Logo

Penyebab Keracunan MBG di Mojokerto Mengarah ke Telur Ayam Rebus

Reporter:,Editor:

Jumat, 16 January 2026 10:30 UTC

Penyebab Keracunan MBG di Mojokerto Mengarah ke Telur Ayam Rebus

Dapur SPPG Yayasan Bina Bangsa Semarang 03 yang berada di Desa Wonodadi, Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto. Foto: Hasan.

JATIMNET.COM, Mojokerto – Dugaan penyebab keracunan massal yang dialami ratusan siswa, santri, dan orang tua akibat hidangan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Mojokerto kian menguat.

Berdasarkan hasil pemeriksaan sampel menu MBG di laboratorium, penyebab keracunan mengarah pada telur ayam rebus sebagai pelengkap soto ayam.

Hidangan tersebut diproduksi dan didistribusikan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Bina Bangsa Semarang 3 Pondok Pesantren Al Hidayah, Dusun Rejeni, Desa Wonodadi, Kutorejo.

"Secara detail, saya tidak bisa sampaikan di sini karena saya bukan ahlinya. Tapi, secara garis besar hasil diskusi kami mengarah kepada dugaan sementara karena adanya pembelian telur matang," kata Komandan Kodim 0815 Mojokerto Letkol Inf Abi Swanjoyo, Kamis malam, 15 Januari 2026.

BACA: Jenguk Korban Keracunan MBG, Menteri HAM Minta Pemulihan Psikologis Beriringan dengan Medis

Ia menyampaikannya usai mengikuti rapat koordinasi bersama tim gabungan yang terdiri dari BPOM, Polres Mojokerto, sekretaris daerah, Dinas Kesehatan Kabupaten Mojokerto, perwakilan Badan Gizi Nasional (BGN), Labkesda Kabupaten Mojokerto, serta tim ahli gizi.

Berdasarkan hasil penelusuran tim investigasi, telur ayam rebus tersebut dibeli oleh SPPG Yayasan Bina Bangsa Semarang 03 dari pemasok atau pihak ketiga. Kemudian, digunakan sebagai salah satu komponen menu MBG berupa soto ayam.

Abi menjelaskan, telur ayam rebus tersebut dimasak oleh pihak ketiga pada Rabu malam, 7 Januari 2026. Namun, telur tersebut baru diantarkan ke dapur SPPG pada keesokan harinya atau Kamis sore.

"Lalu, Kamis sore baru diantar ke SPPG. Itulah dugaan sementara kami karena adanya rentang waktu antara Rabu malam sampai Kamis. Tadi, dijelaskan juga oleh tim ahli kesehatan," ujarnya.

BACA: Dugaan Keracunan MBG di Mojokerto, Anggota DPRD Jatim Minta Evaluasi Total SPPG

Rentang waktu distribusi itulah yang diduga memicu penurunan kualitas makanan hingga akhirnya berdampak pada kesehatan para penerima MBG. Puncaknya, ratusan siswa dan santri mengalami gejala keracunan secara massal pada Jumat malam.

Adapun gejala yang dialami para korban antara lain pusing, mual, muntah, demam, hingga diare. Saat ini, tim gabungan masih terus melakukan pendalaman dan menunggu hasil laboratorium lanjutan untuk memastikan penyebab pasti kejadian tersebut.