Logo

Peserta SPPI Meninggal Jadi Tiga, Kemhan Janji Evaluasi Latsarmil

Korban meninggal dalam pendidikan dasar kemiliteran SPPI bertambah menjadi tiga orang, Kemhan memperkuat pengawasan kesehatan peserta.
Reporter:,Editor:

Kamis, 25 June 2026 06:00 UTC

Peserta SPPI Meninggal Jadi Tiga, Kemhan Janji Evaluasi Latsarmil

Peserta latsarmil dari pengelola KDMP dan KNMP mengikuti upacara pembukaan diklat di lapangan Dirgantara AAU, Yogyakarta pada Rabu, 17 Juni 2026. Foto: Humas TNI AU.

JATIMNET.COM – Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) kembali menjadi sorotan setelah jumlah peserta yang meninggal dunia selama mengikuti latihan dasar kemiliteran (latsarmil) bertambah menjadi tiga orang.

 

Kementerian Pertahanan (Kemhan) memastikan akan melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan pendidikan untuk memperkuat aspek keselamatan dan pengawasan kesehatan peserta.

 

Korban terbaru adalah Novia Rahmadhani Sihotang, peserta calon pengelola Koperasi Nelayan Merah Putih (KNMP) yang mengikuti pendidikan di Satuan Pendidikan Pusat Bahasa Kodiklatau, Jakarta.

 

Novia sempat mengalami gangguan kesehatan saat mengikuti pelatihan pada Senin, 22 Juni 2026. Kemudian, dirawat di Rumah Sakit Angkatan Udara Dr. Esnawan Antariksa.

 

Namun, kondisinya terus menurun hingga dinyatakan meninggal dunia sehari kemudian. Berdasarkan hasil pemeriksaan medis, penyebab kematiannya berkaitan dengan penyakit tuberkulosis (TB).

 

Kepala Biro Informasi Pertahanan Sekretariat Jenderal Kemhan Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban sekaligus membenarkan kabar tersebut.

 

"Benar, Kementerian Pertahanan telah menerima laporan mengenai meninggalnya salah satu peserta Program SPPI KNMP Tahun 2026 atas nama Novia Rahmadhani Sihotang yang mengikuti pendidikan di Satdik Pusbahasa Kodiklatau Jakarta. Kemhan menyampaikan duka cita yang mendalam kepada keluarga almarhumah," ujar Rico Ricardo Sirait dalam keterangan tertulis di Jakarta, Rabu, 24 Juni 2026. 

 

Meninggalnya Novia menambah daftar peserta SPPI yang wafat selama menjalani latsarmil. Sebelumnya, Anisa Muyassaroh meninggal setelah mengalami heat stroke saat mengikuti pendidikan di Satdik Dodikjur Rindam VI/Mulawarman, Balikpapan.

 

Sementara Yonanda Muhammad Taufiq meninggal dunia setelah mengalami penurunan kondisi fisik ketika mengikuti pendidikan di Satdik Pusat Latihan Tempur Kodiklatad Baturaja.  Pemeriksaan medis menyatakan penyebab kematiannya adalah cardiac arrest atau henti jantung.

 

Kasus tersebut memunculkan perhatian terhadap pelaksanaan pendidikan dasar kemiliteran yang menjadi bagian dari pembentukan peserta SPPI.

 

Program ini disiapkan untuk mencetak sarjana penggerak pembangunan yang nantinya ditempatkan dalam berbagai program strategis pemerintah, termasuk pengelolaan Koperasi Desa Merah Putih dan Koperasi Nelayan Merah Putih.

 

Kemhan menegaskan seluruh peserta telah melalui pemeriksaan kesehatan sebelum mengikuti pendidikan. Peserta yang mengalami gangguan kesehatan selama pelatihan juga disebut memperoleh penanganan medis sesuai prosedur yang berlaku.

 

"Saat ini Kemhan bersama Panitia Seleksi Nasional dan penyelenggara pendidikan terus melakukan evaluasi dan penguatan pengawasan kesehatan peserta guna memastikan keselamatan dan kesehatan peserta tetap menjadi prioritas utama dalam pelaksanaan program," kata Rico Ricardo Sirait dalam keterangan yang sama di Jakarta, Rabu, 24 Juni 2026. 

 

Bertambahnya jumlah korban menjadi tiga orang diperkirakan akan mendorong evaluasi lebih menyeluruh terhadap pelaksanaan latsarmil, mulai dari proses seleksi kesehatan, intensitas latihan, hingga sistem pemantauan kondisi fisik peserta selama pendidikan berlangsung.

 

Langkah tersebut dinilai penting untuk memastikan tujuan membentuk sumber daya manusia yang tangguh tidak mengabaikan aspek keselamatan.

 

Peristiwa ini juga menjadi pengingat bahwa program pembangunan sumber daya manusia berskala nasional memerlukan standar keselamatan yang ketat.

 

Selain kualitas pembinaan, kesiapan medis, deteksi dini penyakit bawaan, serta respons cepat terhadap kondisi darurat menjadi faktor yang menentukan keberhasilan penyelenggaraan pendidikan.