahal pagu dari SMP N 1 Ponorogo sendiri hanya sebanyak 288 siswa, dengan alokasi 90 persen siswa dari sistem zonasi, dan 10 persen sisanya dari siswa berprestasi dan wali murid yang mutasi kerja masing-masin 5 persen.

“Hari ini mungkin hanya kekhawatiran para orang tua jika batas zona diambil sekolah, sehingga orang tua ingin mendapat nomor pendaftaran awal,” kata Kepala Sekolah SMP N 1 Ponorogo Yuli Dwi Astuti, Senin 27 Mei 2019.

BACA JUGA: Pembagian Zonasi Diserahkan ke Cabang Dinas dan MKKS

Yuli menerangkan, jika pihaknya melakukan langkah-langkah khusus terkait dengan sistem zonasi ini, seperti menggunkan GPS Visualizer untuk menentukan jarak rumah siswa dengan sekolah, sekaligus menggunakan Google Maps untuk melihat posisi rumah siswa.

Bahkan, para orang tua juga diwajibkan membuat surat pernyataan terkait dengan domisili serta wajib menyerahkan Kartu keluarga (KK) asli.

Hal ini untuk meminimalisir jika ada orang tua yang memasulkan domisili tempat tinggal agar bisa masuk ke sekolahnya.

“Kami benar-benar terbuka untuk sistem zonasi ini, dengan titik nol ada di SMP 1,” ujarnya.

BACA JUGA: Tak Dilibatkan Bahas Juknis PPDB, Wali Murid Ancam Aksi

Sementara itu, Ruskamto Kepala Sekolah SMPN 5 Ponorogo, khawatir akan ada banyak sekolah yang tidak bisa memenuhi pagunya, jika menggunakan sistem zonasi.

Pasalnya, terdapat enam sekolah negeri, dengan jumlah total siswa mencapai 1.600an.

“Padahal untuk siswa SD yang ada dikota ini saja hanya sekitar 1.318 siswa, bahkan saya pesimis jika itu semua murid yang masuk zonasi,” tuturnya.

Ia berharap, PPDB dengan sistem zonasi ini bisa dievaluasi kembali, menurutnya sistem zonasi hanya akan efektif diterapkan di kota-kota besar, serta jika semua sekolah memiliki sarana dan prasana  yang merata, antara sekolah yang ada di kota dan desa.

BACA JUGA: DPRD Kota Malang Minta Pagu PPDB Ditambah

“Beberapa orang tua kan tetap ingin menyekolahkan anaknya di sekolah favorit, kalau yang di desa hanya berharap menggunakan jalur prestasi jika ingin bersekolah di kota,” pungkasnya.

 

Baca Juga

loading...